Empat belas

441 15 0
                                        

Sarah mondar-mandir di ruang tengah, matanya tak bisa lepas dari jam dinding yang terus berdetak. Sudah berapa kali ia melirik, tetapi Zainal masih belum juga pulang. "Mau pulang jam berapa sih?" gumamnya kesal, tak bisa menahan rasa kecewa.

Ia berjalan ke dapur dengan langkah cepat, tubuhnya penuh ketegangan. Semua masakan yang tadi ia buat untuk Zainal pun terpaksa ia masukkan ke dalam kulkas, merasa sia-sia saja usaha yang ia lakukan.

Dengan perasaan yang masih kesal, Sarah membaringkan tubuhnya di sofa. Televisi yang tetap hidup hanya menjadi pengantar tidur di malam yang sepi itu. Suara acara komedi di channel favoritnya terdengar samar-samar, namun ia tak benar-benar menikmati, pikirannya masih tertuju pada Zainal.

Waktu terus berjalan, dan sekitar setengah tiga pagi, Zainal akhirnya tiba di rumah. Meski lampu di ruang tengah dimatikan, cahaya dari televisi masih cukup untuk menerangi ruang itu. Pandangan pertama Zainal tertuju pada Sarah, yang tertidur dengan mukena masih melekat di tubuhnya. Hatinya terasa hangat melihat istrinya dalam keadaan tenang meskipun sudah larut malam.

Senyuman kecil terukir di bibir Zainal saat ia mendekat, dan dengan lembut mencium tangan Sarah. "Nyenyak banget, Bu," bisiknya pelan, tak ingin membangunkan Sarah.

Setelah itu, Zainal pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Selesai mandi dan beres-beres, Zainal kembali keluar. Ia duduk di bawah sofa, menatap Sarah yang masih terlelap tidur. Tangan Zainal terulur untuk mengusap keringat di kening Sarah. Pantas saja, tidur dengan mukena dan tanpa AC di ruangan yang cukup panas pasti membuatnya berkeringat.

Sarah bergerak sedikit, tangannya hampir mengenai wajah Zainal, tetapi Zainal sigap menghindar. "Sssttttt," bisiknya lembut, mencoba menenangkan.

Namun, bukannya melanjutkan tidur, Sarah malah membuka mata dan menatap Zainal dengan bingung. "Baru pulang?" tanyanya pelan.

Zainal hanya mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya, lalu ia mengelus pipi Sarah dengan lembut. "Bangun tahajud dulu yuk," ajaknya.

Sarah menggeleng pelan, masih setengah terjaga. "Pulangnya kenapa pagi?"

"Acaranya selesai pagi," jawab Zainal singkat, lalu melangkah ke sisi Sarah. Ia duduk di bawahnya dan menggenggam tangan Sarah.

"Udah sana tidur, capek kan?" Sarah menyuruh, meskipun sedikit khawatir.

"Bentar lagi subuh, nanti kebablasan kalau tidur sekarang," jawab Zainal dengan suara tenang, membuat Sarah menarik napas panjang.

Lalu, tanpa diduga, tangan Sarah terulur dan merapikan rambut Zainal. Sesaat kemudian, Sarah memeluknya. "Jangan ga pulang, gue takut sendirian," ujarnya dengan nada cemas.

Zainal terdiam sejenak, merasakan ketegangan di tubuh Sarah. "Ini kan udah di rumah," jawabnya pelan.

Sarah semakin mengeratkan pelukannya, seolah enggan melepaskan Zainal. "Susah napas atuh gue," protes Zainal dengan suara teredam.

"Biar aja, suruh siapa pulang sepagi ini," balas Sarah, melepaskan pelukannya perlahan.

Zainal sigap menahan tubuh Sarah yang ingin menjauh. Mereka saling berhadapan, dan Zainal melingkarkan lengannya di pinggang Sarah. "Tinggal bilang kangen doang, angel," katanya sambil mencolek hidung Sarah.

Sarah pun tersenyum, meskipun bibirnya masih terlihat manyun. "Siapa, ga ada yang kangen tuh," jawabnya sambil mendelik.

Zainal semakin gemas dengan tingkah Sarah yang selalu membuatnya tertawa. "Siapa yang tadi sore ngchat ketumnya buat nanyain kabar gue?" godanya.

Sarah mengernyitkan dahi, tahu benar siapa yang dimaksud. Bagas, telah memberitahukan Zainal tentang Sarah yang menanyakan kabarnya sore tadi meskipun tidak secara personal menanyakn kabar Zainal.

"Awas ah, gue mau tahajud," Sarah mencoba menghindar, meskipun jelas sekali rona merah di pipinya.

Zainal tertawa kecil, kemudian berjalan menuju dapur untuk minum. Ketika membuka kulkas, ia terkejut melihat banyak makanan yang ada di dalamnya. "Sory ya, gue ga bisa pulang cepet, jadinya ga sempet makan masakan lu. Besok pagi angetin semua makanan di dalam kulkas, biar gue abisin sekaligus," kata Zainal sambil mengambil air minum.

Sarah melongo, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja Zainal katakan. "Sebanyak itu mau dihabisin sekaligus?" tanyanya dengan nada serius, meskipun ada senyum kecil di bibirnya. "Apa ga gumoh?"

Zainal tertawa lebar. "Emangnya bayi gumoh?" jawabnya dengan nakal.

"Iya nih, bayi besar," kata Sarah sambil mencubit pipi Zainal gemas.

"Aduh, aduh, sakit," Zainal memegangi pipinya, pura-pura kesakitan.

"Utu-utu-utu, sakit ya?" tanya Sarah dengan wajah serius, berusaha menahan tawa.

Zainal menatapnya dengan ekspresi serius, namun tak bisa menahan tawa. "Ini serius sakit, Za," kata Sarah dengan nada sedikit khawatir.

"Sayang, sakit ya?" Sarah menggenggam wajah Zainal dengan lembut, meniup pipinya untuk mengurangi rasa sakit.

Zainal memanfaatkan momen itu, dengan cepat mencium bibir Sarah sekilas. "Sini," Zainal menunjukkan pipi kanannya.

Sarah yang masih sedikit terkejut menuruti perintah Zainal dan mencium pipinya.

"Sini lagi," perintah Zainal, kali ini menunjuk pipi sebelahnya.

Zainal tersenyum lebar, lalu menarik Sarah ke dalam pelukannya, mencium pucuk kepalanya. "Za," panggil Sarah dengan suara lembut.

"Mmmm," jawab Zainal, dengan senyuman hangat.

"Love you," ujar Zainal pelan.

Dengan itu, keduanya saling berbagi kehangatan dalam pelukan, menikmati momen kebersamaan mereka yang sederhana namun penuh arti. Hingga akhirnya, suara adzan subuh menggema, menghentikan adegan itu, namun tidak mengurangi hangatnya perasaan mereka satu sama lain

Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang