Sarah turun dari tangga sambil mendendangkan lagu pelan. Suaranya yang lembut menarik perhatian Zainal, yang sedang serius di depan laptopnya. Dengan rambut acak-acakan, wajahnya yang masih seperti baru bangun tidur menatap Sarah penuh tanya.
"Gue ada rapat," ujar Sarah tanpa basa-basi. "Oh ya, tadi gue masak banyak. Lu ajak aja temen-temen lu makan di sini. Gue bakal pulang malam."
Zaenal hanya mengangguk tanpa bicara.
"Oh, kalau mereka nanya itu masakan siapa, bilang aja kiriman dari Bude atau Tania," tambah Sarah sambil berbalik meninggalkan ruang tengah.
Setelah Sarah menghilang di balik pintu, Zaenal kembali fokus ke tugasnya. Namun, rasa penasaran membuatnya menoleh ke meja makan. Di sana, beberapa menu makanan sudah tertata rapi. Penampilannya cukup menggugah selera. Dengan ragu, Zaenal mengambil garpu dan mulai mencicipi.
Satu suapan, kepalanya mengangguk tanpa sadar. Dua suapan lagi, dan Zaenal akhirnya menyerah. "Gila, ini enak banget," gumamnya.
Zaenal segera mencari ponselnya untuk menghubungi teman-temannya.
Grup WhatsApp Semoga sarjana 🎓
Zaenal: Yang lagi free, merapat ke rumah gue.
(Mengirim foto makanan di meja makan)
Sahrul: Merapat, pimpinanku.
Hasan: Gasken!
Fauzan: Roman-romannya makan besar nih. Meluncur, abangku!
Zaenal tertawa kecil sambil menaruh ponselnya. "Gercep banget kalau urusan makan," gumamnya. "Giliran ngurus organisasi, lelet ngalahin keong." Ia pun bergegas mandi sebelum teman-temannya tiba.
Tak butuh waktu lama, Fauzan datang lebih dulu, disusul Sahrul dan Hasan. Mereka sudah duduk di ruang tengah, menunggu Zaenal keluar dari kamar.
"Udah ready aja," ujar Zaenal, rambutnya masih basah.
"Semalam habis ngapain, Tum? Pagi-pagi udah sampoan," goda Fauzan.
Zaenal melirik malas. "Enggak usah mikir yang aneh-aneh. Semalam gue futsal bareng Hasan."
"Udah, kita ke sini mau makan, bukan ngulik Zaenal!" sergah Sahrul, menunjuk Fauzan.
Keempatnya makan dengan khusyuk. Mereka berpegang teguh pada prinsip: saat makan, tak boleh banyak bicara. Usai makan, mereka berpindah ke ruang tengah untuk bermain PlayStation.
"By the way, siapa yang masak tadi?" tanya Hasan saat menggenggam stik kontrol.
"Tania," jawab Zaenal singkat.
"Wih, ternyata jago masak juga dia."
Zaenal mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan kebohongannya.
Zaenal sedang asyik bermain PS saat melihat status WhatsApp Bagas. Terpampang foto seorang perempuan berkerudung merah muda dengan senyum manis. Caption-nya berbunyi: Selamat menua, lebih lama lagi di bumi. Zaenal mengenali wajah itu. Itu Sarah.
Hasan melirik layar ponsel Zaenal. "Oh, Sarah Ihza Mahendra. Lu kenal dia?"
Zaenal terdiam. "Kenal," jawabnya pelan.
Hasan tertawa. "Sarah itu temen dekatnya Bagas. Semua orang yang kenal Bagas pasti tahu Sarah."
Zaenal merenung. Bagaimana mungkin teman-temannya tahu tentang Sarah, tapi dirinya—suami Sarah—tidak? Pikirannya terus berkecamuk hingga teman-temannya pamit pulang.
"Assalamualaikum," suara Sarah terdengar dari balik pintu. Ia masuk dengan dua kantong besar di tangannya.
Zaenal yang duduk di sofa menatapnya tanpa ekspresi.
"Gue punya sesuatu," kata Sarah, meletakkan kantong itu di meja. Ia mengeluarkan sebuah kotak kue ulang tahun. Tulisan di atasnya berbunyi: Selamat ulang tahun, Sarah.
Zaenal tetap diam, memperhatikan gerak-gerik Sarah.
Setelah membuka kue, Sarah mengambil seikat bunga tulip dengan kartu bertuliskan: Selamat ulang tahun. From Bagas.
"Tolong fotoin gue dong," pinta Sarah, menyerahkan ponselnya. Zaenal menurut.
Saat memotong kue, Zaenal akhirnya bersuara, "Lu ulang tahun?"
Sarah menatapnya bingung. "Maksud lu apa? Jelas-jelas ini kue ulang tahun."
"Selamat ulang tahun," ucap Zaenal datar.
Sarah tersenyum kecil. "Makasih."
Ponsel Sarah bergetar. "Bagas calling..."
Sarah menerima panggilan video. "Hai, Gas! Bunganya suka banget. Terima kasih, ya!"
Zaenal hanya diam, memperhatikan percakapan mereka. Setelah telepon selesai, ia berkata lirih, "Bagas suka sama lu."
Sarah tertawa kecil. "Enggak mungkin. Gue sama Bagas cuma teman."
Zaenal menghela napas. "Gue pikir dia lebih dari itu."
"Zaenal," Sarah menatap matanya lekat-lekat. "Ini hari ulang tahun gue. Jangan bikin ribet, ya."
Zaenal menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Novela JuvenilPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
