Sudah terhitung dua minggu jiwa Zelinna menempati tubuh Zalora. Banyak yang telah ia lalui di tubuh ini. Dari mulai teror yang ia dapat dari seseorang dan ternyata orang itu adalah orang yang sama yang telah menganiaya pemilik tubuh ini. Hingga kini sebuah tragedi mengerikan muncul di mimpinya berulang kali, entah apa maksud dari mimpi itu. Atau mungkin ini yang dimaksud oleh 'suara' yang ia dengar di sawah minggu lalu? Pusing. Zalora lebih memilih untuk tidak memikirkannya sekarang.
Lebih baik Zalora bertanya saja pada 'suara' itu lagi. Zalora pun bergegas ke sawah untuk meminta penjelasan dari 'suara' itu.
"Suara aneh! Lo denger gue kan?! Apa maksud dari mimpi gue. Dan di setiap mimpi pasti ada suara lo yang buat gue bangun dari mimpi buruk itu!" teriak Zalora menggema di tengah - tengah sawah. Untung saja sawah sedang sepi petani jadi teriakan Zalora tidak di dengar oleh para petani yang sedang bekerja.
"Suara aneh!! Lo denger gue gak sih?!" Teriaknya lagi kali ini lebih keras, berharap 'suara' yang dicari mendengarnya.
Angin berhembus kencang suasana pun berubah menjadi sedikit dingin.
'Saya disini nak. Ada perlu apa kau berteriak mencariku?' Zalora berputar mencari wujud dari suara aneh itu. "Suara aneh! Kasih tau gue maksud dari mimpi buruk itu.. Gue nggak mau semua orang di desa ini celaka," ucap nya lirih.
Kini angin yang berhembus lebih dingin dan menusuk kulit dari pada yang tadi. 'Hm... apakah kamu ingin tahu cara terbebas dari teror mimpi itu? Sebuah mimpi yang di kirim oleh orang tua angkatmu?' Mendengar apa yang suara itu ucapkan membuat Zalora bingung. Tidak mungkin kan orang tua angkatnya sejahat itu.
"Maksud lo apa sih, mereka nggak mungkin sejahat itu sama anaknya sendiri. Apalagi dari cerita Dini mereka baik banget sama Zalora. Nggak mungkin kan.." ucap Zalora tak percaya. Suara aneh itu terkekeh, 'Ya, mereka memang baik dan sayang pada Zalora, tapi, apakah kamu Zalora yang sebenarnya? Jelas bukan kan.' ucap suara itu.
Zalora mengusap wajahnya gusar. Ia sudah lelah dan pasrah, ia hanya tidak ingin warga sini terkena imbasnya gara - gara dirinya. "Oke, gue emang bukan Zalora yang asli, tapi please kasih tau gue cara mencegah nya.." Mohon Zalora.
'Baiklah, sepertinya kamu sudah sangat putus asa, nak. Biar ku beri tahu caranya...' Suara aneh itu memberi tahu apa yang Zalora inginkan, tetapi sebagai gantianya, Zalora harus pergi sejauh mungkin dari desa ini.
"Oke, kalo itu adalah cara satu - satunya akan gue lakuin! " ucapnya bersemangat.
o0o
Dua hari telah berlalu sejak percakapannya dengan suara aneh itu, kini Zalora akan menjalankan tugasnya. Dimana tugas itu akan menyelakatkan semuanya dari teror yang akan menjadi malapetaka bagi warga desa ini, entah itu tugas yang mulia atau sebaliknya.
Zalora tidak peduli. Ia siap dengan resiko apapun itu, asalkan nyawa banyak orang selamat.
Di sebuah rumah tak berpenghuni ia menaruh sebuah kotak berukuran sedang di atas meja bundar penuh benda tajam.
'Kamu harus memenggal kepala seseorang untuk dijadikan tumbal pada ayah angkatmu, nak. Karena hakikinya ayah angkatmu itu bukanlah manusia, melainkan seorang iblis yang menyamar dan menikah dengan ibu angkatmu, Wulan.' ucap suara aneh itu mengejutkan Zalora dengan kenyataan tak terduga.
'Nama aslinya bukanlah Joko, tetapi Jaxiem, sang iblis penyesat manusia. Saya di sini bertugas untuk membimbingmu, menghentikan perbuatan keji Jaxiem. Meskipun harus dengan perbuatan keji juga.' ucapnya lagi.
"Tapi, emang nggak ada cara lain kah? Nggak harus dengan cara membunuh juga," balas Zalora tak habis pikir.
'Sayangnya tidak ada, dan itu harus kau lakuakan dua hari lagi saat malam bulan purnama tiba. Di sebuah rumah kosong tepi danau, kau harus kesana sendirian. Bujuklah ayahmu, hanya kau dan Wulan yang ayahmu sayangi.' kata suara itu lagi.
"Oke, kalo itu adalah cara satu - satunya akan gue lakuin! Meskipun itu hal keji sekalipun akan gue lakuin!"
Zalora mengingat percakapannya dengan suara itu dua hari lalu yang mengharuskannya melakukan hal keji ini. Ia menatap sendu setiap sudut rumah. "A-ayah..? Lora disini, ayah Lora mohon jangan hancurin desa ini hanya gara - gara perbuatan gadis itu terhadap Lora, ayah. Cukup gadis itu saja yang di hukum, jangan seisi desa ini ayah.. Kasihan mereka,"
Asap hitam mulai berkumpul menjadi satu membentuk sebuah wujud manusia dengan tanduk di kepalanya juga sebuah rantai yang melilit di leher iblis itu. "Aku tidak peduli! Siapa kau, hah! Dimana putriku yang sebenarnya? Rohku sudah tersegel, aku tidak bisa menemuinya lagi. Wulan? Wulan tewas mengenaskan di tangan para penjahat itu! Bawa kembali jiwa putriku kesini atau...kalian semua hancur!?" gertak Jaxiem.
"Baik, sepertinya gue emang nggak bisa gantiin posisi dari jiwa ni tubuh. Tapi, mungkin aja Jiwa Zalora masih hidup tapi berada di raga orang lain, kaya gue contohnya." ujar Zalora menyakinkan Jaxiem.
"Kalau memang iya, apa yang akan kau lakukan untuk mengembalikan putriku ke sisiku, hah?! Kalau dia tau aku bukanlah seorang manusia melainkan seorang iblis apakah dia akan marah? Apa yang akan kau lakukan dasar bocah!" lagi dan lagi iblis itu terus menggertak Zalora, tapi sang empu tetap tenang meskipun di dalam hati berkata lain.
'Sialan iblis jelek! Kalau pun gue punya kekuatan yang sama bakal gue bikin iblis geprek lu!' batin Zalora misu - misu.
Zalora menarik napasnya dalam sebelum berbicara. "Gimana kalo kita bikin kesepakatan? Gue cari jiwa nya Zalora, dan lo.. iblis jelek! Lo jangan lakuin apa - apa sama warga sini. Intinya gue udah bawa kepala orang yang udah lukain anak angkat lo beberapa minggu yang lalu, ngerti?"
Terlihat iblis itu sedang menimang tawaran dari Zalora, setelah dipikir - pikir Jaxiem pun mengangguk setuju. "Baiklah gadis muda, saya menerima tawaranmu. Tolong temukan putriku dan bawa dia kemari sebelum bulan purnama yang ketiga datang, perkiraan sekitar dua bulan yang akan datang." ucap nya.
"Buset cuma di kasih waktu dua bulan, kalo jiwanya beneran udah ilang gimana blis?" ucapnya blak - blakan. Jaxiem di buat geram oleh tingkah gadis berwujud putrinya ini, "Saya tidak punya banyak waktu lagi, gadis nakal. Lambat laun wujud ini akan hilang dengan sendirinya begitupun dengan jiwaku, tapi dengan kau bawakan tumbal itu saya akan bertahan walau sebentar."
"Oke, selamat menikmati. Besok gue berangkat ke jakarta sama Azeril buat nyari anak lo, intinya lo jangan macam - macam sama warga desa ini, ngerti? Gue sampe rela bunuh orang demi keselamatan desa ini. Udahlah gue tinggal dulu, bye." ucap Zalora hendak melngkah keluar sebelum di setop oleh Jaxiem.
"Apalagi iblis jelek?" tanya Zalora jengkel.
"Pakailah kalung ini untuk berjaga - jaga. Kau juga bisa menghubungiku lewat kalung itu, jika terjadi apa - apa jangan sungkan untuk menghubungiku. Karena bagaimana pun, raga di hadapanku ini adalah raga dari gadis yang sangat saya sayangi dan cintai setelah Wulan." setelah memberikan kalung itu pada Zalora, wujud Jaxiem mulai pudar dengan perlahan. Sebelum sepenuhnya menghilang, Jaxiem meninggalkan senyum tulusnya.
"Gue baru tau ada iblis yang tulus mencintai dan menyayangi seorang manusia, ya...meskipun nggak semua manusia sih, udah lah mending pergi. Lama kelamaan serem anjir," Zalora pun pergi dari tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bertukar Jiwa
RandomZelinna Amaira Namata putri sulung dari pasangan Hendra Namata dan Hania Citra Namata. Kepopuleran, kekayaan, kecantikan, kekuasaan semuanya ia punya. Namun apa jadinya jika semua itu sirna dalam sekejap mata? Zelinna yang hendak pulang dari caffe...
