Angin malam semilir mengenai kulit putih mulus yang sedikit terbuka terkena terang rembulan. Gadis manis yang masih melamun. Meratapi nasib dirinya.
Lika liku hidup yang begitu melelahkan baginya. Ia sepertinya sudah tidak sanggup lagi. Memori segala kejadian yang telah berlalu terekam dalam otaknya. Hingga sebulir air mengalir membasahi matanya.
Dibalkon rumah sepi ini, ia teguhkan hatinya.
"Mian eomma, mian appa" ucapnya disela tangisnya. Salah satu kakinya sudah mencoba menaiki pagar balkon kamarnya.
Angin malam mulai kencang. Rambutnya sedikit berantakan terkena terpaan angin. Beberapa helai rambutnya menghalangi wajah cantiknya yang berderai air mata.
Sedang dari pintu yang baru terbuka pria itu mengeryit bingung. Kenapa tidak ada siapapun. Ia melangkah masuk. Melihat sekitaran. Hingga cahaya dari balkon karena ruangan kamar ini tak ada penerangan. Ia melangkah, tepat melihat apa yang terjadi didepan. Ia langsung berlari dan segera menarik gadis itu sampai jatuh pada pelukannya.
Beberapa detik terdiam. Nafas keduanya memburu. Masih dalam keterkejutannya. Pria itu langsung melepas pelukanya. Mengecek kondisi gadis itu dengan panik.
Ditanggupnya kedua pipi gadisnya dengan masih ada rasa panik pada dirinya.
"Gwencana? Apa yang terjadi hah? Apa yang kau lakukan?" Tanyanya namun bukan jawaban yang ia dapat. Justru tangisan yang semakin menjadi dan berakhirlah gadis itu jatuh pada pelukannya. Dielusnya rambut itu dengan sayang.
"Sudahlah semuanya baik-baik saja. Sudah" ucapnya berusaha menenangkan gadis dalam dekapannya dan membisikan sesuatu pada telinganya.
"Mianhe.. mianhe jisoo-a" ucapnya begitu sangatt pelan. Hanya keduanya yang mendengar
"CUT" teriak sutradara dan diiringi tepukan tangan takjub.
Gadis itu menghentikan tangis dan melepas pelukan dengan paksa. Enggan berlama-lama disitu ia berniat segera pergi sebelum sutradara mendekat kepada keduanya.
"Hebat. Benar-benar hebat jisoo a. Tidak salah lagi kau memang aktris yang begitu handal" sanjungnya. Sedang ia hanya membalas dengan senyuman. "Gumawo. Tapi kata-kata anda berlebihan. Aku harus kebelakang membenarkan riasanku . Mian" pamitnya yang mendapat anggukan dari sutradara itu.
" aku duluan hyung" ucap pria itu saat sang sutradara berniat menyapanya "haiss dasar bocah menyebalkan kau seokjin" sebalnya.
Di luar ruang rias setelah menunggu beberapa menit yang sudah berlalu akhirnya keempat manik itu kembali bertemu. Namun langsung diputus gadis itu yang berniat pergi.
"Tunggu" cegahnya sembari memegang lengan kanan gadis itu. Jisoo menyentak pengagan itu. Memasang wajah sebalnya
"Berhenti. Apa kau tak paham bahasa manusia hah?" Omelnya. Sedang seokjin terkejut. Gadis lembutnya telah berubah.
"Jisoo a. Apa...apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku?" Ucapnya menghentikan langkah gadis itu yanh berniat pergi.
Namun tak ada jawaban. Gadis itu kembali melangkah meninggalkannya dalam kesendirian. Pria itu terduduk menangis. Menutup air matanya melihat kepergian gadis yang begitu teramat dicintanya.
Sedang dipersimpangan didepan sana. Sama terlukanya gadis itu yang juga menangis disebalik tembok. Pertahanannya runtuh. Hatinya sakit.
Hingga dering ponselnya menghentikan laju tangisnya. Ia lihat "eomma❤️" tertera di panggilan itu. Ditekannya icon hijau dan ia berjalan menuju mobilnya sembari membenahi wajah basahnya penuh air mata. Dibantu managernya yang sudah berdiri di depan kendaraan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
FOR YOU
FanfictionLangkah kaki itu kian melemah. Melihat gadis yang begitu dicintanya kini tengah diam didepan sana. Melihat kearahnya dengan tatapan penuh luka. Wajah ayunya terlihat menyedihkan. Begitupun ia. Keduanya sama-sama terluka. "Lisa-aa ..hiks a..aku ti...
