Bernando Be Little BESTie.
Aku tertabrak oleh badan besarnya Marshel, kemudian dia berkata:,
"Ada urusan apa lo sama Bernando, sampai-sampai dia lari kegirangan?"
Aku mengusap punggungku yang terasa sakit.
"Cuma bantuin tugas doang. Kenapa, Shel?" Ucapnya.
Marshel memandangku dengan tatapan curiga.
"Bantuin tugas? Gue denger dia sering nyuruh orang buat kerjain tugasnya." Tegas Marshel.
Aku menggeleng.
"Nggak kok. Dia cuma butuh bantuan buat ngerjain materi fisika." Sahut ku.
Marshel masih belum puas.
"Lo yakin nggak dimanfaatin?"
Aku tersenyum. "Aku yakin. Kita kan temen." Ucap ku dengan meyakinkan Marshel itu.
Marshel menghela napas dan merentangkan tangannya.
"Oke deh, kalau gitu. Maaf ya tadi nabrak. Gue cuma khawatir aja."
Aku mengangguk.
"Santai aja, Shel. Aku ngerti."
Marshel menepuk pundakku,
"Oke. Jaga diri ya. Kalau ada apa-apa, kasih tau gue."
Setelah mengucapkan itu, lalu meninggalkan ku.
Aku tersenyum dan mengangguk lagi. Persahabatan kami memang penuh warna, tapi itulah yang membuatnya berarti.
Saat di kantin, Bernando hanya duduk sambil melihat ke arah Firly yang sedang berbincang dengan teman-temannya.
Senyum manis menghiasi wajahnya saat membayangkan bagaimana rasanya jika ia menyatakan perasaannya kepada Firly dan Firly menerimanya.
Namun, realitas berkata lain.
Firly kebetulan melirik ke arah Bernando, tetapi bukannya membalas senyuman itu,
Firly justru membuang muka dan kembali berbicara dengan teman-temannya.
Bernando merasa hatinya sedikit terluka.
Dia berusaha tetap tersenyum, meski ada rasa kecewa yang menyelinap di hatinya.
Dalam benaknya, dia merenung, apakah perasaannya untuk Firly seharusnya tetap tersembunyi? Meski demikian, Bernando memutuskan untuk tidak membiarkan kekecewaannya merusak harinya.
Bagaimanapun juga, persahabatan mereka adalah sesuatu yang berharga, dan dia tak ingin kehilangan itu hanya karena perasaannya sendiri.
Dengan napas dalam-dalam, Bernando bangkit dari kursinya berada di kantin dan bergabung dengan teman-temannya. Kadang-kadang, kebahagiaan bisa ditemukan dalam kenyataan, meskipun itu berbeda dari yang kita bayangkan.
Kebetulan, Frans datang dan duduk di sebelah Bernando di kantin. Awalnya terlihat canggung kemudian,
Bernando melihat kesempatan ini untuk membicarakan perasaannya yang terpendam.
"Frans, gue butuh bantuan lo," ucap Bernando dengan suara pelan.
Frans mengangkat alisnya.
"Bantuan apa, Nan?"
Bernando menghela napas.
"Lo kan tahu gue suka sama Firly. Gue pengen lo bantuin gue. Tolong sampaikan perasaan gue ke dia."
Frans terdiam sejenak.
"Nan, daku cuma teman sepintas sama Firly. Kita nggak begitu dekat."
Bernando menatap Frans dengan penuh harap.
"Gue tau, tapi lo lebih deket sama dia daripada gue. Gue nggak tau gimana cara ngomong langsung ke dia. Meskipun gue udah pernah nembak sebelumnya."
Frans berpikir sejenak, lalu mengangguk dan berkata:
"Oke, aku bakal coba ngomong sama dia. Tapi aku nggak bisa jamin hasilnya."
Bernando tersenyum lemah.
"Gue ngerti. Makasih, Frans."
KAMU SEDANG MEMBACA
Selamanya Teman Frans (On-Going)
Ficção AdolescenteHanyalah segelintir kisah pertemanan sejati antara anak remaja semasa sekolah yang dipenuhi cerita romansa didalam mungkin.. Frans adalah anak laki-laki yang tengah mencari teman sejati yang berada di lingkungan sekolah apakah ia frans bisa menemuka...
