Prologue

55 4 1
                                    

Zelinna Amaira Namata gadis cantik dan kaya-raya itu kini sedang berkumpul dengan teman-temannya di sebuah caffe.

Tak terasa hari sudah mulai sore, mereka memutuskan untuk segera pulang.

"Eh pulang yuk, udah sore" ujar Olivia, teman dekat Zelinna.

"Ayok lah, nanti diceramahin ibunda ratu lagi kalo ke sore-an" sahut Bima, cowok humoris+random, teman Zelinna.

"Kalian duluan aja, gue masih mau disini,"

"Yakin?" tanya Evan, yang paling lurus diantara mereka.

"Iya Pan~, udah kalian duluan sana hush hush.." kata Zelinna

"Yaudah, kita pergi ya.. bye," ucap mereka lalu meninggalkan Zelinna sendiri.

Zelinna menghela napas panjang perasaannya tidak enak sejak tadi seperti akan ada hal tak mengenakkan akan terjadi padanya.

Setelah berdiam diri beberapa menit Zelinna akhirnya memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah gelap.

Ia melangkah menuju halte bus, Zelinna lupa membawa kendaraan. Mau menghubungi orang rumah pun percuma ponselnya lowbat.

Zelinna duduk menunggu bus datang, namun sepertinya sudah tidak ada bus lagi di jam segini.

huh.. masa harus jalan kaki gitu? hp pake mati segala lagi! kan susah mau pesan taxi juga.

Zelinna menggerutu dalam hati, Ia lalu memilih untuk berjalan siapa tau ada taxi kosong yang lewat.

Namun saat baru sampai di persimpangan jalan ia melihat ada anak kecil yang hendak menyebrang jalan dan dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang ke arah anak itu.

Zelinna reflek berlari ke arah anak kecil itu ia mendorong tubuh mungil itu kepinggir jalan.

Belum sempat Zelinna menyelamatkan diri mobil yang melaju sudah ada didepan mata. Zelinna memejamkan matanya pasrah. Dan dalam hitungan detik..

Brakk..

Krettt..

Citt..

Tubuh cantik Zelinna pun terpental jauh dengan darah mengalir di tubuhnya bahkan di hidung, kepala dan mulutnya.

Pandangan mata Zelinna nampak pudar seluruh tubuhnya serasa sakit semua.

Terdengar banyak suara orang yang mendekat, bukannya menolong panggil ambulans atau apa ini mereka lebih asyik merekam dan mengambil gambar. Memang ya manusia jaman sekarang. (geleng kepala)

"Mah, pah, maafin Zelin yang nggak nurut sama kalian. Zelin sering langgar perintah dari kalian, Zelin sering membantah ucapan kalian, Zelin juga sering khilaf ngambil uang di dompet papa buat beli bakso di mang Agus maafin Zelin ya mah, pah, Zelin udah jahat ninggalin kalian duluan. until we meet in the afterlife." batin Zelinna miris dengan air mata yang mengalir lalu matanya pun terturup.

Sementara dirumah Zelinna.

Prang..

"Astaga, kenapa figur foto Zelin jatuh? perasaanku tidak enak," kata Hania Citra Namata-mama Zelinna.

"Ada apa mah?" tanya seorang pria paruh baya dari arah tangga, Hendra Namata-papa Zelinna.

"Pah, perasaan mama nggak enak pah, anak kita belum pulang sampai sekarang" ujar Hani panik.

"Kamu tenangin diri kamu, kita coba telfon Zelin oke?"

"Iya pah, cepetan,"

Sudah setengah jam lebih mereka mencoba untuk menghungi Zelinna namun jawabannya tetap sama hanya suara operator yang terdengar.

Tanya ke teman-teman Zelinna katanya mereka terakhir kali bertemu dengannya di caffe.

Pas sudah didatangi Zelinna sudah pergi sekitar dua jam yang lalu.

"Kamu dimana sih sayang? mama khawatir.."

Drett..drett..

"Siapa pah?"

"Nggak tau mah, coba papa angkat," lalu Hendra mengangkat sambungan telponnya.

"...."

"Iya benar, saya papa nya. Ini dengan siapa ya?"

"...."

"...."

"Baik, saya segera kesana."

tut..tut..

"Mah Zelin kecelakaan,"

"Apa?! Zelin, ayo pah kita susul ke rs!"

****

Di hari yang sama namun di tempat yang berbeda.

"Seret dia ke gudang belakang!"

"Lepasin aku, salah aku teh apa sama kalian?"

"Banyak tenan tau ndak! Kau teh sudah merebut peringkat satu milikku! Beasiswa, pokoknya teh akeh!"

[Akeh = Banyak]

"Aku tidak pernah merebut itu!"

"Wani kamu!? Ayo Fi seret perempuan murahan ini!"

[Wani kamu? = Berani kamu?]

"Siap atuh Cha,"

"Lepas!"

Mereka menyeret seorang gadis tak bersalah kedalam gudang belakang sekolah yang sepi dan berdebu.

Prang..

Bugh..bugh..

Tak...

krek..

"T-tolong.. berhenti.."

"Hahahaha! lihat Fi, wadon kaya dia emang pantes manjing lemah, hahahaha!"

(Lihat Fi, Cewek seperti dia memang pantas masuk tanah)

"Mau kita apain lagi Cha?"

"Udah biar aja, entar juga isdet dia."

Mereka pergi meninggalkan gadis itu yang sedang sekarat.

"Jahat, mereka jahat.. apa salah aku? Tuhan biarkan aku bahagia meski hanya sekali Tuhan.." Setelah itu hilang sudah kesadarannya.

Bertukar JiwaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang