Zalora Pov
Setelah berbelanja di pasar tadi aku langsung berjalan menuju persawahan di pinggir pasar tadi.
Suasana disini sangat asri dan sejuk aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku menghirup udara segar seperti ini.
Sejak kecil aku selalu hidup di kota yang bisa dibilang banyak polusi akibat kendaraan dimana-mana dan aku dikelilingi oleh harta dan kasih sayang yang berlimpah. Berbeda dengan pemilik asli tubuh ini yang harus hidup seorang diri dan harus banting tulang untuk masa depannya nanti, bahkan orang tua kandungnya pun tidak perduli (?)
Aku kasihan dengan hidupnya, apakah ia sudah tenang di atas sana? Atau mungkin- ah, sudah lupakan mari kita nikmati pemandangan yang indah ini.
"Bagus banget pemandangannya gila! Ini mah harus diabadikan." seruku
Aku mengambil ponsel dari saku lalu membuka kamera aku memilih opsi potret.
Cekrek..cekrek..cekrek
Banyak gambar yang aku ambil. Di tubuhku dulu aku sangat suka mengambil gambar dari memotret kegiatan sehari-hari, langit, pohon, jalan, bahkan makanan sekalipun. Setelah itu aku sering post di akun sosmed aku.. hehe random ya..
Aku suka yang namanya ketenangan.
Tapi aku benci kesunyian.
Melihat pemandangan disini aku sangat nyaman apalagi banyak angin sepoi-sepoi dari berbagai arah membuatku terkantuk - kantuk.
Wush...
"Apaan tu?" aku menengok ke samping.
'Nona cantik..'
'Kembalilah bersama keluargamu, disana ada belahan jiwamu yang hilang.'
Bulu kudukku serasa berdiri. Suara apa tadi? Apa ada seseorang selain aku disini? Tidak mungkin.
"Siapa?" tanyaku pelan
'Pergilah dari desa ini secepatnya nak.. Akan ada tragedi mengerikan yang akan datang dalam waktu tiga minggu ini padamu..'
'Cepatlah. Dan cari keluargamu di kota asalmu.'
"Lo siapa?! Nggak usah ngada - ngada deh!"
'Saya [s••••r]. Sampai jumpa nak,'
Napas ku memburu keringat dingin mulai keluar dari tubuh ku. Apa ini? Tidak mungkin ada orang semacam itu didunia yang damai ini kan?
Setelah kejadian aneh di sawah tadi aku memutuskan untuk kembali kerumah.
Aku menenangkan diri setalah dirasa sudah tenang aku akan mulai memasak, ya meskipun cuma membuat nasi goreng setidaknya aku bisa bertahan dari lapar untuk hari ini.
****
Keesokan harinya.
"Hari ini gue harus berangkat ke sekolahnya si Zalora ori, biar alpa nya kagak kebanyakan."
"Sekalian nyari tau maksud dari perkataan seseorang kemarin,"
Tok..tok..
"Lora ayo berangkat bareng atuh," panggil Dini dari luar, Zalora mengabari Dini untuk menjemputnya pagi ini.
"Iya, yuk berangkat." ucap Zalora
"Kamu teh udah beneran tidak sakit kan? Takutnya teh tiba-tiba pingsan cenah kamu," tanya Dini
"Udah tenang aja gue gak papa kok," ucap Zalora memastikan.
"Oke atuh,"
Mereka berangkat menggunakan motor matic milik Dini.
****
"Aku berangkat mah, assalamualaikum." pamit Zelinna menyalimi tangan sang mama.
"Waalaikumsalam. Hati-hati sayang, belajar yang rajin ya." balas mama Hani.
Zelinna tersenyum sambil melambai tangan pelan lalu masuk kedalam mobil.
›International High School.
Zelinna turun dari mobil. Ia melangkah masuk ke dalam sekolah mencari kelas yang ia tempati.
Sebelum kesini Zelinna sudah diberi tahu kelas apa yang ditempati olehnya dari mama Hani.
Class 2-A
Adalah kelas yang Zelinna dan temannya tempati bersama.
Ia membuka pintu secara perlahan lalu masuk kedalam.
"OMG Zelinna!" teriak seseorang dari dalam kelas.
"Lo gapapa beb? Ada yang sakit? pala lo masih ada kan??" heboh Olivia sambil membolak-balik kan tubuh Zelinna. Masih ingat dengan Olivia? Kalo gak inget balik ke prologue deh.
"Berisik. Kamu siapa?" tiga kata yang keluar dari mulut Zelinna berhasil membuat seisi kelas terdiam.
Tidak mungkin kan seorang Zelinna si primadona sekolah lupa sama sahabatnya sendiri? Gak mungkin. Kira-kira seperti itu yang mereka pikirkan.
"Na? Mentang mentang kagak ketemu seminggu aja lo sok lupa gitu sama gue? Jahat emang" ucap Olivia mendramatis.
'Apa dia teman dari pemilik tubuh ini ya?' batin Zelinna.
"Anu.. Maaf aku hilang ingatan sebenarnya jadi-"
"APA?!" Semua muris Class 2-A terkejut lalu mulai merubungi Zelinna meminta penjelasan.
"M-maksud lo amnesia Na?" tanya Bima.
"Kok bisa? Sejak kapan?" timpal Evan
"Nana ya ampun kenapa lo nggak bilang ke kita?? Gue merasa jadi sahabat yang gak guna tau nggak," lirih Olivia dengan isakan kecil.
"Bukan cuma lo Lip, kita juga merasa gak guna, sahabat nggak ada kabar kita malah diem aja. Maaf," tambah Bima
"Apa jangan-jangan lo absen selama seminggu ini karena.." tebak Jakah si ketua kelas yang kelakuannya di luar nalar tapi gitu-gitu nilai nya paling tinggi di kelas.
"STOP! Tanya itu satu satu, pusing ini kepala aku!" potong Zelinna lalu duduk di bangku ketiga dari depan pas samping jendela.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bertukar Jiwa
RandomZelinna Amaira Namata putri sulung dari pasangan Hendra Namata dan Hania Citra Namata. Kepopuleran, kekayaan, kecantikan, kekuasaan semuanya ia punya. Namun apa jadinya jika semua itu sirna dalam sekejap mata? Zelinna yang hendak pulang dari caffe...