03 -- Perpustakaan.

6 2 0
                                        

"Perhatian para pahlawan, waktu istirahat hanya tersisa 15 menit. Cepat habiskan makanan dan kembali ke lapangan!" teriak salah seorang jendral yang baru saja memasuki area kantin.

Beberapa orang mulai beranjak dari duduknya, mereka segera berlalu pergi menuju lapangan untuk latihan duluan. Lain halnya dengan tiga gadis yang santai menikmati sisa waktu istirahat. Gunakanlah waktu istirahat dengan sebaik mungkin, itu prinsip mereka.

"Sampai kapan sih kita harus di sini? Sudah di kucilkan, di perbudak, di siksa latihan pula," keluh Rei membuka percakapan lagi.

"Tidak tau tuh, mereka seperti tidak punya rakyat saja sampai mengambil kita yang dari dunia lain ini!" tukas Akari.

"Harusnya kalian bertanya, bagaimana cara mereka membawa kita kemari agar kita tau caranya pulang."

Hening.

BRAK!!!

"BRILIAN! Itu ide bagus Kazumi! Ayo kita menyelinap ke markas utama atau perpustakaan untuk membuka peluang informasi!" seru Akari.

"Aku setuju! Aku rindu memainkan Nintendo ku! Berlama-lama di sini hanya semakin membuatku muak!" tambah Rei.

"Kalian terlalu bodoh untuk membuat rencana, untung kantin sudah sepi." Perkataan Kazumi membuat keduanya sontak menutup mulut masing-masing, menatap sekitar yang sunyi.

"Tidak ada yang dengar kan ...?" cicit Akari.

"Entahlah, kalau ada yang dengar berarti nanti malam kau ditangkap. Pertanyaan yang mudah di jawab." Kazumi mengendikkan bahu.

---

Setelah berjam-jam yang melelahkan, akhirnya malam tiba. Saat ini ketiga gadis itu sedang di kamar mereka, merencanakan cara ke perpustakaan tanpa ketahuan.

Untuk menghemat ruangan, para pahlawan yang dipanggil dari dunia lain dipinta untuk berbagi kamar dengan tiga atau empat orang lain. Dan karena itulah mereka berada di kamar yang sama saat ini.

"Tapi bagaimana kita keluar tanpa tertangkap? Sekarang jam 10, yang berarti jam malam sudah berlaku bukan?" Akari bertanya.

"Ckckck, Akari, apa kau lupa ada pemilik sihir ilusi di sampingmu? Jika kita terpepet, aku bisa menyembunyikan kita!" Rei merangkul bahu Akari, tertawa kecil.

"Serius? Bukannya terakhir kali kau mencoba menyembunyikan barang dengan sihirmu, kau malah lupa cara mengembalikan barang itu?"

"He-hei!"

"Oh ya, karena itu salah satu gelas menghilang bukan?"

"Hei! Itu tiga hari yang lalu! Aku sudah mempelajari cara menyembunyikan sesuatu dengan benar!" ucap Rei, gadis itu merengut kemudian bangkit. Dia mengambil tiga jubah yang digantung dan melempar dua pada yang lain.

"Sekarang, ayo cepat pergi! Sebelum petugas mulai berkeliling!"

---

"Syukurlah tidak ada orang di sini."

Kazumi menatap sekeliling. Ini pertama kalinya dia ke perpustakaan walau tahu tempatnya. Meskipun mereka mempunyai kelas sejarah, guru yang mengajari merekalah yang membawakan buku.

"Nah, kita harus cari ke rak mana dulu?"

"Akari cari ke rak sihir, Rei cari ke rak sejarah kerajaan, aku akan cari rak sejarah Abyss." Keduanya mengangguk dan berpisah.

Kazumi mencari-cari rak yang memiliki buku tentang sejarah Abyss. Walau seharusnya, itu buku yang mudah dicari, untuk beberapa alasan dia tidak menemukan buku yang berhubungan dengan Abyss. Seolah-olah kerajaan mencoba menutupi sesuatu.

The Final Curse Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang