CHAPTER 01
「 ✦ Garis Dua ✦ 」
──── ୨୧ ────
-
Beberapa minggu sejak kejadian itu, Nayra jatuh sakit. Ia merasa tubuhnya tidak lagi bersahabat. Demam yang datang dan pergi, mual yang membuatnya enggan makan, serta pusing yang membuatnya lebih sering terbaring di tempat tidur. Hal ini membuatnya semakin cemas. Ia takut jika semua ini adalah tanda-tanda kehamilan. Kehamilan yang seharusnya tidak terjadi di usianya yang masih muda, terlebih dengan situasi yang rumit bersama Davian. Namun, Nayra terus meyakinkan dirinya bahwa ini mungkin hanya sakit biasa. Ia tidak ingin membuat dirinya semakin takut tanpa kepastian.
"Kalo lo masih belum sembuh, gak usah masuk sekolah dulu deh." Suara Arion, adik tirinya, memecah kesunyian. Anak lelaki berusia 16 tahun itu duduk di lantai kamar Nayra, sambil memijat kaki kakaknya yang terlihat lemas. Meski bandel dan sering membantah Laras, Arion punya sisi lembut yang jarang terlihat. Ia sangat menyayangi Nayra, kakak tirinya yang selalu melindunginya dari amukan mama nya.
"Gak bisa, Yon. Gue udah nggak masuk sekolah seminggu. Masa mau bolos lagi?" Nayra menatap adiknya dengan lemah. Tubuhnya terasa panas, tapi pikirannya jauh lebih berat.
"Ya kan guru-gurunya pasti ngerti, Kak. Bilang aja lagi sakit. Lagian, lo gak bakal bisa fokus juga kalo maksa masuk." ujar Arion santai, tapi tangannya masih telaten memijat kaki Nayra.
"Udah deh, Yon. Lo keluar aja. Gue mau tidur," ujar Nayra, mencoba mengusir adiknya agar tidak terlalu cemas.
Arion malah menyeringai. "Eh, Kak, minta duit dong. Gue mau pergi sama temen-temen."
"Malem-malem gini lo mau keluar? Lupa lo dulu pernah digebukin Bang Ian gara-gara keluyuran malem?" Nayra mengerutkan kening, menegur adiknya dengan suara lirih namun tegas.
"Ck, bawel banget sih, Kak! Ngambek gue sama lo!" Arion bangkit dengan ekspresi sebal, tapi ada kilatan usil di matanya. Ia tahu Nayra hanya ingin melindunginya.
Saat Arion keluar, Nayra menarik napas panjang. Pikirannya kembali melayang pada kondisi tubuhnya. Ketakutan itu datang lagi, menghantui seperti bayangan. Bagaimana jika benar-benar hamil? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana Davian akan merespon?
Namun, ia mencoba mengusir semua pikiran buruk itu. Yang terpenting sekarang adalah sembuh. Hanya itu yang bisa ia harapkan. Semoga ini hanya sakit biasa, Tuhan.
Keesokan paginya, sinar matahari yang lembut menyusup melalui jendela kamar Nayra. Namun, tubuhnya masih terasa lemas. Meski kepalanya sudah tak seberat semalam, pusing itu belum sepenuhnya hilang. Laras, mamanya, menatapnya dengan wajah khawatir saat Nayra bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Hati-hati ya, Rel. Nayra kepalanya masih pusing," ujar Laras pada Jarrel, yang menjemput Nayra pagi itu.
"Iya, Tante. Nayra pasti baik-baik aja kok sama saya." balas Jarrel sopan, memberi senyum yang menenangkan.
Jarrel membuka pintu mobil untuk Nayra, lalu masuk ke kursi pengemudi. Di sepanjang perjalanan, suasana terasa aneh. Nayra duduk diam sambil menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana.
"Kamu kenapa, sayang? Masih sakit kepalanya, hm?" tanya Jarrel, matanya sesekali melirik Nayra sebelum kembali fokus ke jalan.
"Hah?" Nayra tersentak dari lamunannya. "Kamu ngomong sesuatu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, I Choose You [ ON GOING ]
Teen FictionSebuah insiden mengharuskan kedua pasangan siswa dan siswi yang masih duduk di bangku SMA untuk menikah. Nayra masih tidak menyangka jika kejadian hari itu langsung membuat kehidupannya berubah 180 derajat. Davian laki-laki asu yang membuat Nayra m...
![Still, I Choose You [ ON GOING ]](https://img.wattpad.com/cover/368981105-64-k652748.jpg)