• CHAPTER 24

1.9K 97 9
                                        

CHAPTER 24
「 ✦ Hospital ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Nayra dan Ratih tiba di rumah sakit dengan langkah cepat, meski hati mereka penuh kecemasan. Di ruang tunggu depan UGD, sudah ada Inez yang tengah menangis dengan wajah penuh kepanikan. Gerry, suaminya, berdiri di sampingnya, mencoba menenangkan meskipun ekspresinya terlihat tegang.

Begitu melihat Nayra datang bersama Ratih, ekspresi Inez langsung berubah. Tatapannya yang penuh air mata berubah menjadi tajam dan penuh kebencian. Dia berdiri, menyeka air matanya dengan gerakan cepat, lalu melangkah mendekati Nayra.

"Kamu!" seru Inez dengan nada penuh amarah, menunjuk Nayra tanpa ragu.

"Ini semua gara-gara kamu! Kamu memang pembawa sial! Sejak kamu datang ke dalam keluarga ini, saya dan anak saya selalu mendapatkan sial!"

Nayra tertegun. Ucapan itu menghujam hatinya seperti pisau. Dia mundur selangkah, tubuhnya gemetar, dan kedua tangannya secara refleks memeluk perutnya. Air matanya mulai mengalir tanpa bisa ditahan.

"Inez!" Ratih berseru dengan nada tinggi, berdiri di antara Inez dan Nayra, melindungi menantunya yang ketakutan.

"Apa-apaan kamu? Berani sekali kamu bicara seperti itu ke Nayra!"

Inez menatap Ratih dengan tajam. "Berani?! Mama lihat sendiri kan, gara-gara perempuan itu Davian jadi seperti ini! Kalau saja dia nggak ada di hidup Davian, anak kita pasti nggak akan mengalami kecelakaan seperti ini!"

"Nayra nggak ada hubungannya dengan kecelakaan Davian!" Ratih balas dengan tegas, suaranya meninggi, menunjukkan ketegasannya sebagai ibu yang selalu melindungi keluarganya. Dia kemudian memeluk Nayra yang semakin terisak.

"Kamu keterlaluan, Inez! Jangan pernah menyalahkan Nayra atas hal yang tidak dia lakukan!"

Gerry yang berdiri di samping Inez tampak cemas, mencoba menenangkan istrinya.

"Ma, cukup. Ini bukan waktunya buat cari-cari kesalahan. Davian butuh kita semua sekarang."

Ratih menoleh tajam ke arah Gerry. "Gerry! Sebaiknya kamu bilang ke istrimu itu untuk jaga ucapannya!" katanya dengan nada yang penuh wibawa.

Gerry menghela napas panjang, lalu meraih bahu Inez. "Sudah, ma. Jangan seperti ini. Kita fokus ke Davian dulu," katanya lembut namun tegas.

Namun Inez tetap tidak mau mundur. "Aku hanya bilang yang sebenarnya, Pa! Perempuan itu—"

"Ma, diam!" Gerry akhirnya memotong dengan nada tegas. "Cukup!"

Inez tampak terkejut mendengar Gerry meninggikan suara. Dia mundur sedikit, meski raut wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan terhadap Nayra.

Ratih kembali menenangkan Nayra yang masih menangis di pelukannya. "Nayra, jangan dengarkan dia. Kamu nggak salah," bisiknya lembut.

Di luar ruang ICU, suasana terasa mencekam. Dokter akhirnya keluar dengan ekspresi serius di wajahnya. Ratih, yang merupakan nenek Davian, segera berdiri, sementara Inez, ibunya, mendekat dengan langkah terburu-buru.

"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Inez dengan suara bergetar.

Dokter menghela napas pelan sebelum menjawab. "Anak anda mengalami beberapa luka serius akibat kecelakaan tadi malam. Ada patah tulang di lengan kanannya, dan kepalanya mengalami benturan keras. Saat ini, kami telah melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan internal. Kondisinya stabil, tapi kami perlu memonitor dengan ketat selama 24 jam ke depan."

Still, I Choose You [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang