022

367 41 2
                                        

Sebelum membaca kelanjutan cerita ini, aku harap kalian membaca kalimat basa-basi ini sebentar saja. Jadi, kenapa cerita Hiraeth ini terkesan dianggurkan dan tidak ada kelanjutannya dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama? Alasannya karena dari aku sendiri punya kesibukan yang membuatku gak bisa update cerita secara berkala seperti dulu.

Kalau diingat-ingat lagi, cerita ini udah tumbuh bersama para pembacanya. Bahkan dari aku sendiri gak nyangka cerita ini bakalan banyak peminatnya yang setia menunggu sampai ada kelanjutannya. 

So, daripada membuang waktu lagi saatnya kita kembali mengulang memori yang udah lama terpendam pada cerita ini. Nikmati kelanjutan chapter dari cerita Hiraeth!

____

Tepat setelah pulang dari kantor, aku mengikuti kata hatiku untuk menemui Alaric. Dia saat ini menunggu di parkiran basemen dengan mobilnya. Aku menghela napas beberapa kali, mencoba menguatkan tekadku yang sudah memutuskan keputusan ini. Aku mengetuk kaca mobil Alaric dua kali sampai dia sadar kalau aku sudah ada di samping mobilnya. Dia menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum tipis kepadaku. Gaya andalannya itu dulu hal yang aku sukai, sekarang aku hanya melihatnya biasa saja. Tidak seperti dulu lagi.

"Aku tahu kau akan menemuiku, Ra." ucapnya masih menatapku dengan tatapannya yang khas seorang Alaric.

"Tidak perlu basa-basi. Kau benar-benar tahu keadaan ibu atau tidak?" tanyaku menuntut.

Alaric menghembuskan napasnya lelah, dan membuka pintu kemudinya. Dia keluar dari mobilnya dan berdiri di depanku dengan tatapan meyakinkannya itu. Meskipun aku sering melihat tatapan itu, aku harus memastikan ulang bahwa dia benar-benar melihat ibu secara langsung.

"Aku sudah ke sana kemarin. Ibu selalu menanyakan keadaamu. Dia ingin sekali bertemu denganmu kalau kau sangat ingin tahu keadaannya kenapa kita tidak ke sana sekarang juga?" 

"Tapi aku duduk di belakang!" ucapku membuka pintu belakang mobil Alaric dan masuk ke dalamnya. Tidak memedulikan reaksinya atas keinginan spontanku ini.

Alaric menaikkan bahunya acuh dan membuka pintu kemudi. Ia menoleh sebentar ke belakang, melihatku yang sudah duduk diam. Lalu ia menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkahku yang seperti ini. Ia segera menyalakan mesin mobil, dan mobilnya melaju meninggalkan basemen kantor menuju rumah lama yang pernah aku tinggalkan.

Selama di perjalanan kami hanya diam. Aku juga tidak berniat untuk mencari topik pembicaraan dengannya. Aku hanya memikirkan setelah sampai di rumah itu, aku harus mengatakan apa? Semua pertanyaan berputar di kepalaku, seolah aku memang harus kembali ke rumah yang lama. Menggali kembali masa lalu yang sudah jauh tertinggal di belakang. 

Meskipun banyak derai tawa dan air mata yang tertuang di masa lalu, rumah itu tetap menjadi saksi di mana perkembangan hidupku dan saudaraku di sana. Adanya kenyamanan, kegembiraan, kebahagiaan murni yang muncul begitu kami tergabung menjadi satu yang singgah di rumah tersebut. Akan tetapi, masih ada hal yang belum aku selesaikan di sana. Angan yang ingin sekali aku selesaikan tetapi sulit untuk di wujudkan secara nyata. Entah sampai kapan aku akan seperti ini dengan keluargaku sendiri. Bahkan aku tidak tahu, apakah aku tetap bisa memanggil mereka keluargaku atau tidak? Penuh tipu daya, tipu diri, maupun seluk beluk tersembunyi dalam satu atap rumah itu.

Tidak kusangka mobil Alaric sudah sampai di depan rumah yang sering aku pikirkan. Suara kicauan burung terdengar samar-samar, menandakan masih surganya tempat tersebut beum tersentuh oleh tangan-tangan pengganggu. Aku menatap ke kaca mobil depan, bertatapan dengan Alaric yang sialnya juga sedang menatapku lewat spion mobil.

"Masuklah dan temui ibumu." ucapnya menyuruhku untuk segera keluar dari mobilnya.

Aku berdehem, "Kau juga harus ikut bersamaku ke dalam." ucapku balas menatapnya sengit.

Alaric memalingkan wajahnya, "Aku tidak bisa. Pergilah, Ra." ucapnya.

"Kenapa? Bukankah kita keluarga?" aku menantangnya untuk mau menerima ajakanku masuk ke dalam rumah. Benar sekali, tidak ada alasan untuk mengelak karena kami satu keluarga. Meskipun enggan, akhirnya Alaric setuju ikut masuk denganku. Walau wajahnya mengatakan sebaliknya, tetapi tidak masalah. Pada intinya, dia tetap mau ikut turun dari mobil.

Saat aku turun bersama dengan Alaric, aku baru menyadari jika ada beberapa mobil lain yang terparkir di halaman rumah. Aku membuka pagar rumah, dan bersitatap dengan salah satu pembantu rumah ini yang sering aku titipkan barang. Dia hanya mengangguk singkat, akupun membalasnya samar. Sedangkan Alaric mengikutiku di belakang seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.

Aku masuk ke dalam rumah yang disambut dengan beberapa wajah yang ku kenal. Salah satu orang itu adalah Artha, kakakku sendiri yang menatapku antara takjub, tidak percaya, dan mungkin perasaan kesal. Entahlah aku tidak terlalu mengerti perasaanya seperti apa saat ini. Kami bersitatap sebentar dan aku langsung memalingkan wajah ke arah lain. Mlihat di sebelahnya, seorang wanita muda tidak lain adalah Serena. 

Ah, aku benci melihat wajahnya terus-menerus. 

"Di mana ibu?" tanyaku kepada mereka.

Serena yang hendak menjawab langsung dipotong oleh Artha, "Kenapa kau ke sini? Ini bukan tempatmu!" ucapnya. 

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku beberapa kali. "Astaga, Artha. Beberapa waktu yang lalu kau memintaku untuk menjenguk ibu. Kau lupa hal itu, kah?" tanyaku sambil tersenyum miring.

Artha diam tidak menjawab pertanyaanku. Sedangkan raut wajah Serena mulai terlihat kesal karena perkataanku yang sengaja memancing keributan. Akan tetapi, aku tidak selera membuat keributan dalam situasi saat ini.

"Oh mungkin aku langsung ke atas saja. Ibu ada di kamarnya kan?" aku menoleh kepada kedua sejoli itu lagi lalu tersenyum tipis. "Oh iya juga, ibu kan tidak bisa kemana-mana lagi, aku lupa itu." lanjutku yang langsung berjalan ke tangga untuk menuju ke atas.

Tiba-tiba saja suara milik Artha menginterupsiku saat aku hendak menginjakkan kaki kedua di anak tangga. Aku tersenyum miring dan berbalik menatapnya dari atas. Sedangkan Artha terlihat sedih atau mungkin kecewa dengan sikapku sekarang ini.

"Rain, hentikan semua ini. Hormatilah ibumu yang sedang sakit, begitupun aku sebagai kakak laki-lakimu." ucap Artha menatapku kesal setengah mati.

Aku tertawa kecil, "Baru di saat kau terpuruk, kau menganggapku sebagai adikmu. Tetapi saat aku sendirian, apakah kau memberikan uluran tanganmu padaku?" tanyaku padanya.

Kami saling menatap, tidak ada yang berbiacara. Hanya lewat tatapan mata yang bisa menjawab. Aku tertegun beberapa saat melihat keteguhan Artha yang menginginkan semua seperti sedia kala, sebelum masalah utama ini melanda keluarga kami.

"Ra... dengarkan aku sebentar. Aku tahu kita ada masalah yang tidak akan cukup kalau dibahas hanya dua orang saja. Aku akan mengusahakan diskusi terbuka itu, saat ibu sembuh kita bisa berdiskusi menyelesaikan masalah ini seperti keluarga pada umumnya." jelas Artha panjang lebar yang hendak meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja ditangannya.

"Apakah itu berarti aku juga termasuk dalam diskusi itu?" tanya Alaric yang sejak tadi hanya diam menyimak perdebatan kami. Ah iya, aku sampai lupa kalau dia mengikutiku sampai ke dalam rumah.

"Aku pikir kita membutuhkan semua yang terlibat langsung." ucapku dan meneruskan langkah kakiku yang sempat tertunda tadi.

"Rain?" 

Aku berhenti melangkah di anak tangga terakhir saat mendengar suara bariton khas ini. Tidak lain adalah Oliver Ravegan yang saat ini berdiri di depanku sambil menenteng jas hitamnya di lengan kirinya. Dia terlihat kelelahan, ini pertama kalinya aku melihat dia manusiawi. Bukan seperti itu maksudku, dia terlihat seperti manusia pada umumnya. Punya rasa lelah dan bisa terlihat 'hidup' saat berada di lingkungan baru. Akan tetapi ini rumahku? Untuk apa dia berada di sini heh?

"KAU?!" Aku refleks menunjuk wajahnya dengan jari telunjukku. Memang tidak sopan, tetapi ini reaksi spontanku. "Kenapa kau di sini???" tanyaku bingung karena dia berada di rumah ini. 

Oliver tersenyum tipis, "Jadi Aric benar-benar berhasil membawamu ke sini ya?" 

Aku termenung beberapa saat. 

"Haruskah aku cemburu karena bukan aku yang berhasil membujukmu?"

Rasanya aku ingin menghilang saja dari hadapannya.

***

tertanda,

Sky.

HiraethTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang