Pernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
Zainal duduk di kursi teras rumahnya, menikmati secangkir kopi dan satu bungkus roti yang entah sudah berapa lama ada di dapur, untung saja belum expired. Hari ini ada kelas pagi, jadi Zainal harus berangkat sebelum pukul 07.30.
Tiba-tiba, Zainal teringat seseorang. Ia berpikir keras, sudah berapa hari sejak terakhir kali bertemu dengan Sarah, padahal mereka tinggal serumah. Zainal mengecek motor Sarah di garasi, dan masih terparkir rapi di pojok sana, posisinya sama seperti tiga hari lalu.
Perasaan Zainal tidak enak. Zainal yang tadinya akan pergi ke kampus, kembali masuk ke rumah dan berlari ke lantai atas. Pada pijakan pertama anak tangga, langkah Zainal terhenti. Ia ingat janjinya tidak akan menginjakkan kaki ke lantai dua lagi, namun kali ini ia mengabaikan janjinya. Zainal segera mengambil langkah cepat sampai di depan pintu kamar Sarah, mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Tanpa ragu, Zainal masuk tanpa izin.
Di dalam kamar, Zainal melihat sosok Sarah yang terbaring di ranjang, tertutup selimut tebal. Dengan cepat, Zainal menghampirinya dan menggoyang-goyangkan tubuh Sarah. Beberapa kali ia memanggil, tetapi Sarah tetap tidak bergerak. Wajah Sarah terlihat sangat pucat.
"Sarah," panggil Zainal, semakin cemas.
"Sarah," ia memanggil sekali lagi.
"Sarah!" Suara Zainal mulai meninggi, sedikit gemetar.
Zainal segera menyingkap selimut yang membalut tubuh Sarah, lalu memapahnya. Satu-satunya pikiran yang ada di benaknya adalah rumah sakit dan bagaimana cara membawanya ke sana dengan cepat.
Sesampainya di mobil, Zainal baru menyadari bahwa Sarah tidak mengenakan hijab. Ia segera berlari kembali ke rumah untuk mengambil hijab Sarah. Setelah mencari beberapa saat, Zainal menemukannya tergantung di balik pintu kamar.
Dengan napas terengah-engah, Zainal akhirnya menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas yang padat membuatnya semakin kesal, tetapi Zainal terus mengemudi dengan penuh ketegangan.
Sesampainya di rumah sakit, Zainal parkir sembarangan, keluar dari mobil, dan berlari mencari bantuan perawat untuk menyiapkan brankar. Sarah segera dibawa ke ruang perawatan, sementara Zainal duduk di lantai rumah sakit, di depan ruangannya. Dua puluh menit kemudian, dokter keluar dengan wajah yang sulit dibaca.
"Mas, keluarga pasien sudah dihubungi?" tanya dokter.
"Saya suaminya, dok," jawab Zainal cepat.
"Jangan panik dulu, Mas," kata dokter, melihat ekspresi Zainal yang cemas. "Ayo, ikut ke ruang saya." Zainal mengikuti dokter ke ruangannya.
Di ruang rumah sakit, Sarah sudah sadar sejak siang tadi. Ia duduk di pinggir ranjang, menghadap jendela, menyaksikan lalu lintas di luar. Jujur, Sarah merasa sangat bosan. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan langit mulai gelap. Ia mengayunkan kakinya untuk mengusir kebosanan. Pelupuk matanya terasa berat, ia teringat pada Abi dan ingin sekali menghubunginya, namun Sarah tidak membawa ponsel.
Cklek. Pintu terbuka, dan sosok jangkung dengan setelan hoodie hitam dan jeans denim muncul.
"Zainal," gumam Sarah lemah.
Zainal melihat sekilas ke arah Sarah. "Ga usah nangis, gue bawa roti bakar," katanya, melihat wajah Sarah yang memerah menahan air mata. Zainal meletakkan kantong plastik hitam di atas meja samping tempat tidur, lalu duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Ruangan yang hanya ada satu meja kecil, satu kursi, dan satu tempat tidur. Bukan karena Zainal tidak mampu membayar ruangan yang lebih besar, tetapi karena ini satu-satunya yang tersisa saat itu.
"Gue kapan bisa pulang?" tanya Sarah.
"Kenapa, lu nggak nyaman dengan ruangannya?" tanya Zainal. "Gue bilang ke perawat biar bisa pindah ruangan."
Sarah segera menarik hoodie Zainal. "Ga perlu, gue nggak apa-apa di ruangan ini aja."
"Lu malam itu minum kopi berapa banyak?" Zainal bertanya, menginterogasi.
"Lupa," jawab Sarah, menunduk takut dengan tatapan Zainal.
"Tiga gelas, gue lihat di kamar lu."
"Mungkin," jawab Sarah, seolah sedang berpikir.
"Nantangin malaikat, udah bosen hidup lu, asam lambung minum kopi tiga gelas, keren," Zainal menggelengkan kepala, tidak habis pikir.
Diam-diam, sudut bibir Sarah tertarik ke atas, menghasilkan lengkungan tipis. "Lu khawatir sama gue kan? Tadi perawat bilang lu panik pas bawa gue ke sini."
"Coba lu pikir, kalo sampai lu mati, di rumah gue pasti semua orang bikin berita bahwa gue pembunuhnya. Gila, ya lu?" jawab Zainal.
Sarah tiba-tiba cemberut. Ternyata, Zainal tidak khawatir padanya, melainkan lebih takut jadi tersangka jika terjadi apa-apa padanya.
"Zainal," Sarah menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Ayo pisah." Sarah menatap Zainal dengan serius, menunggu jawabannya.
Zainal terdiam cukup lama, memperhatikan wajah Sarah yang penuh dengan keseriusan.
"Kalo lu keberatan mengajukan surat cerai, gue yang akan ajukan gugatan," kata Sarah dengan nada tidak terkendali.
Mungkin kemarin Sarah salah menganggap bahwa pernikahan tanpa cinta bukanlah masalah besar. Orang-orang sering bilang, cinta bisa tumbuh setelah akad, tapi Sarah merasa cinta tidak akan pernah tumbuh dalam pernikahannya kali ini.
Zainal tampak mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sarah, tanpa diduga.
"Soal Abi gue, nanti gue yang akan ngomong ke dia. Dan keluarga lu, gue pastikan setuju dengan keputusan gue, kalau mereka tahu ternyata lu tidak bahagia dengan gue," kata Zainal pelan.
"Sarah," Zainal menggelengkan kepala, tidak percaya dengan ucapan Sarah.
"Maafin gue. Kemarin gue pikir lu nggak keberatan dengan pernikahan ini. Tolong, jangan bebani hidup lu dengan hadirnya gue dalam kehidupan lu yang sudah damai. Secepatnya gue bakal ajukan surat permohonan gugatan, mungkin minggu depan," Sarah melanjutkan.
"Jika lu tetap kekeh dengan keputusan lu, banyak pihak yang akan kecewa. Abi, keluarga gue, Bude lu, dan semuanya," Zainal bersuara.
"Kita terlalu mementingkan perasaan orang lain, padahal gue dan lu yang menjalani tidak baik-baik saja," kata Sarah, sambil menepuk bahu Zainal. "Lu perlu bahagia dengan cewek itu."
Sarah teringat pada malam ketika Tania datang ke rumah Zainal, dan ia mendengar percakapan mereka. Tania benar-benar berharap bisa hidup bahagia dengan Zainal.
"Mungkin tidak sekarang, tunggu gue wisuda. Ga mungkin kita sudahi di usia pernikahan baru satu bulan," jawab Zainal.
Sarah terdiam, menghitung-hitung dalam pikirannya. "Semester depan," ujarnya, mengingatkan Zainal.
"Iya," Zainal menjawab pelan, menatap Sarah dengan tatapan kosong
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.