Enam

498 19 4
                                        

Malam itu, Sarah diantar pulang oleh Dion, seorang pria lajang, tampan, dan mapan yang ternyata adalah paman dari Leila dan Layla—dua anak kembar yang diajar mengaji secara privat oleh Sarah setiap akhir pekan. Dion adalah adik ayah mereka, dan ibu si kembar sering mencoba menjodohkan Sarah dengan Dion.

"Makasih, Mas," ucap Sarah sambil melambaikan tangan.
Dion membalas dengan anggukan sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobilnya.

Ketika Sarah berbalik dan memasuki garasi rumahnya, dia melihat Zainal sedang berdiri di dekat mobil. Pagar rumah masih terbuka lebar, tampaknya dia baru saja sampai. Penampilannya menarik perhatian Sarah—jersey futsal yang dipadukan dengan sarung terlihat sedikit aneh, tapi entah kenapa cocok saja di tubuh tinggi besarnya. Satu hal lagi yang mencolok: Zainal membawa boneka beruang besar, lebih besar dari tubuh Sarah sendiri. Sepertinya boneka itu untuk kekasihnya, Tania.

Sarah tersenyum tipis sebelum melangkah masuk ke rumah. Namun, langkahnya terhenti saat Zainal memanggil.

"Sarah!" serunya.

Sarah yang sudah berada di tangga, menoleh ke belakang dengan posisi kurang nyaman.

"Gift for you." Zainal menyodorkan boneka besar itu.

"For me?" tanya Sarah sambil menunjuk dirinya sendiri, memastikan dia tidak salah dengar.

Zainal mengangguk dua kali. "Ga mau?" tanyanya, mengangkat boneka itu kembali ke pelukannya.

Sarah berlari kecil untuk menerima boneka tersebut. "Dalam rangka apa?" tanyanya, tak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya. Boneka berwarna krem itu tampak cantik dengan pita ungu melilit lehernya.

"hadiah Ulang tahun," jawab Zainal singkat.

"Terima kasih," ujar Sarah sambil tersenyum lebar.

"Gue diajarin guru-guru gue, kalau dapat hadiah harus dicium dulu," kata Zainal tiba-tiba.

"Hah?" Sarah tertegun, matanya melebar.

"Hadiahnya, bukan gue," jawab Zainal dengan nada bercanda.

Sarah menghela napas lega sambil tersenyum malu. "Oh, kirain..." gumamnya, memeluk boneka itu erat.

Zainal terkekeh. "Suka?"

Sarah mengangguk. Namun, percakapan mereka terpotong oleh getaran ponsel di tas Sarah.

"Abi calling..." gumamnya.

"Angkat aja," titah Zainal.

Sarah menggeser layar dan menjawab panggilan video. "Halo, Assalamualaikum, Abi."

"Waalaikumsalam, Sarah. Zainal apa kabar?"

Sarah memutar bola matanya, sedikit kesal. Abi-nya selalu menanyakan Zainal dulu.

Zainal bergeser ke belakang Sarah agar masuk dalam layar. "Waalaikumsalam, Abi. Alhamdulillah sehat, Abi apa kabar?"

"Alhamdulillah, sehat juga. Kalian baik-baik di sana, ya."

"Iya, Abi," jawab mereka serempak.

"Abi titip Sarah ya, Nak," ujar Abi pada Zainal.

Zainal melirik Sarah sekilas. "Iya, Abi. Insyaallah kita saling jaga."

"Abi, lihat ini!" seru Sarah, mengarahkan kamera ke boneka besar yang dipeluknya.

Abi tertawa. "Boneka itu lebih besar dari kamu, Sarah. Bisa jadi kasur kalau kamu capek."

"Bisa banget, Abi!" jawab Sarah sambil bercanda.

"Tapi kalau Sarah tidur di boneka itu, Zainal tidur sendiri dong," celetuk Abi sambil menggoda.

"Ya, Sarah ajak Zainal tidur di boneka juga," balas Sarah sambil melirik Zainal, yang tersenyum kecil mendengar percakapan mereka.

Setelah menutup telepon, Sarah menatap boneka di pelukannya. "Gue kasih nama apa ya?"

"Khitmir," jawab Zainal spontan.

"Kenapa Khitmir?"

"Itu nama anjing Ashabul Kahfi," jawabnya santai.

"Tapi ini kan beruang, bukan anjing," protes Sarah.

"Khitmir itu satu-satunya anjing yang masuk surga. Jadi, biar boneka lu juga jadi boneka yang masuk surga."

Sarah mendengus kesal.

Zainal tertawa kecil. "Khitmir aja. Panggilannya Khit."

Zainal meninggalkan Sarah dengan tawa kecilnya, sementara Sarah berteriak kesal, "Zainal!"

Namun, lelaki itu sudah menghilang di balik pintu kamarnya.

Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang