HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO.
JEJAKNYA, JANGAN LUPA YA, SAYANG!!
••
|Tetap saja, Tuhan memberikan kekurangan untuk membuat makhluknya tetap ingat. Bahwa, tidak ada yang sempurna selain diri-Nya.|
—by Eka yang berusaha bersyukur pada Tuhannya—
°•°•°
Pukul 04:16 pagi hari. Udaranya cukup dingin dari biasanya, sepertinya bulir air dari langit akan menetes sebentar lagi. Sebab suara Guntur menggelegar sesekali terdengar di Indar pendengaran.
"Akhhh!" Geram Arvin. Cowok itu hendak melayangkan handphone-nya ke lantai, namun mengingat bahwa handphone-nya baru diservis, langsung dia urungkan niatnya itu. Akhirnya benda pipih tersebut mendarat mulus di kasur.
Tidak diinginkan, tapi inilah yang terjadi. Mata Arvin sudah berkaca-kaca, bulir-bulir air mata sudah hampir meluap dari kelopak matanya, mereka menuntut untuk jatuh.
Sungguh, sudah satu Minggu berlalu dan puluhan hingga ratusan pesan yang dia kirim ke nomor seorang gadis walaupun, pada akhirnya hanya dibaca saja.
Pernah sekali Arvin memberanikan diri untuk menelpon, dan hasilnya nomornya diblokir oleh Caily. Lagi-lagi gadis itu menghindar, entah apa alasannya.
"Ily, tolong balik, Ly." Bergetar juga serak suara Arvin, dia menatap satu foto gadis berseragam putih biru dengan rambutnya yang dikepang.
Arvin duduk di pinggir kasurnya, dia menunduk membenamkan wajahnya ke telapak tangannya. Menangislah dirinya di sana, sekuat tenaga menyembunyikan suara, tetap saja isak'kannya terlepas.
"Ily, bilang kalau kamu masih baik-baik aja. Bilang ke aku, kalau kamu masih sekolah, bilang kalau kamu belum jadi istri orang." Sungguh sesak dadanya, hingga Arvin pukul-pukul dengan tangannya sendiri.
Semua peristiwa itu berputar seperti kaset lama. Buruk dan gelap ingatan itu. Memori dimana Caily dikabarkan keluar dari sekolah, lalu pindah rumah. Itu membuat Arvin hancur. Kala itu, dia hanya memiliki Niel dan Caily sebagai temannya.
Itu sebabnya, kebahagiaannya sedikit bergantung pada dua orang itu.
Sayangnya saat itu dia hanya bocah remaja 12 tahun yang baru duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia tidak dalam posisi yang tepat untuk menjaga Caily, orang tua gadis itu saja sudah gagal mendidik putri mereka. Apa daya Arvin yang tidak memiliki hak atas Caily?
Kehilangan dan melepaskan adalah pilihan satu-satunya yang harus dia pilih.
"Kamu masih remaja. Se-rusak-rusaknya kamu, jangan jadi istri orang, dulu. Ily, kasih kabar ke aku, udah hampir tiga tahun kamu pergi, Caily." Arvin berbicara seolah gadis yang dia sebut-sebut itu ada di hadapannya, berbicara dengannya, dan sedang menatapnya. Padahal tidak sama sekali semua itu nyata.
Suara cuitan hewan kecil yang Arvin pelihara terdengar mendekat. Arvin tersenyum simpul melihat hamster berwarna cokelat kehitaman itu menghampirinya.
"Sini, Mimi!" panggilnya, dia menggerakkan jari tangannya, memanggil hewan kesayangannya itu.
Hamster itu melompat ke pangkuan Arvin, bergelayut manja ke baju kokonya.
"Mimi pernah tau rasa sayang yang berlebihan?" tanya Arvin yang mengusap-usap kepala hamsternya. "Tapi kalau dipikir-pikir nih, ya. Kehilangan teman dekat aja gue bisa gila gini. Kalau kehilangan orang tua, apa gue bisa hidup?" lanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Teen Fiction"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)