Tiga belas

412 13 0
                                        

Kampus hari itu penuh sesak dengan ribuan mahasiswa dari berbagai universitas, berbaris menuntut keadilan dan suara mereka didengar. Di tengah keramaian itu, sosok Zainal berdiri tegap, tak terpengaruh oleh hiruk-pikuk demo yang melingkupi. Di depannya, para mahasiswa terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Orasinya keras dan penuh keyakinan, seolah tak ada yang bisa menandingi ketegasan suaranya.

Sarah, yang berdiri jauh di belakang, menyaksikan Zainal dengan perasaan campur aduk. Hatinya bangga melihat Zainal—laki-laki yang ia kenal dengan segala kekurangannya, kini berdiri sebagai pahlawan di hadapan ribuan orang. Zainal, yang selalu dikenal dengan sikap dinginnya, kini membuktikan bahwa di balik semua itu ada tekad yang kuat untuk melawan ketidakadilan.

"Kasih paham, bang!" teriak seseorang di samping Sarah, membuatnya terperanjat.

Sarah menoleh, dan melihat seorang pria yang tampak kagum dengan orasi Zainal. "Mbak, gue liat-liat almet yang lu pake sama abang yang di depan sama, kalian satu univ?"

"Yoi," jawab Sarah, nada suaranya sedikit sombong. Ia tahu pria di sampingnya kagum pada Zainal, dan tanpa sengaja, senyum bangga menyungging di bibirnya.

Orang itu semakin semangat. "Menyala abangku!" teriaknya lebih keras dari sebelumnya. Sorotan mata orang-orang pun kini beralih ke mereka. Sarah merasa sedikit malu, meskipun hatinya tak bisa menyembunyikan kebanggaan.

"Kasih paham, hidup mahasiswa!" seru pria itu sambil mengepalkan tangan ke udara. Serentak, ribuan mahasiswa mengikutinya, menjawab "hidup!" dengan penuh semangat.

Suasana semakin panas, dan Zainal yang masih berdiri di depan, tersenyum puas dengan antusiasme yang tercipta. Tapi tiba-tiba, suara dari pengeras suara terdengar lagi.

"Abang yang pake almet merah, sini maju bang!" Teriakan itu membuat Sarah terkejut, lalu dia menoleh ke arah Zainal yang kini melangkah maju, tampak bangga dengan sorotan orang-orang.

Namun, saat Zainal hampir mencapai tengah kerumunan, suara pengeras suara kembali terdengar. "Maju bang, cewek yang di samping lu ajak juga!"

Sarah yang masih bingung, tak sempat menolak saat Zainal meraih tangannya dan menariknya untuk ikut maju. Mereka berjalan menembus lautan manusia yang mengiringi mereka dengan sorakan.

"Bang, ga usah pegang-pegang juga!" teriak seseorang dari pengeras suara, membuat Zainal mengangkat kedua lengannya, memberi isyarat minta maaf.

Sarah hanya bisa menghela napas. Di depan orang banyak, Zainal tetap dengan sikapnya yang santai. Mereka berdua akhirnya berdiri di depan, dengan Zainal yang masih menatap penuh percaya diri.

"Disini adem," ujar Zainal, sambil menatap sekitar yang jauh lebih tenang.

Sarah mengerutkan dahi. Memang benar, di sana lebih adem, tapi seharusnya tak perlu bicara di depan orang banyak juga. "Minum da," lanjut Zainal sambil menyodorkan botol air mineral kepadanya.

Sarah menatapnya bingung. "Da?" Dia menautkan alisnya, merasa bingung dengan sikap Zainal yang seakan tidak peduli dengan situasi.

Zainal justru tersenyum nakal, "Bunda," jawabnya sambil terkekeh, seolah tidak merasa bersalah.

Sarah hanya bisa menggelengkan kepala, matanya sudah penuh dengan kejengkelan. "Ga jelas lu," jawabnya.

Namun Zainal tetap tersenyum. "Tapi mukanya sampe merah gitu," tambahnya, menciptakan kesan bahwa dia tak benar-benar menyesal.

Sarah pun melontarkan satu pukulan ringan di perut Zainal. "Zainal," ujarnya dengan kesal, tetapi hati Sarah tidak bisa menahan tawa kecil yang akhirnya keluar begitu saja.

Zainal hanya tertawa kecil, merangkul bahu Sarah tanpa berkata-kata lagi. Dalam keramaian itu, hanya ada mereka berdua yang merasa seakan dunia ini milik mereka berdua saja.

Sarah menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mungkin Zainal memang aneh, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang sulit untuk diabaikan. Setiap sikapnya yang tampak dingin dan sedikit mengesalkan, justru semakin menguatkan perasaan yang sudah ada dalam hati Sarah.

Ketika mereka kembali ke sisi kerumunan, Zainal tak melepas genggaman tangannya. Mereka berjalan berdampingan, seolah tak ada yang bisa mengganggu kedekatan itu, meskipun dunia seakan berputar begitu cepat di sekitar mereka



Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang