Chapter 11

4 0 0
                                        

"Jadi lo kecelakaan terus amnesia gitu Na? Maafin kita ya.." ujar Olivia merasa bersalah.

Kini di kantin IHS Zelinna dan teman-temannya sedang berkumpul di satu meja termasuk Zayn dan temannya Randi—adik Evan.

"Lupain masalah itu, aku mau memulai lembaran baru mulai sekarang. Gak masalah kan?" kata Zelinna.

Mereka saling pandang lalu setelah itu mengangguk ngerti.

"Kita bakal dukung apapun keputusan lo Na,"

Mereka pun mulai bercanda ria menghabiskan waktu istirahat bersama hingga bel masuk terdengar ditelinga mereka. Mereka segera masuk kekelas masing-masing dan mengikuti pelajaran berikutnya hingga waktu pulang pun tiba.

Di lorong sekolah menuju parkiran Zelinna berhenti melangkah. Ponselnya berbunyi ia lalu membuka dan melihat siapa yang mengirim pesan pada dirinya.

From: Mang Tio
|Non maaf mamang tidak bisa jemput hari ini, mobilnya tiba-tiba mogok non.

Ternyata Mang Tio supir pribadi Zelinna yang mengirim pesan.

"Pulangnya gimana ini? Naik bus uangnya gak ada." gumamnya bingung.

Zelinna memilih untuk mencari Zayn ke parkiran siapa tau adiknya masih disana.. eh? Adik pemilik tubuh ini maksudnya.

Nah itu dia anaknya. Tak perlu waktu lama untuk mencari keberadaan Zayn Karena baru masuk ke area parkir saja sudah kelihatan batang hidungnya.

"Zayn!" panggil Zelinna.

"Kakak ngapain kesini? Mang Tio nggak jemput?" tanya Zayn.

"Mogok. Aku ikut kamu pulang ya?" ujar Zelinna

'Gue baru nyadar kak Zelin pake nya aku-kamu bukan gue-lo lagi semenjak sadar dari koma. Emang amnesia merubah cara bicara juga ya?' batin Zayn bingung.

"Zayn? Boleh nggak?" tanya Zelinna lagi membuyarkan lamunan Sang adik.

"Eh, boleh kak."

Mereka pulang bersama menaiki motor vespa hitam milik Zayn. Jika ada yang bertanya kenapa tidak pakai motor sport seperti di cerita transmigrasi lainnya saja? Jawabannya Zayn belum boleh memakai motor yang gede seperti itu alasannya takut nyusruk dia. (Tinggi Zayn nggak tinggi tinggi banget tauu kakinya nggak nyampe—bisik jiwa Zelinna asli dengan jail)

 (Tinggi Zayn nggak tinggi tinggi banget tauu kakinya nggak nyampe—bisik jiwa Zelinna asli dengan jail)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sampai lah mereka dirumah. Zelinna dan Zayn masuk berbarengan melihat sekeliling rumah sepi, sepertinya mama sedang pergi keluar dan papa di kantor.

"Zayn, ada yang mau aku tanya sama kamu." ucap Zelinna menghentikan langkah Zayn.

Zayn berbalik badan kembali menghampiri kakaknya. "Mau tanya apa kak?"

"Nanti aja. Kamu bersih-bersih dulu sana, terus makan biar kakak buatin. Kamu mau makan apa?" ujar Zelinna

Zayn mengedipkan matanya beberapa kali, "Ini beneran kakak aku? Kak Zelin nggak sakit kan?" punggung tangannya menyentuh dahi Zelinna mengecek apakah kakaknya ini sakit atau tidak.

"Enggak panas.."

Zelinna gelagapan sendiri, "Y-ya beneran kakak kamu lah, terus siapa lagi.."

"Nggak kok kak tumben aja gitu, biasanya kan kakak kalo mau masakin aku kudu adu bacot dulu baru dimasakin," Zayn terkekeh geli mengingat kenangan dimana ia sering ribut dengan Zelinna.

Apa aku jahat ya sudah membohongi keluarga ini? Tapi ini bukan keinginanku..

Zelinna tersenyum lalu menepuk pundak sang adik, "Jangan sedih gitu mukanya. Kali ini kakak bakal masakin tiap hari deh buat kamu, mau?"

"Gak bohong kan? Kalo gitu aku mau dimasakin nasi goreng spesial tiap hari deh kak,"

"Nggak. Siap tuan muda Zayn!" setelah itu mereka tertawa dengan kelakuan mereka sendiri.

Selesai bersih-bersih dan memasak nasi goreng untuk dirinya dan Zayn untuk makan siang tadi ia pun kembali ke kamar.

Zelinna Pov

Dari atas balkon ini aku bisa memandang jalanan yang padat akan kendaraan.

Aku menatap langit dan berharap ini hanya mimpi jika terbangun nanti aku masih berada di tubuh lamaku.

Namun rasanya semua ini nyata seperti bukan mimpi ataupun khayalan.

Apa kalian pernah berpikir kalau perpindahan jiwa itu nyata?

Awalnya aku tidak pernah membayangkan kalau semua itu bisa terjadi. Tapi sekarang aku percaya jika semua itu 'nyata' dan kini terjadi padaku.

Entah ini hukuman untukku atau kesempatan dari Tuhan yang telah mendengar kata terakhirku di tubuh sebelumnya.

Aku tidak tau harus bersyukur atau sedih dengan situasi saat ini. Aku merasa bersalah dan tidak enak dengan keluarga pemilik asli tubuh ini.

Aku cukup senang karena dikeluarga ini aku bisa merasakan apa itu kasih sayang dan hangatnya keluarga.

Di tubuhku sebelumnya aku sering ditinggal oleh orang tuaku untuk kerja karena ekonomi kita yang pas-pasan waktu itu. Sampai aku lupa kapan terakhir kali aku berkumpul bertiga dengan mereka.

Mereka berangkat pagi hari dan pulang larut malam saat aku sudah tertidur dan menaruh uang jajan untukku di samping kasur.

Aku tidak tau mereka bekerja apa sampai harus pulang larut malam seperti itu, aku merasa kasihan pada orang tua ku dulu.

Kembali ke pembicaraan awal.

Oh iya aku belum memperkenal kan diri. Baiklah.

Namaku Zalora Almaira N. Sedari kecil aku hidup bertiga dengan kedua orang tuaku di desa yang mungkin bisa dibilang jauh dari kota jakarta.

Dan kalau kalian bertanya singkatan 'N' di belakang namaku itu apa? aku juga tidak tau itu ada singkatannya atau tidak.

Yang terpenting jika aku bertemu dengan jiwa asli pemilik tubuh ini di dunia atau di akhirat nanti aku akan meminta maaf karena tidak sengaja telah merebut tempatnya.

Tok..tok..tok..

Ah, sepertinya itu Zayn yang mengetuk. Sampai jumpa.

Bertukar JiwaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang