Danuar dan Raya bertemu dalam sebuah acara yang di adakan di Yogyakarta. Hingga pada akhirnya, mereka cukup dekat hanya sebagai teman. Sifat keduanya cukup berbanding terbalik. Hidup Danuar terlampau penuh kilau, sedangkan Raya tak menyukai sesuatu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamis 6 February 2025
________
Musim panas sudah hampir selesai, tergantikan oleh dinginnya suhu udara di setiap penjuru kota. Sudah berbulan-bulan masa kehamilan Raya rasakan, sekarang —sudah saatnya ia menanti sang buah hatinya dengan hati yang senang.
Semenjak bulan kelahirannya menginjak usia sembilan bulan, Danuar hampir tak pernah meninggalkan rumah. Pria itu selalu berada di sisinya, menemani, menanyakan apa yang dirinya inginkan.
Tetapi hari ini, Danuar pagi-pagi buta sekali meninggalkan kediamannya, melewatkan sarapan dan kecupan di kening untuknya.
Raya tak bisa lagi memiliki pikiran buruk tentang suaminya, karena setelah kecurigaan yang ia miliki beberapa bulan lalu hanya dapat menghantarkan rasa bersalah kepada suaminya—karena apa yang ia khawatirkan dan ia curigai sama sekali tak berdasar.
Danuar masih sama, masih memandangnya dengan cinta.
Dengan cinta.
Cinta seperti apa yang Raya maksud?
Danuar hanyalah seseorang yang memiliki tipu daya yang lebih jauh berbahaya daripada iblis sekalipun.
Karena pada kenyataannya, Danuar memang benar-benar gila. Selain gila kedudukan, dia juga gila selangkangan.
Danuar tak bisa menyebutnya perselingkuhan, ini hanya semacam—bersenang-senang?
Bersenang-senang untuk memberi makan hawa nafsunya.
Pria kaya memang senang bermain-main—mempermainkan perasaan.
“Oh... Ada apa dengan wajahmu ini? Masih pagi sekali, sayang.” Tentu saja Moana tersenyum senang ketika melihat Danuar datang dari balik pintu.
Pria ini benar-benar datang hanya dengan aku kirimi photo payudara? Pikir Moana tersenyum menang. Mempersilahkan Danuar untuk masuk lebih dalam—untuk Moana jerat lebih jauh lagi.
Binalnya seorang Moana membuat kepala Danuar pening. Dirinya memang mengunjungi Moana pagi-pagi seperti ini dan melewatkan sarapan lezat buatan istrinya hanya karena sebuah pesan yang Moana kirimkan.
Danuar duduk dengan sebelah kaki yang ia silangkan di pahanya, menatap Moana seolah menginstruksikan untuk mendekat.
Moana tersenyum ketika Danuar mengelus pipinya. “sudah aku katakan untuk jangan menggangguku, Moana ... Apa yang kamu pikirkan, hm?” Danuar membimbing Moana untuk merebahkan tubuhnya.
“Jelas sekali, aku selalu berpikir untuk menggodamu.” Senyuman kecil yang menghiasi bibir Moana memang sangat cantik, Danuar akui itu.
Tetapi kedatangannya saat ini bukan untuk menikmati hal ini. Danuar harus menuntaskan sesuatu.