"Lana berangkat dulu bu, Assalamualaikum" ucap Kelana sambil mencium tangan ibunya.
"Nak, perasaan ibu tidak enak, sebaiknya kamu hati hati ya" Jawab Ibu Kelana sambil merapikan jaket putranya.
"Ibu jangan khawatir,Lana bisa jaga diri" Kelana tampak menenangkan ibunya.
Sesaat setelah Kelana menaiki motornya. Datang dua orang laki - laki memakai baju serba hitam berboncengan yang berusaha menyabetkan parang yang dia bawa ke arah Kelana. Beruntung Kelana bisa menghindar.
"Woy sopo kowe ?" Teriak Kelana.
"Ada apa le ?" Ibu Kelana tergopoh - gopoh menghampiri anaknya.
"Ndak bu, ndak papa, hari ini Lana ndak ngajar dulu bu, Lana mau ketemu sama Angga ada keperluan penting" ucap Kelana sambil memacu motornya.
Kelana mengejar dua orang yang tadi hampir saja membuat nyawanya melayang. Melihat Kelana yang mengejarnya, dua orang tersebut semakin memacu laju motornya. Sampai tibalah di sebuah gang sempit, Kelana memilih jalan yang berbeda dari kedua orang tadi. Tepat diujung gang, Kelana sudah berdiri menyegat pemotor tadi.
"Berhenti kalian" sambut Kelana sambil berdiri di tengah jalan.
"Minggir gak kowe" ucap seseorang yang memegang setir motor itu.
"Kowe minggir, opo Parang iki kena lehermu" ancam satu orang lainnya sambil turun dari motor.
"Aku tidak akan pergi, sebelum aku tahu siapa kalian" tantang Kelana.
"Wahh cari mati nih anak, sikat lee" teriak pengemudi motor.
Terjadilah perkelahian antara Kelana dengan seseorang yang membawa parang tersebut, belakangan diketahui mereka adalah anggota dari Gagak ireng, pasukan khusus dari geng Sima Lodaya. Mereka terkenal lebih sadis dari anggota geng yang lain. Sesuai namanya "Gagak" yang memiliki arti pembawa kematian.
Pukulan demi pukulan berhasil ditangkis oleh Kelana. Sabetan Parang yang selalu mengarah pada lehernya selalu berhasil dihindari. Sejurus kemudian Kelana berhasil menendang anggota Gagak Ireng itu sampai jatuh tersungkur. Melihat temannya tergeletak tak berdaya. Satu orang lagi yang masih duduk diatas motor segera tancap gas meninggalkan tempat tersebut. Kelana segera menyeret lawannya yang sudah tak berdaya itu ke tepi jalan, lalu mengikat tangan dan kakinya.
"Ngga, temui aku di ujung jalan Sudirman sekarang, kamu bawa mobil aja, cepat" Ucap Kelana saat menelpon Angga.
Tak berselang lama Angga datang dengan mobil Xenia warna hitamnya.
"Wah, sopo iki Lan ? Kok keliatannya babak belur gitu" Tanya Angga yang keherenan.
"Dia anggota Gagak Ireng, pasukan khusus Sima Lodaya yang tadi pagi mau nyerang aku. Awalnya dia berdua sama temennya" Jawab Kelana.
"Lha terus ? Koncone ning ndi ?" Tanya Angga sambil menoleh mencari orang yang dimaksud Kelana.
"Udah kabur waktu liat temennya klenger gini" jelas Kelana.
"Wahh hebat kamu Lan, terus dia mau kita apain ?" Ucap Angga sambil mendekat ke orang tersebut yang masih belum sadar.
"Kita bawa aja ke markas, kita interogasi disana, kita tanya apa yang dia mau, dan siapa yang nyuruh dia" Jawab Kelana sambil mengangkat kaki orang tersebut.
Tawanan itu kemudian dimasukkan di mobil Angga dan dibawa ke tempat yang mereka sebut markas. Kelana mengikuti dengan motornya tepat dibelakang mobil warna gelap itu.
"Woy, dimana ini, lepaskan aku pemuda bangs*t" teriak orang itu ketika sadar dari pingsannya.
Braakk!!!
Sebuah tendangan tepat mengarah ke bibirnya.
"Diam kamu set*n, siapa yang menyuruh kamu" bentak Kelana.
"Cuih !! Tak sudi aku mengatakan siapa yang menyuruhku padamu" jawab orang tersebut sambil meludah ke arah Kelana.
Buuuk!!!
Lagi - lagi sebuah pukulan tepat bersarang di perut orang itu.
"Aakhh, kamu pikir, dengan menghajarku kamu bisa mendapat informasi dariku ? Iya ? Haha dasar bocah sial*n" jawab orang itu memancing emosi Kelana dan Angga.
Kelana ingin melayangkan lagi tendangannya, kali ini kepala orang tersebut yang menjadi incarannya. Namun tindakan itu dicegah oleh Angga.
"Tahan Lan, jangan kamu tendang, kalo orang ini sampai mampus, kita gak akan dapat informasi apa apa, setidaknya biarkan dia hidup, meskipun dia sudah remuk" Ucap Angga.
"Mas, gini aja, siapa namamu, siapa yang nyuruh kamu ? kalo kamu jawab, aku jamin kamu bisa pulang dengan selamat" tanya Angga dengan tenang sambil duduk disamping orang tersebut.
"Haha, kamu siapa ? Ikut campur saja, aku tidak ada urusanmu" jawab orang itu dengan angkuh.
"Ooo ngono, berarti memang aku harus memisahkan rahangmu dengan tengkorakmu" jawab Angga sambil menekan bagian rahang orang itu.
"Aaakh, ba baik den, Sa... saya mengaku, Saja Tejo, sa saya disuruh bos saya, buat menghabisi orang yang bernama Kelana" jawab orang itu dengan menahan sakit.
Setelah berkata demikian, kepala orang itu langsung dibenturkan ke tembok oleh Angga. Tak lama berselang tendangan kembali dilayangkan oleh Kelana.
"Mungkin dia bisa pulang dengan selamat, tapi setidaknya kita bikin dia kapok dan tidak akan mengulangi kesalahannya lagi." Ucap Kelana.
Hingga pukulan bertubi - tubi ia terima, Tejo tetap bungkam tak mau menyebutkan siapa orang yang menyuruhnya melakukan penyerangan itu, ia hanya mengatakan bosnya adalah orang yang tadi memboncengnya.
"Ampun mas, cukup mas, saya menyerah, tolong lepaskan saya, saya masih mau hidup, saya akan melakukan apapun yang mas mau, asalkan mas melepaskan saya hidup - hidup" pinta orang tersebut.
"Oke, kita bakal ngelepasin kamu, tapi setelah kami membuatmu kapok tidak mengulangi kesalahanmu ini lagi" Ucap Kelana sambil melayangkan tempeleng tepat di mulut tejo.
Karena pukulan dari Kelana mulut Tejo berdarah, sesaat kemudian ikatan tangan dan kakinya dilepas, Tejo pun bergegas lari dengan terhuyun - huyun menjauhi tempat itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Kelana
Jugendliteratur"Jika memang Anggita adalah reinkarnasi dari Songgolangit, maka akulah Klono Sewandono nya. Akan ku rebut dia dari Bara Bawana, apapun resikonya" Kelana tak menyadari bahwa ia adalah reinkarnasi dari seorang raja di masalalu. Hatinya terpikat pada A...