Chapter 1.

31 3 0
                                    

Semua hal punya sejarahnya, itu kata Gilang Guntur Samudera. Seorang remaja berusia 17 tahun yang melewatkan hari ulang tahunnya sendiri dengan cara yang terbilang membosankan, yakni dengan membiarkannya saja berlalu layaknya hari-hari biasanya.

Dia berkata demikian agar orang-orang tidak dengan mudahnya meremehkan apa yang ada di sekitar kita. Dia percaya, bahwa sebuah batu kerikil pun bisa saja merupakan saksi bisu dari balik sebuah kejadian. Entah itu kejadian yang menghebohkan maupun yang tidak.

Namun baginya, tiada hal yang dapat membuat hidupnya bergairah seperti sedia kala. Ya, dahulu dia bukanlah orang yang membosankan. Itu juga masuk opini pribadinya.

"Lang, main futsal kuy di bawah!" Ucap salah seorang teman.

"Nope, ga minat." Ia hanya duduk diam termagu tanpa berniat sama sekali untuk melihat orangnya yang mengajak bicara.

"Sombong, pantes ga ada temen." Dan teman itupun beranjak turun ke bawah, padahal hari ini jelas bukan jadwal kelasnya berolahraga. Jelas kan kenapa Gilang ga mau ikutan?

Di jam berikutnya, Gilang keluar kelas karena memang waktunya istirahat. Dia beli dua buah gorengan dan sebotol air mineral. Karena ga minat naik ke lantai atas ke kelasnya lagi, akhirnya dia mutusin buat duduk di pinggir lapangan. Di sana teduh karena ada pohon-pohon tanjung dan cemara yang bisa memayunginya dari panas dan hujan.

Jadilah dia nontonin anak-anak angkatannya pada maen futsal panas-panas di lapangan. Gilang sejujurnya heran, kenapa mereka mau aja main di cuaca kek gini padahal ngga ada faedahnya? Lihat tuh, sampai keringetan. Biar Gilang rajin olahraga pun mana mau dia main di bawah terik mentari cuma gara-gara diajakin temen.

Nah, statement kayak gini ni yang bikin dia jadi orang yang tertutup dan sulit menerima perubahan mendadak.

Ah, coba saja tadi dia ingat untuk membawa kamera digitalnya tadi. Biasanya Sony Cybershot DSC-S730 itu ada saja di kantong saku celananya. Kalau saja Ia tidak meninggalkannya di laci meja pasti sudah dipakainya memfoto hal-hal random di sekitarnya sekarang.

Seharusnya masih ada sepuluh menit lagi istirahatnya. Mending ke mana yah?

Plak. Punggungnya didamprat seseorang dari belakang.

"Tumben main di sini, biasanya udah di atas aja." Laki-laki itu berambut ikal pendek. Tingginya sekitar empat senti di bawah Gilang. Baju seragamnya acak-acakan dan dikeluarin persis seperti anak nakal. Tampaknya dia adalah salah satu yang bermain futsal sebelumnya, soalnya keringetan.

" Gabut. Malas naik ke kelas lagi. Kenapa, Jan?" Remaja yang akrabnya dipanggil Ojan itu mengambil duduk di sebelahnya.

"Ga ada, nanya doang. Kamu mending ikutan maen futsal tadi, sumpah, seru banget. Tumben-tumben ada anak kelas 12 yang mau ikutan. Kayak war ama tetua kampung bjigar."

"Kamu kek gatau aja saya mah. Tau panas-panas ga mikir kondisi tubuh."

"Yaelah, Lang. Kan namanya interaksi, ya maen bola bareng lah. Kamu jadi orang jangan kaku-kaku amat. Ntar susah dapet cewek wkwkwk. Dahlah, saya mo lanjut maen, bay."

"Bay," Ojan kembali ke lapangan dan bertos ria dengan kawan-kawannya. Gilang berdecak pelan, memang apa salahnya kalau memang lagi males buat interaksi sama orang? Selalu dibilangin ntar gapunya temen, gapunya cewek. Gilang mah percaya ama jodoh dari Tuhan aja, ga terlalu pusing mikir dari sekarang. Toh hidupnya fine-fine aja tuh ga ada yang ganggu.

Akhirnya dia mutusin buat naik ke kelas buat ngulang materi pelajaran sebelumnya, untuk ngisi waktu luang.




Jam pulang. Lagi-lagi yang jadwalnya piket malah kabur semua. Gilang berdecak pelan (lagi). Sekalipun bukan orang yang perfeksionis, tetep aja kelas yang kotor ngga enak dilihat buat matanya dia. Well, pulang sekolah dia juga ngga ada les atau pekerjaan lainnya si. Bersihin kelas pelan-pelan harusnya ngga berat kan?

MONOKROM (BL INDO) (ONGOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang