Padusan Jaran

18 3 0
                                    

Pov : Kelana

Aku dan Angga singgah disebuah desa bernama Pomahan, desa ini begitu asri, hawanya sejuk, ditambah lagi hamparan sawah bak permadani hijau sangat memanjakan mata. Selama disini aku dan Angga tinggal disebuah rumah singgah, yang tak jauh dari pendopo desa. Aku masih belum faham, apa tujuan Pak Wanto menyuruhku dan Angga pergi ke desa ini.

"Pagi mas Lana," sapa Pak Paryono saat menghampiriku yang sedang memandang indahnya persawahan.

"Oh pagi juga pak, mau kesawah pak ?" tanya dengan tersenyum ramah.

"Iya mas, monggo," ucapnya sambil berlalu menuju sawah miliknya.

"Hawanya seger yo Lan," ucap Angga sambil menghirup udara segar.

"Jelaslah, alamnya asri gini, beda sama di Malang," Jawabku sambil berjalan mendekati Angga.

"Aku kerasan disini Ngga, tapi aku juga masih bingung, apa ya maksud Pak Wanto ngirim kita kesini ?" Lanjutku.

"Haaahh, kayak gak tau Pak Wanto aja, paling juga kita di tes lagi," balas Angga kesal, sambil melempar kerikil kecil ditangannya.

Sore akhirnya tiba, setelah berkeliling desa dan menyapa warga sekitar, aku dan Angga kembali ke rumah singgah, bangunannya sederhana, hanya rumah dengan dinding dari anyaman bambu dan atap dari jerami, meskipun sederhana tapi rumah ini sangat bersih, sepertinya rumah ini memang disediakan bagi orang orang yang berkunjung lalu menginap di desa ini. Setelah merapikan barang - barang, aku dan Angga memilih untuk langsung tidur karena merasakan pegal yang luar biasa setelah perjalanan jauh.

Ditengah malam aku terbangun saat mendengar riuh orang bercengkrama, sesekali aku mendengar derap langkap pasukan berkuda. Rasa - rasanya suara ini tak jauh dari tempatku menginap. Aku merasakan dinding bambu disampingku bergetar karena derap langkah pasukan itu.

"Ngga... Ngga, tangi... kowe krungu pora ?" bisikku sambil menggoyangkan badan Angga yang masih terlelap tidur.

"Eeeemh, Ora..." jawab Angga singkat sambil memalingkanh badannya.

Tak puas dengan jawaban Angga, aku bangkit dari tempat tidur dan mencoba melongok keluar, barangkali aku menemukan jawaban dari rasa penasaranku. Namun saat aku membuka pintu, aku hanya mendapati kampung yang sepi, hanya terdengar suara jangkrik yang mengerik di persawahan. Aku memberanikan diri melangkahkan kaki untuk melihat keluar rumah. Ku nyalakan senter dan menyorot beberapa tempat yang kutengarai sebagai tempat asal suara. Saat aku menyorot ke arah sungai, tiba - tiba senterku padam. Beberapa kali aku ulangi mencoba menyorot arah sungai, tapi hal itu terus terulang.

"Sugeng rawuh" Suara lirih mengejutkanku dan membuat bulu kudukku merinding.

Aku melihat sekeliling, aku tak mendapati siapapun disana, aku mencoba memanggil Angga tapi tak mendapat jawaban. Sebenarnya aku ingin sekali mencari asal suara itu, tapi hawa dingin menghalangi langkahku. Aku kembali masuk ke rumah dan melanjutkan tidurku. Aku memilih menyimpan rasa penasaranku hingga pagi tiba, besok akan kutanyakan pada Pak Paryono, barangkali ia juga mendengarnya.

"Huuuuaaaahhh, Bangun Lan wes awan iki" Ucap Angga sambil meregangkan badannya.

Aku masih bergulat dengan selimut karena menahan kantuk akibat kejadian semalam. Namun aku teringat, aku ingin Menanyakan suatu hal pada Pak Paryono, aku segera melompat dari kasur, melemparkan selimutku pada Angga dan bergegas ke kamar mandi.

"Lan... kowe kesetanan po piye ? Kesusu banget" teriak Angga.

Setelah mandi, aku mulai bercerita pada Angga, tentang kejadian yang aku alami semalam.

"Eh Ngga, kowe semalem denger nggak ada suara langkah kaki kuda ?" Tanyaku sambil menyeruput kopi.

"Hah ?? Suara kuda ? Enggak tuh Lan, aku gak denger apa apa," Angga menyerengitkan dahi.

Langit KelanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang