HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!🐐
•••
Sembilan lintang kini tengah berkumpul di halaman depan rumah Arvin. Sebenarnya rumah Arvin paling jauh dari rumah-rumah anggota Sembilan Lintang yang lain. Tetapi, entah mengapa mereka malah lebih memilih berkumpul di rumah Arvin.
Di rumput-rumput mereka duduk bersama, sibuk dengan bilah-bilah bambu yang tadi sudah mereka ambil dari kebun milik orang tua Elard.
"Layangan ini mau gue bentuk mirip kelelawar," ucap Dery sambil mengangkat rakitan layangannya.
"Gue mau bentuk elang," ucap Buana ikut-ikutan.
"Kalau gitu gue mau bentuk nyamuk kayang," timpal Kean yang sedari tadi sudah mematahkan belasan bilah bambu. Tangan besarnya bisa dengan mudah menghancurkan benda-benda di sekitarnya.
Janu menatap ngeri Kean. Mungkin dia sudah mulai merasakan firasat buruk saat berdekatan dengan Kean si pemilik tubuh besar dan tinggi itu.
"Diem, gak usah pada ribut. Gue mau bentuk kecebong terbang," celetuk Janu.
"Shhh, jadi orang dewasa sedikit dong. Gue nih, bentuk bulan jatuh," timpal Galih ikut-ikutan.
"Yang waras dikit aja bisa, gak?" Arvin menahan tawanya. Berusaha terlihat tetap cool, karena ada Lecya yang sedang berkunjung ke rumahnya bersama dengan Tante Noye, Tante dari Lecya.
"Gimana mau waras? Yang mulai bentuk-bentuknya aja ketua kita," ujar Niel yang sedang memangku Mimi si hamster coklat dan Dungu si kucing oranye.
Beberapa meter dari manusia-manusia pecicilan itu, ada dua manusia yang sangat tenang dan tentram duduk di bawah pohon jambu yang belum terlalu tinggi.
Siapa lagi kalau bukan Elard dan Liam? Dua manusia dengan dunia diamnya masing-masing. Sibuk merakit layangan tanpa banyak omongan.
"Lo mau warna apa?" tanya Liam sambil melirik hasil pekerjaan Elard.
"Transparan."
"Hah? Jueeelekk!" cibir Liam yang terdengar kurang ajar dan sangat-sangat menjengkelkan.
"Berarti hidup gue jelek? Kan hidup gue gak pernah berwarna-warni kayak pelangi."
Terdiam, terbungkam, terkatup, tertutup rapat mulut Liam. Ya, salah sekali rasanya membully anak yang hidupnya hanya diselimuti kekayaan tanpa perhatian. Ups....
•••
Pintu rumah Arvin tiba-tiba terbanting begitu keras. Membuat semua anggota Sembilan Lintang menoleh melihat apa yang terjadi di sana.
Penglihatan mereka menyorot sebuah pemandangan mengerikan. Di mana dua wanita saling menjambak rambut masing-masing dan berteriak-teriak menyuarakan pendapat masing-masing. Berdebat versi gulat.
"Cukup! Bude! Tante! Cukup!!" Suara kecil Lecya hampir tak terdengar sebab terendam suara Noye dan Reta.
"Keponakanmu itu pembawa sial!" teriak Reta yang tengah menjambak rambut Noye sekaligus menepis-nepis tangan Lecya nan mencoba melerai dirinya dan Noye.
"Cocotmu bosok!" umpat Noye. "Anakmu yang genit ke Lecya. Coba kalau Arvin gak tebar-tebar pesona, pasti ponakanku gak akan suka sama dia!"
—mulutmu busuk!—
"Dih! Anakku memang ganteng, gak kaya ponakan jueeelekk mu!"
"Anakmu gantengnya terpaksa!"
Arvin berlari menghampiri dua wanita dari ras terkuat di bumi itu. Dia berteriak bersamaan dengan Lecya.
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Ficção Adolescente"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)