Langit sore yang mulai jingga menandakan hari hampir berakhir. Zainal mengemudikan mobilnya pelan, menuju supermarket besar yang terletak di ujung jalan. Sarah duduk di sampingnya, tangannya bersedekap, bibirnya mengerucut kesal. Dari tadi ia diam saja, hanya sesekali memainkan ponselnya tanpa benar-benar memperhatikannya.
"Kenapa diem aja?" tanya Zainal akhirnya, suaranya tetap datar seperti biasa.
Sarah melirik ke arahnya sekilas, lalu kembali menatap ke luar jendela. "Nggak papa," jawabnya pendek.
Zainal mendesah. Itu jawaban yang sudah terlalu sering ia dengar, dan artinya pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Zainal tetap fokus menyetir, tapi ekor matanya menangkap Sarah yang kini mulai mengetuk-ngetukkan jari di pahanya, tanda ia sedang menahan sesuatu.
"Gue males ke supermarket, tapi lu maksa," gumamnya masih nunduk, matanya mandangin jalanan dari jendela.
Zainal ngeluarin napas, tangannya mencengkeram setir lebih kencang. "Gue nggak maksa. Kita emang harus belanja, kan? Rumah udah kehabisan stok ini-itu."
Sarah mendengus kecil. "Iya, tapi lu nggak ngasih gue pilihan buat nolak."
Zainal meliriknya lagi, kali ini lebih lama. "Terus, kenapa dari tadi lu diem aja?"
Sarah langsung noleh ke arah Zainal dengan tatapan nggak percaya. "Lu serius nanya itu?"
Zainal tetap diam, fokus lagi ke jalan.
Sarah menghela napas panjang sebelum ngomong lagi, kali ini suaranya lebih pelan. "Gue kesel."
Zainal nggak langsung nanggepin. Cuma satu kata itu yang keluar dari mulut Sarah.
"Lalu?" tanyanya tenang.
Sarah berdecak kesal. "Ya gue kesel!" ulangnya, lebih tegas.
Zainal tetep diam, membiarkan suasana dalam mobil dipenuhi keheningan beberapa detik. Dia tahu Sarah bukan tipe yang marah meledak-ledak, tapi kalau udah ngomong kayak gini, berarti dia beneran lagi bad mood.
Beberapa saat kemudian, Sarah geser duduknya, nyender lebih dekat ke Zainal. "Lu tuh nyebelin," ujarnya pelan, tapi jelas.
Zainal menoleh sedikit. "Gue nyebelin?"
Sarah angguk cepat. "Iya."
"Tapi lu tetep mau ikut gue, kan?" Zainal senyum tipis, walau matanya tetep ke jalan.
Sarah diem beberapa detik sebelum bergumam, "Habis mau gimana, gue nggak bisa nolak lu..."
Zainal hampir ketawa, tapi dia tahan.
Sarah balik nyender ke kursinya, tangannya udah nggak dilipet lagi. Dia menarik napas panjang sebelum tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Zainal.
Zainal melirik sekilas. "Apa?"
Sarah menggoyang-goyangkan jarinya, nyuruh Zainal ngasih tangannya. "Tangan."
Zainal ngangkat alis, agak ragu. Tapi akhirnya, dengan satu tangan masih di setir, dia menyodorkan tangannya.
Begitu jarinya menyentuh tangan Zainal, Sarah langsung genggam erat, jemarinya masuk di antara jari-jari laki-laki itu.
Zainal diem. Dia nggak menarik tangannya, nggak juga mempererat genggamannya. Tapi dia biarin Sarah ngelakuin apa pun yang dia mau.
Sarah tetap mandangin jalanan, mukanya masih sok-sok kesel, tapi genggamannya nggak lepas.
"Ini buat apa?" tanya Zainal akhirnya.
Sarah jawab tanpa noleh. "Biar gue nggak kesel lagi."
Kali ini, Zainal beneran senyum kecil.
Dan untuk beberapa saat, tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan. Hanya genggaman tangan di antara mereka yang berbicara lebih dari apa pun.
Malam itu, Sarah mungkin masih kesal. Tapi dengan genggaman tangan itu, ia tahu bahwa perasaannya pada Zainal tetap ada—sekeras apa pun ia mencoba menyangkalnya.
Mobil terus melaju, dan untuk beberapa saat, nggak ada lagi kata-kata. Cuma genggaman tangan di antara mereka yang berbicara lebih dari apa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
