• CHAPTER 34

897 48 6
                                        

CHAPTER 34
「 ✦ Shadow ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Sudah berminggu-minggu berlalu sejak ia bertemu dengan Davian di kediaman Ratih. Pagi tadi, Nayra kembali bertemu lagi dengan lelaki itu di sidang pertama perceraian mereka. Ya, tiga Minggu lalu Nayra resmi menggugat cerai Davian ke pengadilan.

Pada sidang pertama hanya dilakukan pemeriksaan identitas para pihak. Setelah itu, hakim meminta Nayra dan Davian untuk menempuh proses mediasi sebelum persidangan dilanjutkan.

Namun, proses mediasi belum selesai hari itu, sehingga mediasi akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Dan sekarang, Nayra berada di kamarnya. Mengingat bagaimana Davian sangat bersikeras menolak perceraian di hadapan hakim maupun mediator membuat dirinya merasa pusing.

Ceklek!

Suara pintu kamar terbuka membuat Nayra tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah pintu. Laras berdiri di sana sambil membawa secangkir coklat panas kesukaan Nayra.

Laras meletakkan cangkir itu di atas nakas, kemudian duduk di tepi tempat tidur. "Kamu mikirin apa?" tanya Laras dengan lembut.

Nayra tersenyum tipis lalu menggeleng, "enggak mikirin apa-apa kok, Ma," jawabnya.

"Yaudah kalau nggak ada apa-apa, Mama mau ke bawah dulu ya?" Nayra mengangguk, kemudian mengambil secangkir coklat panas yang tadi diletakkan Laras di nakas lalu menyesapnya.

"Oh iya." Baru saja beberapa langkah berjalan, Laras sudah membalikkan badannya menghadap Nayra kembali. "Tadi Papa telepon Mama, katanya dia minta maaf nggak bisa hadir di sidang pertama kamu tadi, mungkin dia ikut pas sidang kedua nanti."

"Iya, nggak apa-apa. Lagipula ada Mama juga kan yang nemenin aku?"

Laras tertawa pelan, "iyaa betul. Kalau gitu mama kebawah dulu ya, Nay."

Wanita paruh baya itu keluar dari kamar Nayra, menutup pintunya kembali.

Setelah Laras keluar, Nayra sendirian di kamar-merasa bosan. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah rak berisi buku-buku dan mengambil satu buku untuk di baca.

Baru membuka buku beberapa detik, handphone milik Nayra berdering. Terlihat nama 'papa' dilayar. Ia segera mengambil handphonenya kemudian menekan tombol hijau untuk menjawab.

"Halo? Kenapa, Pa?" Jawabnya sambil duduk di tepi tempat tidurnya.

"Nggak apa-apa. Papa cuma mau tanya sebenernya, gimana sidang kamu tadi? Lancar?" tanya Ervan.

"Lancar, kok. Tapi ya gitu, Davian masih ngotot nggak mau cerai."

Terdengar suara helaan nafas dari sebrang sana, "papa minta maaf nggak bisa hadir tadi, papa baru bisa pulang hari Rabu besok."

"Iya pa, Mama udah bilang kok tadi. Papa tenang aja."

Di seberang sana, Ervan kembali terdiam beberapa saat, seolah menahan sesuatu.

"Davian masih kayak gitu?" suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.

Nayra menghela napas pelan. "Iya. Di depan hakim sampai mediator... dia nggak berubah sama sekali."

Ervan terdengar menarik napas panjang. "Kalau kamu memang sudah yakin dengan keputusan kamu, Papa akan dukung."

Nayra menunduk, jemarinya memainkan ujung selimut di atas tempat tidur. "Aku capek, Pa..."

Still, I Choose You [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang