Pagi itu, angin kencang bertiup mengiringi langkah Sarah menuju parkiran fakultas. Dedaunan kering berterbangan, seakan ikut merasakan perubahan cuaca yang mendadak. Meskipun langit pagi terlihat cerah sesaat, angin itu membawa awan gelap yang perlahan menutupi langit biru.
Sarah memarkirkan motornya dengan rapi di jajaran pertama, matanya melirik jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul 07.30. Dengan langkah cepat, ia menaiki anak tangga menuju lantai tiga, tempat kelas statistika dimulai. Pagi yang seharusnya dimulai dengan semangat malah harus dihadapi dengan mata kuliah yang sering kali membuatnya jenuh. Dulu, Sarah memilih jurusan ini untuk menghindari statistika, tapi ironisnya, statistik justru menjadi bagian yang tak bisa dihindari dalam ilmu sosial.
Di dalam kelas, Sarah duduk di barisan kedua bersama dua sahabatnya, Azzura dan Yayu. Keduanya sibuk membahas film terbaru yang sedang hits di bioskop, sementara dosen yang sudah cukup sepuh itu dengan tekun memaparkan materi statistika. Sarah hanya bisa menggelengkan kepala, merasa jengkel dengan sikap temannya yang asyik mengobrol, sementara dosen yang penuh dedikasi sedang berusaha keras menjelaskan materi yang cukup berat.
"Bisa diem ga, atau ga gue bilangin Pak Yanuar nih?" Sarah mencoba mengingatkan mereka, suara yang cukup keras sampai mengganggu beberapa mahasiswa di sekitar mereka.
"Aduh, sensi banget, kaya cewek PMS," sindir Azzura dengan canda, sementara Yayu hanya tertawa kecil.
"Ya bukan masalah sensi, Lu pada dengerin tuh bapaknya ngejelasin nanti giliran dikasih tugas ga paham siapa lagi yang repot," jawab Sarah dengan nada kesal, meskipun dalam hatinya ia tak bisa marah lama pada kedua sahabatnya yang semakin hari semakin membuatnya kesal tapi juga semakin sayang.
"Elah, Bu ngegas amat, nanti jodohnya duda loh," Azzura membalas dengan gurauan yang membuat Sarah hanya bisa menggelengkan kepala.
"Konspirasi macam apa lagi, otak lu liar banget ya?" protes Yayu pada Azzura, yang sepertinya sudah kehabisan bahan obrolan.
Sarah hanya menatap mereka dengan tatapan jenuh, namun tiba-tiba ia mengingatkan mereka dengan serius, "Mau diem ga, atau gue bilangin kalau kalian paham dan siap ngisi soal di depan, ga kasian apa beliau hampir 2 SKS ngejelasin, bukannya disimak malah ngobrol. Heran deh."
Azzura dan Yayu langsung terdiam, menyadari kesalahannya, dan seketika itu juga mereka menatap depan, serius menyimak materi yang sedang dipaparkan. Akhirnya, waktu kuliah berakhir juga, dan mereka bisa melanjutkan aktivitas lain.
Setelah kelas selesai, mereka bertiga menuju kantin, yang sudah dipenuhi mahasiswa lapar yang mencari makan. Suasana kantin memang selalu ramai saat jam makan siang, dan sepertinya semua orang lebih mendahulukan perut daripada urusan ibadah, meskipun mereka sadar bahwa perut yang kenyang membawa ketenangan.
"Ayam geprek atau ayam bakar?" Azzura sibuk mempertimbangkan pilihan makanannya.
Sarah dan Yayu hanya bisa menunggu dengan sabar, meskipun Azzura memerlukan waktu hampir lima menit untuk memilih.
Akhirnya, Azzura memilih ayam bakar dan es kopi susu sebagai minumannya. "Gitu doang kok ribet," Yayu berkomentar sambil menggulung matanya, membuat Sarah tersenyum kecil.
"Yuk, cari meja," ajak Sarah.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, Sarah tiba-tiba menabrak seseorang dari belakang. Ia memegangi jidatnya, sedikit terkejut, dan mendongak untuk melihat siapa yang baru saja ia tabrak.
Ternyata itu adalah Zainal. Mereka saling bertatapan beberapa detik, dan Sarah merasa canggung.
"Saa," Yayu langsung menarik lengan Sarah, berusaha menjauhkan diri dari Zainal. "Sorry Bang, ga sengaja, temen kita kalau lagi lapar emang suka kurang fokus," katanya dengan nada bercanda.
Sarah melongo mendengar perkataan Yayu yang seolah-olah menganggapnya yang bersalah. Padahal, Zainal yang berada di belakangnya! Seharusnya Zainal yang lebih hati-hati, bukan?
"Sorry banget ya, Bang," Sarah menimpali, sedikit merasa risih, dan segera ditarik oleh Azzura dan Yayu untuk menjauh dari Zainal.
"Bentar, gue mau marahin suami gue dulu," batin Sarah geram, merasa kesal dengan sikap Zainal yang seolah tak bereaksi apapun.
Sesampainya di meja kosong, Azzura memberi peringatan kepada Sarah, "Sa, kurang-kurangin berurusan sama aktivis kaya dia, nanti lu jadi bahan orasinya."
"Ga takut, gue," jawab Sarah tegas, tak ingin mengalah pada kekhawatiran Azzura.
"Kalo dibilangin, jangan batu, Sarah," timbal Yayu, takut sahabatnya jadi viral di kampus.
____________
Sarah duduk di atas sajadah, mulai merapikan hafalannya sebelum beranjak untuk makan malam. Namun, belum selesai dengan mukenanya, Zainal masuk dengan wajah polosnya, rambut depan masih basah, mengenakan sarung, seperti baru saja selesai melaksanakan shalat.
Zainal menempelkan punggung tangannya pada kening Sarah. "Apa?" tanya Sarah dengan nada sedikit heran.
Zainal menggelengkan kepala, lalu berbaring di tempat tidur Sarah. "Ga jelas," gumam Sarah pelan.
"Temen kamu pada kenapa?" tanya Zainal, dengan suara yang terdengar penasaran.
Sarah menutup mulutnya, mencoba menahan suara terkejut ketika Zainal memanggilnya dengan sebutan "kamu."
"Zaa," Zainal memastikan Sarah mendengar pertanyaannya.
"Temen yang mana?" jawab Sarah sambil melirik Zainal dengan tatapan bingung.
"Yang tadi di kantin."
"Oh, Azzura sama Yayu," jawab Sarah singkat.
"Siapa lah namanya? Kayaknya mereka ga suka sama gue," kata Zainal, terlihat sedikit khawatir.
Sarah menatapnya, bingung. Sejak kapan Zainal peduli dengan sikap orang lain padanya?
"Mereka emang lebih suka kalau kamu sama Bagas, ya," Zainal melanjutkan dengan hati-hati.
"Bukan begitu, ya... karena mereka belum kenal sama lu aja," jawab Sarah, mencoba menjelaskan.
"Apakah mereka bisa nerima gue kalau tau cerita antara kita?" tanya Zainal dengan serius.
"Sejak kapan lu peduli dengan penilaian orang lain?" balas Sarah dengan nada datar.
Zainal terdiam, seolah sedang mencerna kata-katanya sendiri. "Sejak hari dimana gue mulai sadar ada rasa yang begitu besar yang tidak bisa gue jelaskan dengan kata-kata pada kamu, Zaa," jawabnya, dan kalimat itu membuat Sarah terhenti sejenak.
Sarah tersenyum tipis. "Ngelantur," katanya dengan sedikit bercanda, lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Zainal hanya bisa menatapnya, frustasi. "Sialan, kenapa jadi takut banget kehilangan dia," pikirnya, sambil mengacak rambutnya sendiri
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
