"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat.
♡? ♡? ♡?
"Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
Tidak. Tidak. Idiot itu hanya bercanda. Tidak mungkin akan lupa untuk bangun.
|Pikiran Arvin|
°•°•°
"Caily mana?" tanya Arvin yang baru beberapa detik lalu membuka matanya.
Membuka matanya, melihat berbagai alat terpasang di tubuhnya, mendengar suara monitor yang mendeteksi detak jantungnya. Ada lagi yang dia dapati, sembilan temannya sekarang disekelilingnya, babak belur wajah mereka semua. Semua. Tanpa terkecuali.
"Lo udah bangun?" cepat Niel bertanya. Otaknya nge-blank seketika melihat mata sahabatnya kembali terbuka setelah satu hari tidak terbuka.
Dia pikir, teman monyetnya itu sudah lupa caranya membuka mata.
"Ya udahlah. Kalau belum nggak mungkin matanya kebuka," sinis Janu dan Buana bersamaan. Mereka sensi sekali dengan Niel. Mereka babak belur pun, dimulai dari Niel penyebabnya.
Yang lain hanya menghela napas, mereka diam bukan karena tak bahagia, tapi karena merasakan nyeri di sekujur badan akibat kelakuan mereka sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kemarin, saat di pos keamanan. Mereka diberikan nasihat dan ditenangkan. Namun, tetap saja ada yang berdebat di antara mereka dan pada akhirnya berujung saling baku hantam.
Begitu saja terus-menerus hingga hampir satu jam mereka habiskan untuk mengulangi hal yang sama. Berdebat lalu berkelahi.
Hingga Galih merenung tiba-tiba mengucapkan suatu hadist yang membuat satu ruangan pos keamanan hening.
“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat.” Itulah yang dikatakan Galih.
Hadis Riwayat Bukhari No 2457, Muslim No 2668 tersebut bisa membuat mereka langsung menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Bahkan, anggota yang merupakan non-muslim pun ikut diam, karena yang mereka ambil adalah nilai positif dari kutipan tersebut bukan tentang, dari agama mana kutipan tersebut berasal.
Arvin yang masih sangat lemas pun berusaha membuka suara, walaupun suara seraknya tidak begitu didengar jelas karena alat oksigen yang terpasang di mulut dan hidungnya.
"Di mana Caily?" tanya Arvin kembali.
Mereka semua mengernyitkan dahi bersamaan, menatap Arvin dengan heran. Pikiran mereka agaknya sama.