Malam itu, setelah seharian sibuk, Sarah duduk di ruang tamu, menatap kosong ke layar ponselnya. Zainal baru saja pulang dari luar kota, wajahnya lelah, tapi tetap dengan ekspresi datar. Dia melangkah masuk ke rumah, meletakkan tas di sofa, dan hanya memberi Sarah satu lirikan singkat.
Sarah tahu sesuatu sudah berbeda. Sesuatu yang tak pernah diungkapkan. Sesuatu yang makin hari makin terasa menyesakkan.
Dia menunggu, berharap Zainal akan bicara, akan menjelaskan. Tapi Zainal malah memilih untuk diam, menyalakan televisi tanpa sepatah kata pun. Sarah merasa lelah, tapi bukan lelah fisik. Lebih pada lelah hati.
"Tania, ya?" Sarah akhirnya membuka suara, suaranya pelan namun tajam, membuat Zainal terhenti sejenak.
Zainal menoleh, agak terkejut dengan pertanyaan itu. "Sarah..."
"Lu nggak perlu jawab," Sarah memotong, suara itu lebih dingin dari yang ia kira. "Gue cuma pengen tahu, apa gue cuma ada di sini buat nungguin keputusan lu, atau lu udah punya jawaban untuk kita berdua."
Zainal terdiam, matanya menatap ke arah lain. "Sarah, itu nggak sesederhana yang lu pikirkan."
"Tapi buat gue itu sederhana, Zainal," jawab Sarah, kini lebih tenang, walau hatinya terasa berat. "Gue cuma nggak mau jadi pilihan yang gak penting."
Zainal hanya bisa diam. Sarah merasa perasaannya meluap, tapi ia tetap memilih untuk menahan semuanya. Hanya ada ketenangan di wajahnya, meskipun di dalamnya, amarah itu berkecamuk.
"Kalau bingung, gue bisa keluar," kata Sarah, pelan tapi dengan kepastian.
Zainal menatapnya, kali ini lebih dalam. Dia ingin mengatakannya, ingin menjelaskan semuanya, tapi kata-kata itu seolah sulit keluar.
"Jadi, kamu lebih pilih diam, ya?" Sarah melanjutkan, menahan emosi yang sudah hampir tumpah. "Gue nggak akan terus berdiri di sini dan bertanya-tanya, Zainal. Gue nggak bisa begini terus."
Sarah berdiri perlahan, matanya menghindar dari pandangan Zainal. Begitu ia melangkah menuju pintu, Zainal masih terdiam di tempatnya, bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
Di luar, udara malam terasa dingin. Sarah menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya, meskipun langkahnya terasa berat. Zainal belum juga menyusulnya. Dia hanya mendengar langkah kaki Sarah semakin menjauh.
Malam itu, tidak ada kata penyesalan dari Zainal. Hanya ada keheningan, dan sebuah pilihan yang belum bisa ia buat.
____________
Sudah sebulan sejak Sarah meninggalkan rumah. Zainal tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pesan-pesan yang ia kirimkan hanya dibaca tanpa dibalas, dan panggilan teleponnya selalu tak terjawab. Sarah tidak memberi penjelasan apapun. Begitu saja, dia pergi.
Setiap malam, Zainal duduk di kursinya, menatap pintu yang seolah mengingatkannya pada apa yang hilang. Seperti ada ruang kosong yang tidak bisa diisi, meski ia mencoba sibuk dengan segala hal. Namun, semua yang ia lakukan terasa hampa.
Sarah tidak memberitahunya ke mana dia pergi, dan Zainal tidak pernah bertanya lebih lanjut. Ia tahu, kadang seseorang perlu waktu sendiri untuk memikirkan segalanya. Tapi ia juga merasa bingung—apakah itu berarti Sarah tidak ingin kembali? Atau, apakah Sarah hanya butuh waktu untuk bisa berpikir tanpa gangguan?
Suatu sore, Zainal berdiri di depan jendela, menatap langit yang mulai gelap. Ia memikirkan banyak hal, tapi akhirnya, dia cuma bisa menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu, meskipun ia tahu, menunggu tanpa kepastian itu tidak mudah.
Di luar sana, Sarah masih menjalani hari-harinya tanpa memberi kabar, lebih memilih untuk diam. Tak ada kemarahan, hanya keheningan yang menenangkan. Tidak ada yang benar-benar hilang, hanya ada pilihan yang belum bisa ia buat, dan keputusan untuk mencari kedamaian dalam dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Fiksi RemajaPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
