Setelah kejadian itu aku merasa canggung dengannya. Dia tidak mengatakan apapun lagi padaku dan hanya mengantarkan aku pulang ke apartemen. Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan sejak di restoran tadi.
Dia seperti dua orang yang berbeda. Kepalaku terasa pusing memikirkan semua ini. Lebih baik, aku segera beristirahat. Aku menekan angka di lift, dan lift bergerak ke atas. Kemudian lift itu berhenti di lantai apartemenku. Aku segera keluar dan berjalan menuju pintu apartemenku.
Aku menekan beberapa angka dan pintunya terbuka. Setelah itu, aku masuk ke dalam dan meletakkan sepatuku di rak. Akan tetapi, aku melihat sepasang sepatu wanita yang aku kenal.
Aku langsung mengarahkan pandangan menyeluruh ke apartemenku. Di depanku ada Hazel yang duduk seperti sedang menungguku. Aku berjongkok hendak mengelus bulunya. Akan tetapi, Hazel menghindariku, tidak seperti biasanya dia seperti ini.
"Ini sepatu Julia, kan? Di mana dia?" tanyaku. Hazel berputar-putar. Aku bingung melihat tingkahnya di depanku.
"Hazel kau kenapa? Di mana Julia? Ini sepatu Julia. Sepatu yang aku belikan saat ulang tahunnya." ucapku hendak menangkap Hazel yang berperilaku tidak seperti biasanya.
Kemudian lampu apartemenku berkedip-kedip dengan sendirinya. Bulu kudukku langsung meremang melihat kejadian ini. Aku hendak memanggil Hazel lagi, tetapi asap kabut bermunculan disekitarnya. Aku membelalak kaget, hendak keluar pintu. Tetapi pintu itu terkunci, seolah aku tidak diperbolehkan keluar.
Instingku langsung mengambil panci di dapur, bersiap membela diri. Aku bersiap dengan kemungkinan terburuk. Mengacungkan panciku ke depan, bersiap jika ada monster yang tiba-tiba menerkamku.
Sebuah tangan tiba-tiba menarikku. Aku berteriak memukulnya dengan panci.
"Aduh! Sakit, Ra!" suara itu mengejutkanku.
Aku melihat dengan jelas, di depanku saat ini berdiri Julia sambil memegang tangannya. Aku menurunkan panciku dan menjaga jarak darinya.
"Kau?! kau hantu?!" aku melotot mengarahkan panciku kepadanya lagi.
Julia panik. "Bukan-bukan!! Aku Julia, temanmu! Sebentar, kita bicarakan dulu. Jangan menimpukku dengan pancimu itu." ucapnya.
"Di mana Hazel?!!" tanyaku masih skeptis padanya.
"Biar aku jelaskan dulu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tenang dulu oke?" dia mencoba membuatku tenang.
"Jelaskan!"
"Aku penyihir, Ra. Sampai di sini kau bisa mencernanya?" ucapnya.
Aku yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak. Julia ini sedang mabuk kecubung atau memang pintar mendongeng? Bahkan aku yakin nilai mendongengnya tidak leih baik dari anak sekolah dasar. Sekarang dia berkata bahwa dia adalah seorang penyihir. Dia bekerja di perusahaan Oliver menjadi seperti ini atau salah satu nyaratnya harus pintar mendongeng? Aku terus tertawa sambil menatapnya yang hanya mencebikkan bibirnya kesal dengan responku.
"Aku serius, Ra!" ucapnya mulai menggerakkan tangannya ke gelas di atas meja. Gelas itu melayang seperti yang ada film-film hantu.
"Kau benar-benar bisa sulap?" tanyaku menatap horor padanya. Senyum sombongnya langsung luntur, dan gelas itu terjatuh membuat serpihan kaca berserakan di lantai.
"Hei kau mengotori lantai apartemenku..." ucapku datar.
Julia meringis sambil menggaruk tengkuknya. "Tapi aku serius soal ini, Ra. Kau perlu tahu."
"Baiklah jelaskan padaku semuanya, tapi bersihkan serpihan kaca itu dulu. Kalau aku melihat satu pecahan kaca saja yang terlewat, kau keluar dari sini. Aku mau mandi dulu." aku dengan santainya menaruh barang bawaanku di sofa dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Julia menggerutu mendengar perintahku sambil membersihkan lantai.
Selang beberapa menit kemudian, aku merasa segar setelah mandi. Aku keluar dari kamar mandi dan melihat lantai apartemenku sudah bersih dari pecahan kaca. Di tanganku ada handuk yang aku gunakan untuk mengusap rambut yang basah. Sedangkan aku melihat Julia sibuk menonton acara TV sambil memakan kue kering di meja.
"Jadi, jelaskan semuanya padaku. Kenapa kau bisa menjadi atlit sirkus seperti ini?" tanyaku, mencoba membangun kembali kehangatan di antara kami setelah sekian lama padam.
"Ah, seandainya kau masih mengingatku..." ucapnya pelan, aku mengangkat sebelah alisku bingung dengannya. "Aku sebenarnya penyihir dari masa lalu yang membantu seseorang di masa sekarang ini. Tidak mudah memang menjelaskan hal ini padamu, tapi percayalah aku datang untuk mengubah nasibmu." lanjutnya menatapku serius.
Tayangan TV masih terpampang di depan kami, tetapi suaranya kalah dengan fokusku pada ucapan Julia. Seolah aku terhipnotis dengan kalimatnya tersebut. "Lalu, apa misimu sebenarnya? aku masih tidak paham dengan semua ini yang terlalu tiba-tiba."
Julia menghembuskan napas berat. "Kau itu reinkarnasi dari seseorang di masa lalu. Kau sudah melalui beberapa reinkarnasi, dan sekarang kau sedang melakukannya lagi. Oh astaga, aku sampai lelah melihat masa lalumu itu." ujarnya menunjuk wajahku dengan muak.
"Aku? memangnya aku reinkarnasi dari siapa?"
"Kau reinkarnasi dari dirimu sendiri. Kau mengulang hidup dengan zaman yang berbeda. Maka, aku berada di sini untuk mengakhiri semuanya." jelasnya mencoba memahami pengetahuanku yang masih minim ini.
"Jadi Julia hanya nama samaranmu?"
"Ini nama asliku sejak zaman dulu!"
Aku berpikir lagi. "Jadi aku pernah hidup di masa lalu yaitu di zamanmu? tapi umurku tidak panjang, jadi aku bereinkarnasi lagi, begitu?" ucapku mencoba mengonfirmasi penjelasannya yang setengah-setengah itu.
Julia mengangguk semangat. "Akhirnya kau paham! jadi di sinilah aku. Aku Julia yang sama, yang akan membantumu di zaman sekarang ini!"
"Apakah kau ada hubungannya dengan mimpi anehku selama ini?" tanyaku padanya memastikan mimpi yang selalu menghantui.
"Mimpi? Kemungkinan itu ingatanmu di masa lalu. Jadi, kau sering bermimpi itu. Padahal kau pernah mengalaminya langsung. Istilahnya anak muda itu dejavu." jelasnya.
"Tapi adakah cara untuk menghilangkan mimpi yang menggerogoti otakku itu? aku sering tidak nyaman dengan mimpi aneh yang datang terus menerus." gerutuku.
Julia menggeleng. "Tidak ada, kecuali kau harus menuntaskan yang belum selesai di masa lalu." ujarnya. Dia mendekat padaku. "Memangnya mimpi yang seperti apa?" tanyanya.
Aku mencoba mengingat kembali mimpi yang sering muncul di waktu tidur nyenyakku. "Aku bermimpi aku menjadi dua. Nah kembaranku ini anehnya seperti menunjukkanku sesuatu. Pertama di rumah aneh dan kedua dia tertabrak kendaraan, hingga baru-baru ini muncul seorang pria yang tidak aku kenal." jelasku padanya dengan menggebu-gebu. Aku harap dia paham dengan keresahanku selama ini, dan semoga ada solusi lain.
"Ah begitu rupanya, kau memang pernah menjalani kedua kehidupan sebelumnya." ujarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini. Itu sama saja melanggar takdir, tapi aku tidak tahan dengan takdirmu yang kejam ini. Maka, aku berusaha membantumu untuk keluar dari lubang yang sama." lanjutnya.
"Aku pernah tertabrak kendaraan dan mati?" aku melotot padanya mencoba mencerna penjelasannya.
"Iya."
"Siapa pria misterius di mimpiku itu?" desakku mencoba mencari tahu lebih lanjut.
Julia tersenyum misterius. "Aku tidak bisa mengatakan semuanya padamu. Biarkan takdir yang bekerja." dia lanjut menonton acara TV dan sengaja membuatku bertanya-tanya.
"Tapi kau tadi membocorkan mengenai takdirku yang mati dua kali. Kenapa soal ini kau tidak mau memberitahuku?"
"Karena ada batasan di mana aku tidak bisa langsung membocorkan semuanya. Aku tidak ingin takdirmu lebih berubah dari sebelumnya. Tapi ingat satu hal, jalani saja kehidupanmu seperti biasanya. Aku di sini untuk membantumu sebisaku saja." ucapnya.
"Kau sering mengatakan akan membantuku, tapi membantu dalam hal apa?" aku mencibir lirih, semoga dia tidak mendengarnya.
Julia menoleh padaku dan tersenyum singkat. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu membantumu. Baik itu di masa sekarang, masa lampau, atau masa yang akan datang. Karena tanpamu aku tidak akan menjadi Julia yang sekarang ini." jujur saja, aku tidak mengerti kenapa dia mengatakan hal itu, seolah aku sudah menyelamatkan hidupnya dari keterpurukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth
Fantasy[sequel The Kingdom Of Destiny] The Kingdom Of Destiny2: Hiraeth Rainazela Rosaline adalah seorang pemilik kafe bernama Rose Cafe. Ia punya orang tua yang masih lengkap dan kakak laki-laki yang sangat dingin padanya. Sebelumnya, ia selalu bersikap s...
