Delapan

458 14 0
                                        

Zainal merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, laptopnya masih menyala menampilkan halaman terakhir skripsinya. Seharian penuh ia berkutat dengan tugas akhir ini, tapi entah kenapa fokusnya sering teralihkan. Setelah menatap layar kosong beberapa saat, jarinya dengan refleks mengklik ikon folder foto di desktopnya. Arsip kegiatan organisasi tersusun rapi di sana.

"Seminar Internasional," gumamnya sambil membuka album tersebut. Matanya segera menangkap sosok yang ia cari. Ia memperbesar gambar di pojok kanan, lalu beralih ke foto lain dalam album itu. Sosok perempuan yang sama—Sarah—selalu ada di sudut bingkai foto.

"Ternyata selama ini kita sering satu frame," Zaenal bergumam, sedikit tersenyum pada dirinya sendiri. Ia berpindah ke album lain, "Ospek Fakultas." Lagi-lagi wajah Sarah muncul. Selama ini, Zainal terlalu sibuk dengan tanggung jawab organisasinya untuk menyadari kehadiran Sarah yang ternyata selalu dekat.

Zainal mengingat kembali perjalanan kuliahnya. Dari seorang anggota biasa hingga menjabat ketua umum himpunan mahasiswa jurusan, bahkan sekarang menjadi ketua bidang minat dan bakat di BEM fakultas. Namanya dikenal luas, bukan hanya di fakultas, tetapi juga di lingkup universitas. Banyak ukhti-ukhti yang terang-terangan atau dengan isyarat mencoba mendekatinya, tapi hatinya sejak dulu hanya tertambat pada Tania—perempuan yang jauh dari kata "salehah." Namun kini, Sarah perlahan mengubah segalanya.

Hari ini, Zainal merasa ada sesuatu yang berbeda. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam, namun ia tidak mendengar suara Sarah di rumah. Rasa penasaran membawanya keluar dari kamar. Saat membuka pintu, ia mendapati Sarah baru saja masuk ke rumah dengan langkah tertatih. Pandangan mereka bertemu, dan waktu terasa berhenti sejenak.

"Kenapa?" tanya Zainal, mencoba memecah kebekuan.

Pertanyaan itu malah membuat tangis Sarah pecah. Ia menundukkan kepala, air matanya jatuh tanpa henti. Zainal tertegun, tidak menyangka reaksinya akan seperti ini.

Zaenal mendekati Sarah, meletakkan tangannya di pundak gadis itu. "Hei, apa yang terjadi?"

Sarah tak menjawab, hanya isak tangisnya yang terdengar. Akhirnya, Zainal memeluknya. Tubuh mungil Sarah terasa kecil dalam pelukannya yang erat.

"Gue jatuh dari motor," ucap Sarah di sela tangisnya, suaranya gemetar.

Zainal tersenyum tipis, mencoba meredakan suasana. Ia mengusap air mata Sarah dengan lembut. "Motornya nggak apa-apa, kan?"

Sarah menatapnya dengan pandangan tidak percaya, tangisnya malah semakin deras.

"Ssst, maaf, gue cuma bercanda," ucap Zainal sambil mengeratkan pelukannya. Tangis Sarah perlahan mereda, meskipun napasnya masih tersengal.

"Mana yang luka?" tanya Zainal lembut.

"Lutut, siku, sama jari-jari tangan," jawab Sarah pelan.

Zainal memeriksa tangan Sarah. Luka kecil terlihat di jari tengah, manis, dan kelingkingnya. Ia mengangkat tangan Sarah dengan hati-hati, seperti seorang pangeran yang akan menyematkan cincin.

"Bahaya nih, bisa infeksi," ucap Zainal serius.

Sarah hendak menangis lagi, tapi Zainal cepat-cepat berkata, "Boong, luka kecil ini nggak akan infeksi."

Sarah memukul pelan dada Zainal. "Tapi sakit."

"Tau," jawab Zainal santai.

"Besok gue mau pulang ke rumah Abi," Sarah mengeluh, suaranya terdengar manja.

"Nggak boleh," sahut Zainal cepat. "Luka kecil kayak gini doang nggak usah bikin Abi lu khawatir."

"Tapi sakitnya beneran!" Sarah berargumen.

Zainal terkekeh. "Udah, ayo gue anter ke kamar. Otak lu udah mulai nggak bener karena kesakitan."

Sarah memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Gendong."

Tanpa berpikir dua kali, Zaenal langsung mengangkat Sarah dalam pelukannya, gaya bridal style. Sarah memeluk leher Zaenal erat, sementara Zaenal membawa gadis itu ke kamar dengan langkah mantap.

"Zaenal," panggil Sarah pelan.

"Hm?"

"Makasih," ucapnya tulus.

Zaenal tersenyum kecil. "Jangan sering-sering bikin gue khawatir, ya."

Di dalam hati, Zaenal merasa bahwa Sarah adalah teka-teki yang perlahan ia pecahkan. Setiap momen kecil seperti ini membuat hatinya semakin yakin bahwa mungkin, hanya mungkin, cinta yang sebenarnya sudah ada di hadapannya selama ini.


Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang