Malam hari pun tiba. Bulan naik menggantikan mentari dan bintang-bintang memperlihatkan diri, secara keseluruhan itu malam yang cerah. Kolam merefleksikan bulan yang hanya dalam beberapa hari lagi akan purnama, membuat suasana di luar damai dan misterius.
Tapi tidak dengan salah satu kamar di asrama pahlawan.
"Royal Flush." Rei meletakkan susunan kartunya, senyum terbentang di wajah.
"Hah?? Bagaimana? Aku tidak pernah dapat kartu as-"
TOK! TOK! TOK!
"-loh."
Kedua gadis itu berhenti dan saling bertatapan. Kemudian Akari bangkit dan membuka pintu. "Ya?"
Pemandangan Yulian di balik pintu hampir membuat Akari kena penyakit jantung.
"Ka-kami memberi hormat pada Pangeran," ucap Akari dan Rei sambil membungkuk berbarengan. Yulian mengangguk dan mereka kembali berdiri.
"Boleh aku masuk?"
"Hah?!" Akari berdehem. "Ma-maksudku, tentu saja, Yang Mulia!"
Akari menyingkir, membiarkan Yulian masuk sementara Rei membereskan kartu. Bangsawan itu melihat sekeliling kamar.
"Kecil, ya."
mendengar celetukan sang putra mahkota, kedua gadis itu tersedak udara, urat kekesalan muncul walau dengan cepat mereka memasang senyum paksa untuk menyembunyikan nya.
"Ya? Maksud anda apa, ya?" Desis Rei berusaha ramah. Yulian menatap mereka sejenak sebelum kembali membuang muka.
"Bukankah sudah jelas? Kamar kalian cukup kecil untuk tiga gadis yang menghuninya," ujar Yulian yang sekali lagi menohok keduanya.
"Yah, kami akui tempat ini cukup kecil. Oleh karena itu saya rasa anda harus sedikit berbaik hati untuk merenovasi kamar kami." Akari berkata, mencoba mencuri kesempatan.
"Untuk apa? Lagipula sekarang kalian tinggal berdua saja."
Kedua gadis itu tak lagi menjawab usai Yulian melontarkan kata, ketiganya sibuk dalam pikiran masing masing dengan aura suram disekitar mereka. Itu setidaknya sampai Rei kembali memecah keheningan.
"Ada apa gerangan malam malam begini yang mulia menemui kami?" tanya nya.
Yulian mengedipkan mata sejenak, benar, ia hampir lupa dengan tujuan asalnya. Pemuda itu berdehem sejenak, tatapan datarnya terarah pada mereka.
"Apa yang sebenarnya Kazumi sembunyikan?" manik emas itu menyorot tegas, membuat si pirang dan surai salju sedikit bergidik. Bagaimanapun Yulian adalah seorang bangsawan tingkat tinggi, aura yang menekan pada dirinya sudah pasti telah terlatih sedari kecil.
"Apa maksud-"
"Aku tidak menerima jawaban bodoh seperti, 'apa maksud Yang Mulia?' atau 'kami tidak tau apapun'. Malam ketika terjadi keributan di perpustakaan, kalian berada dimana?" Yulian menyela, menatap tajam keduanya membuat mereka tak berkutik.
"Kami ..."
---
Cahaya samar menyinari sebuah ruangan di mansion megah milik keluarga Alastair, Artheon menggertakkan giginya kala sebutir keringat kembali jatuh dari pelipisnya. Sejak tadi ia terus menerus menerapkan tenaganya pada sihir terlarang, demi melenyapkan sihir hitam yang bersemayam pada dirinya. Nyatanya, sejak tadi hal yang ia lakukan tak membuahkan hasil melainkan menguras tenaganya.
"Sial!" desis Theon ketika sihirnya meledak, memberikan reaksi penolakan akan sihir terlarang tersebut.
Pemuda bersurai legam itu menyugar rambutnya menggunakan jari, mengusap bulir bulir keringat yang keluar. Ia tak ingin mati konyol karena memaksakan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Final Curse
FantasiSifat manusia tidak jauh dari egois, serakah, dan angkuh. Egois dengan keinginan, serakah akan kekuasaan dunia, dan angkuh pada yang rendah. Karena sifat itu, mereka saling menjajah satu sama lain. Dunia lain pun mereka rampas habis tak bersisa. Me...
