15 - Garis dua

84 30 5
                                        


02 Juni 2024

Happy Reading!

________________

Seminggu setelah kepulangannya dari Swiss, baik Raya mau pun Danuar kembali di sibukkan dengan aktivitasnya masing-masing.

Meski jabatannya masih menjadi seorang manager dan porsi kerjanya sebatas memimpin, mengarahkan, dan mengawasi staf untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi, Danuar rupanya sudah mulai sedikit-sedikit mengerjakan apa yang ayahnya kerjakan.

Mungkin hanya tiga persen dari bagian jabatan seharusnya.

Sedangkan Raya, kembali bekerja di studio lukisnya. Wanita itu merasa bahagia karena tak di batasi pergerakannya oleh sang suami.

Kendati demikian, Raya tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, menjadi seorang pelukis tidak banyak menyita waktunya. Seperti saat ini, Raya tengah bersiap untuk meninggalkan kembali rumahnya dengan menenteng kantung bekal makan siang yang akan ia antarkan kepada sang suami.

Bukan tanpa sebab juga, Danuar yang meminta hal demikian. Setelah kemarin malam di buatkan olahan daging sapi dan jamur, Danuar minta di buatkan dan meminta di antarkan untuk makan siang. Tentu saja Raya dengan senang hati melakukannya.

Menenteng tas makan siang dengan sebuah senyuman manis dan hati berbunga-bunga menjadi hal baru yang dapat Raya rasakan.

Wanita itu sempat menghela napas sejenak setelah melihat tingginya bangunan yang kini berada di depan mata. Menampik rasa percaya pun tak ada guna karena memang benar, ia menikah dengan seorang anak dari pemilik perusahaan besar ini.

“Memang terlihat tidak masuk akal, sih. Dari banyaknya wanita yang dia kenal, dari banyaknya wanita sempurna dan setara dengannya mengapa dia malah memilih aku untuk menjadi istrinya?” Raya bermonolog sembari melihat sepasang sepatu kets berwarna merah jambu yang ia kenakan.

“Betul. Ini semua memang tidak masuk akal, terlihat gila dan sulit di percaya. Tetapi bukankah cinta memang seperti itu?” suara dari balik tubuhnya membuat Raya dengan spontan membalikkan badan.

Suaranya tidak familiar, namun menyapanya dengan sangat akrab.

Sebuah senyuman teduh Raya dapat begitu dirinya berbalik. Pria itu hanya tersenyum lantas menatap gedung tinggi yang semula Raya tatapi.

“Maksudku, bukankah cinta memang kadang terasa tak masuk akal? bahkan sang pemilik rasa kerap kali di rundung gila. Seperti halnya Danuar yang gila begitu menginginkan kamu, Raya.”

“Tunggu ... Kamu tahu namaku?!” jelas saja Raya terkejut. Dirinya tak mengenal siapa pria yang berada di sisinya saat ini meski berulang-ulang kali ia mencoba mengingat.

BLACK ROSE || NamjoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang