"Woah. Apa yang kalian lakukan di sini pagi-pagi?"
Rei dan Akari serempak menoleh, menatap Vinn dengan lesu. Kedua gadis itu terlihat tidak tidur semalaman, terbukti dari kantung mata di bawah mata mereka dan mereka berada di lorong pukul setengah 6 pagi, menatap jendela yang menghadap keluar seperti orang kerasukan.
"Kau sendiri? Untuk apa kemari?" Akari balas bertanya.
"Ruang pelatihan. Akan berlatih sebentar sebelum sarapan," jawab Vinn. Lelaki itu mengerutkan kening. "Apa, kepergian Kazumi memengaruhi kalian seburuk itu?"
"Ugh, diamlah." Rei menutup mata, tangannya menutupi wajah. "Kau berkata seperti itu karena kau tidak punya teman di sini 'kan?"
"Ugh." Vinn berdehem. "Pokoknya, kalau kalian tidak punya kerjaan... Mau berlatih bersamaku? Uh, untuk mengalihkan pikiran."
Kedua gadis itu menatap satu sama lain, lalu mengangkat bahu. Mengikuti Vinn ke ruang pelatihan.
"Oh ya, semalam kau kemana, Vinn? Kau terlambat berkumpul," tanya Akari. Matanya menatap laki-laki di depannya penasaran.
"Ah itu." Vinn mengerutkan kening. "Ada... Beberapa kejadian tak terduga."
"Oh! Aku melihat 'kejadian tak terduga' itu. Kau tercebur ke danau di luar 'kan?" Rei menatap Vinn, raut wajahnya terlihat main-main.
"Pft- serius? Payah sekali."
"Diamlah!"
Ketiga remaja itu diam. Perjalanan ke ruang pelatihan diisi dengan keheningan. Baru setelah mereka sampai, Vinn angkat bicara.
"Jadi, ada yang ingin duel denganku?"
Akari menggeleng dan Rei mengibaskan tangan. "Tidak. Tidak tertarik."
"Cih. Membosankan."
Vinn berjalan ke tempat penyimpanan senjata. Dia mengambil pedangnya dan mendekati boneka-boneka pelatihan. Selama 15 menit kemudian, hanya terdengar suara sobekan boneka dan hembusan napas Vinn.
Rei menyenggol Akari dan berbisik. "Apa kau mau bertanya padanya tentang Kazumi?"
Akari mengangguk, dan kedua gadis itu berdiri.
"Hei, Vinn. Kemari sebentar. Kami ingin bertanya sesuatu," panggil Rei. Vinn berhenti, menatap kedua gadis itu bingung sebelum mendekati mereka.
"Ada ap-"
Belum selesai dia bertanya, Rei dan Akari membalik posisi mereka. Sekarang Vinn yang terjebak di dinding. Kedua gadis itu menatap Vinn tajam.
"Kau, apakah kau mengetahui sesuatu tentang Kazumi?"
"Ka-kazumi? Ke-kenapa bertanya padaku? Bu-bukankah kalian yang paling dekat dengannya?" jawab Vinn terbata-bata.
Rei dan Akari terdiam, saling melempar pandangan. "Dia benar juga," bisik Akari.
Manik coklat Rei kembali mengintimidasi Vinn. "Kau tidak tau sesuatu dari Kazumi?"
"Sesuatu? Seperti apa?"
Keduanya lagi-lagi terdiam, kali ini Rei yang berbisik. "Sesuatu seperti apa Akari?"
Vinn menatap keduanya dengan bingung, bukankah harusnya ia yang bertanya di sini? Kenapa malah dia yang diinterogasi?
"Uh, sebenarnya ada apa dengan kalian? Apa kalian sedang bertengkar?" Vinn memberanikan diri untuk bertanya.
Keduanya lagi-lagi saling menatap lalu melirik arah lain canggung. "Uh? Ya, mungkin ..." cicit Akari.
"Jadi, kalian juga tidak tau alasan dia pergi ya ..." Vinn berkata lesu, mendengar itu Akari dan Rei tersenyum tipis.
"Astaga apa ini? Wajahmu seperti orang patah hati," ledek Rei.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Final Curse
FantastikSifat manusia tidak jauh dari egois, serakah, dan angkuh. Egois dengan keinginan, serakah akan kekuasaan dunia, dan angkuh pada yang rendah. Karena sifat itu, mereka saling menjajah satu sama lain. Dunia lain pun mereka rampas habis tak bersisa. Me...
