Zainal bersandar pada dinding kantin, menatap kosong ke arah meja tempat tiga perempuan duduk. Dia tidak benar-benar lapar; kehadirannya di kampus hari ini hanya karena dosen pembimbing tiba-tiba membatalkan jadwal bimbingan. "Maaf, saya ada jadwal luar, minggu depan saja," pesan dosennya. Dengan berat hati, Zaenal melewati kemacetan hanya untuk mendapati dirinya termangu di sudut kantin.
Di kejauhan, Sarah duduk bersama dua temannya, Azzura dan Yayu. Mereka sibuk memilih tempat duduk yang nyaman untuk menikmati makan siang yang baru saja mereka pesan. Zainal mengarahkan pandangannya hanya pada Sarah, perempuan dengan hijab biru dongker dan kacamata berbentuk cat-eye yang kini tergeletak di meja. Dengan gerakan yang teratur, Sarah menggulung lengan bajunya, mengikat ujung hijab ke belakang, dan mulai menyantap rice bowl sambil sesekali menyeruput es jeruk.
Tawa mereka pecah ketika Yayu melontarkan candaan yang konyol. Sarah, yang biasanya terlihat tenang, tertawa lepas, memperlihatkan sisi dirinya yang jarang Zainal lihat.
"Sarah," gumam Zainal, hampir tanpa sadar.
"Kok bisa gue nikahin dia?" tanyanya dalam hati. Pikiran itu berputar-putar di kepalanya. "Kenapa dia nggak pernah marah soal hubungan gue sama Tania? Alasan apa yang bikin dia mau gue nikahin selain karena Abi? Padahal dia tahu gue punya pacar."
Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.
"Tum, ayo." Hasan tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Apa?" Zainal menatap Hasan dengan bingung.
"Anak-anak udah siap latihan buat malam."
"Latihan apa?" Zainal masih belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
"Ya futsal. Malam ini tanding lawan jurusan sebelah, Tum. Jangan bilang lu lupa?"
Zainal menghela napas, bangkit, dan mengangguk kecil. "Ayo."
Hasan menatap Zainal dengan alis terangkat. "Tum, lu banyak pikiran ya? Santai aja, bro. Kalau udah saatnya, lu juga bakal wisuda. Lihat gue, santai-santai aja."
Zainal memutar bola matanya. "Itu bukan santai, Hasan. Itu tolol."
Hasan menutup mulutnya dengan dramatis. "Ih, nggak suka kasar," katanya, tapi Zainal sudah berjalan pergi.
_____________
Malamnya, Sarah baru selesai shalat Maghrib di kamar. Dia berniat melanjutkan membaca Al-Qur'an untuk memenuhi target one day one juz yang harus dilaporkan ke komunitasnya.
Tok tok tok.
"Sarah?" suara Zainal terdengar dari balik pintu.
Sarah menghela napas dan menutup mushaf di depannya. "Iya, bentar."
Saat pintu dibuka, Zainal berdiri di sana dengan ekspresi gelisah. "Lu lihat jersey futsal prodi gue? Terakhir gue inget ada di tumpukan setrikaan."
Sarah berjalan ke ruang laundry, sementara Zainal mengintip ke dalam kamarnya. Mata Zainal menangkap segala sesuatu yang tertata rapi, mulai dari buku-buku yang berjejer sesuai ukuran hingga boneka pemberiannya yang terletak di atas tempat tidur. Ia mengangguk kecil, seolah mengapresiasi kerapian itu.
"Ini bukan?" suara Sarah dari ruangan sebelah membuat Zainal segera menghampiri.
"Nah, iya bener," jawabnya, meraih jersey itu. Saat mengambilnya, tidak sengaja tangannya menyentuh lengan Sarah.
Sarah menatapnya tajam.
"Eh, sori. Punya wudhu ya? Mau gue ambilin wudhu lagi nggak?" Zainal mencoba bercanda, tetapi Sarah tidak tertawa. Malah sebaliknya, air matanya mulai menggenang.
"Zainal, sehari aja nggak bisa ya nggak ganggu gue?" Sarah berkata dengan suara bergetar. "Hidup lu nggak tenang tanpa ngerecokin gue, ya?"
Zainal membeku. Tidak biasanya Sarah bereaksi seperti ini.
"Gue mohon, sehari aja," lanjut Sarah. Air matanya kini tumpah. Mukena yang masih dikenakannya mulai basah. "Keluar dari kamar gue."
"Sarah..." Zainal merasa bersalah. Dia mencoba mendekat, tetapi Sarah berbalik membelakanginya.
"Keluar," titah Sarah sekali lagi, kali ini lebih tegas.
Zainal tidak punya pilihan. Ia menghela napas, menutup pintu kamar dari dalam, dan berjalan ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, suara air wudhu terdengar. Sarah, yang masih memeluk bantal di tempat tidur, perlahan menoleh.
Ketika Zainal keluar dari kamar mandi, dia langsung mengambil posisi di atas sajadah milik Sarah. Dengan khusyuk, dia mulai shalat.
Sarah mengintip dari balik bantal. Zainal terlihat berbeda. Diam-diam, dia mengamati setiap gerakan Zainal hingga selesai.
"Sarah," Zainal memecah keheningan. "Ayo balas. Gue udah punya wudhu. Impas, kan?" Zainal menjulurkan tangan dengan senyum tipis.
Sarah hanya menatapnya tanpa ekspresi, lalu kembali membenamkan wajahnya di bantal. Menyadari dirinya tidak mendapat respons, Zainal berdiri dan berjalan ke pintu.
"Gue futsal dulu. Mungkin sampai pagi," katanya sebelum keluar, menutup pintu pelan-pelan.
Sarah menatap pintu yang tertutup itu, lalu menghela napas panjang. Ia merasa lelah, bukan hanya karena tangisan tadi, tetapi juga perasaan yang perlahan-lahan mulai membuat hatinya terasa penuh.
Di luar kamar, Zainal mengusap wajahnya. Hatinya berat meninggalkan Sarah dalam keadaan seperti itu. Namun, ia tahu bahwa mengganggu Sarah lebih jauh hanya akan memperburuk keadaan. Dengan langkah berat, ia menuju lapangan, berharap rasa bersalahnya bisa mereda di tengah lapangan futsal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
