• CHAPTER 19

1.9K 88 4
                                        

CHAPTER 19
「 ✦ Donkey  ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Pagi hari saat matahari belum menampakkan wujudnya, Nayra terbangun lebih awal dari biasanya. Ia segera menuju dapur dengan niat memasak sarapan. Akhir-akhir ini, Nayra memang sengaja bangun subuh untuk menghindari interaksi dengan Davian. Ia merasa lebih tenang saat rumah masih sepi, hanya ditemani suara gemericik air dari keran dan suara spatula yang menyentuh wajan.

Namun, pagi itu terasa berbeda. Langkah kaki berat terdengar mendekat. Nayra menoleh dengan kaget dan melihat Davian berdiri di pintu dapur. Ia bertelanjang dada, dengan rambut berantakan dan ekspresi masih setengah sadar. Matanya menyipit karena kantuk, namun bibirnya terkatup tanpa sepatah kata pun.

Nayra langsung menunduk, pura-pura sibuk mengaduk wajan di depannya.

"Tumben dia bangun sepagi ini?" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Davian tidak menjawab. Dia hanya bersandar di kusen pintu, matanya terpaku pada gerakan Nayra yang lincah di dapur. Suasana jadi canggung. Nayra merasakan tatapan Davian, tapi ia menahan diri untuk tidak menoleh.

"Ngapain?" suara Davian tiba-tiba terdengar, pelan dan serak karena baru bangun tidur.

Nayra tidak langsung menjawab. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada datar, "Emangnya kamu liat aku lagi ngapain? Ya masak lah!"

Davian menguap, masih terlihat mengantuk. Dia berjalan mendekat ke arah Nayra, berdiri di sebelahnya sambil memiringkan kepala sedikit, mencoba melihat apa yang dimasak Nayra.

"Baunya enak," gumamnya singkat.

Nayra mendengus pelan. "Ngapain sih kamu kesini," jawabnya ketus, mencoba menutupi perasaan canggung karena jarak mereka yang begitu dekat.

Davian tidak membalas. Ia hanya menguap lagi, lalu tanpa sepatah kata pun, berbalik menuju kamar mandi. Suara pintu kamar mandi yang ditutup lembut menjadi penutup kehadirannya yang tiba-tiba.

Nayra menghela napas panjang setelah Davian menghilang dari pandangannya. Tangannya memegang sendok kayu lebih erat.

"Kenapa juga dia harus bangun sepagi ini," gumamnya, setengah kesal dan setengah bingung.

Tak lama, Davian keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang menjuntai ke dahi, tetesan air masih menetes dari ujung rambutnya. Ia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang, memperlihatkan tubuh atletisnya yang basah akibat sisa air mandi. Langkahnya terdengar pelan di lantai rumah yang masih hening.

Nayra, yang sedang sibuk memotong sayur di meja dapur, tanpa sadar melirik ke arah suara langkah kaki itu. Begitu melihat Davian, matanya membelalak sejenak. Wajah Davian dengan rambut basah dan kilauan air di kulitnya membuatnya terlihat... terlalu tampan. Nayra bahkan lupa bernapas untuk beberapa detik.

Namun, ia segera menyadari keterpakuannya dan buru-buru menunduk, kembali memfokuskan diri pada sayur-sayur yang ada di depannya. Pisau di tangannya mulai memotong lebih cepat dari sebelumnya, mencoba mengalihkan pikirannya yang tiba-tiba tidak karuan.

Davian berjalan mendekati meja makan, mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air dari dispenser. Ia meneguk air sambil melirik Nayra sekilas.

"Kok Lo buru-buru banget motongnya? Takut sayurnya kabur?" tanya Davian dengan nada malas, sambil meletakkan gelas kosongnya ke meja.

Nayra hampir saja menjatuhkan pisau dari tangannya. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menjaga nada suaranya tetap normal.

"Diem kamu," jawabnya tanpa menoleh, meski wajahnya terasa panas karena malu.

Still, I Choose You [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang