17. SAAT SEMUANYA BERUBAH

2 0 0
                                        


17. SAAT SEMUANYA BERUBAH

Semua bisa berubah kapan saja, manusia hanya perlu menunggu kapan waktunya tiba.

~Lakeisha Agnindhiya

***

Hari ini di sekolah, seperti hari-hari sebelumnya. Masih dengan orang-orang yang hilir-mudik ke sana kemari. Menjelajahi sudut sekolah yang nantinya akan menjadi kenangan. Sama seperti di kantin, sesaknya tempat itu sudah terobati dengan makanan dan minuman yang dinanti. Di meja pojok, terdapat Keisha dan Jazira dengan semangkuk bakso juga segelas es teh  yang menemani mereka.

"Sha, gimana sama orang tua lo?" Jazira memulai obrolan.

Dengan pikiran yang berkecamuk, Keisha membalas lesu, "Sekarang belum ada yang berubah, Ra."

Semua perihal menanti. Keisha sudah lama menunggu waktu itu tiba. Waktu yang indah disaat orang tuanya berubah. Berubah seperti dulu, sebelum kejadian itu.

"Sabar, ya, gue yakin lo kuat buat nunggu waktunya tiba." ucap Jazira memberi semangat.

"Iya, makasih, Ra. Gue ngerasa punya kakak lagi tahu ngga..." balas Keisha sambil bergurau.

Jazira tersenyum menguatkan, "Oh iya, tentang kak Lusi udah ada titik terang?"

"Sejauh ini masih dikit, Ra."

"Gue coba bantu, boleh?"

Keisha yang sedang menyendokkan bakso ke mulutnya menjadi terhenti, "Ngga perlu, Ra. Bukannya gue ngga mau nerima bantuan lo, tapi ini ngerepotin."

"Kok gitu si, Sha. Kita udah lama bareng-bareng, gue gak ngerasa direpotin.." Zira merubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut.

"Tapi gi—"

"HALLO SHA DAN RA YANG CANTIK-CANTIK IJAN DATANG!!"

Laki-laki dengan kemeja putih yang dilapisi dengan jaket berwarna kuning itu berteriak lantang dari arah pintu kantin. Di sebelahnya ada Niko yang menunduk menahan malu. Sementara di depan keduanya, Alzani dan Novan hanya berjalan santai dengan wajah dinginnya.

"Huh, kebiasaan kaleng rombeng ngalahin gue.." celetuk Zira ketika empat laki-laki itu sudah sampai di mejanya dan Keisha. Tentu, ucapan itu tertuju pada Ijan yang sekarang menggerutu.

"Lo apaan dah! Gue yang teriak, lo yang sewot." Ijan berucap demikiran sambil memelototi Zira.

"Lo cowok, Ijann! Kesel gue sama lo.." balas Zira ngegas. Niko berusaha menahan Zira untuk tidak membalas lebih, karena pacarnya itu sedang mengalami mens hari pertama. Dapat dipastikan akan marah-marah.

"Udah, ngapain berantem. Mending pesen makan sana, Jan." lerai Keisha, sangat tenang nada bicaranya.

Persahabatan itu memang perlu pertengkaran kecil untuk menguji seberapa besar pertahanan mereka. Untuk tadi, hanya sebuah perdebatan yang sudah biasa terjadi di lingkup persahabatan mereka berenam.

"Sha, nanti mau cari bukti tentang kak Lusi?" tanya Alzani yang dibalas tatapan menerawang oleh Keisha. "Boleh, gue pengen cari orang yang namanya Bulan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 31, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LAKEISHACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang