028

207 19 5
                                        

Aku kembali lagi ke mimpi menyebalkan ini. Tanganku, masih sama seperti hologram yang tembus pandang. Tidak salah lagi, di depan sana pasti aku yang di masa lalu. Dia menatapku dengan tatapan yang tercetak jelas ada kesedihan di sana. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana detailnya, intinya dia cukup kecewa? ekspresi itu menunjukkan ketidakpuasan yang ditujukan kepadaku. 

Seperti biasa, saat aku ingin mendekatinya kakiku seolah menempel seperti lem perekat di tanah. Tidak ada pergerakan dari kami berdua. Seolah memang jalannya mimpi ini akan tetap seperti ini. Ruangan ini terlihat sama seperti mimpi-mimpiku sebelumnya. Tapi yang menarik perhatianku adalah bunga mawar yang ada di dalam vas. Bunga itu tidak layu, meskipun seperti hanya diletakkan asal di vas tersebut.

 Mulailah di mana dia yang di depan sana menangis dengan isak pilu yang menyanyat hati. Aku masih tidak paham dengan tanda-tanda ini. Mencoba mencari celah di mana terdapat tanda yang mungkin tidak aku sadari selama ini. Tiba-tiba saja semua berubah. Tidak ada kembaranku, tidak ada pria misterius. 

Hanya ada cermin besar dihadapanku. aAku melihat diriku sendiri. Masih sama seperti biasanya. Akan tetapi, di dalam kaca tersebut terdapat dua wajah yang berbeda. Aku di masa kecil dan aku yang mengenakan gaun dan tiara indah. Kedua wajah itu menghadapku, seolah hendak memberikan petunjuk lain. Sebelum aku melihat lebih jauh, semuanya lenyap digantikan sebuah cahaya lampu.

Aku mendekati cahaya itu, terdapat anak kecil yang berlarian seperti bayangan. Aku mencoba menggapai anak di balik bayangan itu, tetapi pergerakannya terlalu cepat. Suaranya melengking dengan riang gembira. Seperti anak-anak pada umumnya yang senang bermain-main.

Akan tetapi, suara itu sangat aku kenal. 

Itu suaraku sendiri. Anak kecil itu adalah aku.

Aku mematung di tempat. Apa ini? Kenapa semuanya berubah? Ini bukan mimpi yang seperti biasanya. Jelas berbeda. 

Aku melihat diriku waktu kecil yang berlarian kemudian terjatuh. Saat aku hendak membantu, seorang anak laki-laki datang membantunya. Wajahnya tidak terlalu terlihat jelas. Dia menawarkan bantuan untuk menggendongnya. Aku masih berdiri di tempat menatap kedua anak itu yang berjalan pergi hingga tersisa siluet hitam saja.

Kemudian latar berganti menjadi di sebuah kamar yang banyak sekali coretan-coretan khas anak kecil. Di meja belajar aku melihat anak laki-laki yang sedang mencoret-coret di bukunya. Aku mendekat ke arahnya dan melihat sebuah gambar pedang dengan ukiran naga yang indah. Tepat saat aku hendak menyentuh gambar itu, sebuah cahaya dari gambar pedang langsung menyilaukan mataku. 

Kemudian terdengar suara mobil yang menyala. Anak laki-laki itu berlari ke jendela kamarnya dan melihat keluar. Aku turut mendekati jendela tersebut. Di luar sana ada pertengkaran kecil antara ayah dan ibuku. Aku ingat ini, saat itu ayah dan ibu berdebat sengit yang tidak aku pahami. Intinya aku disuruh memilih ingin ikut siapa. Pada akhirnya aku tidak memilih keduanya, tetapi ayah memaksaku untuk ikut naik ke mobilnya. Hingga meninggalkan pekarangan rumah dan ibu yang menangis tersedu-sedu. Itu kejadian sebelum ibu sakit seperti sekarang ini, dan kejadian itu sudah lama sekali. 

Kemudian setelah mobil itu pergi, aku menyadari jika anak laki-laki tadi menatapku. Aku terkejut dengan wajahnya dan saat dia menatapku seperti melihatku secara langsung. 

"Kau masih tidak ingat?" tanyanya. 

Ketika aku hendak menjawab, mataku langsung gelap seperti ditutup dengan kain hitam. Kemudian aku merasakan pusaran angin yang terasa lembut menghantam wajahku. Sesuatu yang menutup mataku hilang, dan aku bisa melihat lagi.

Beralih saat aku sudah dewasa, terlihat jika aku sedang kebingungan dengan dokumen-dokumen di depan meja. Ini seperti dunia yang berbeda. Pasalnya, kantorku berbeda dengan yang ada di mimpi ini. Kemungkinan ini dari zaman sebelumnya.Terdengar suara ponsel yang berdering nyaring. Aku melihatnya mengangkat telepon itu dan mulai berbicara dengan orang di seberang telepon.

"Aku sudah bilang jangan meleponku saat jam kerja?" ucapnya.

"Sorry ma'am, but i miss you so much. Aku hanya ingin mendengar suaramu sebentar sebelum bertemu di rumah nanti." ucap seseorang di seberang telepon.

"Ck, i miss you too, babe. Tapi jangan ganggu di saat aku sedang bekerja. Memangnya kau tidak bekerja, huh?" 

"I'm the boss."

"Dan kau membenarkan menelepon di saat jam kerja seperti ini?" 

Suara di seberang telepon terdengar tertawa. "Okay i'm sorry. Aku hanya memastikan kekasihku baik-baik saja di tempat kerjanya." 

"Oh kau tahu itu, babe. Bahkan kau sengaja menaruh pelacak di ponselku bukan?" 

"Okay aku salah lagi. Tapi bisakah kau memberikan ucapan untukku agar tidak muak lagi dengan dokumen kantor ini?"

"You can do it my man. Aku akan membawakanmu sesuatu nanti." 

"Nah kalau begini aku punya semangat, walau hanya sedikit."

Kemudian percakapan itu mengalir hingga berakhir membuat janji temu. Aku melihat diriku sendiri yang tersenyum-senyum seperti orang yang sedang kasmaran, hingga sebuah tetesan merah turun dari hidungnya mengenai rok yang dikenakannya. Dia panik segera mengambil tisu untuk mengusap darah dari hidungnya. Hingga dia kembali kepada kesibukannya untuk bekerja.

Aku melihatnya membuka email di komputernya. Dia membuka notifikasi yang baru masuk. Tertera di sana nama dr. Ken. Dia membuka pesan itu yang berisi surat keterangan. Aku ikut membacanya dan terkejut dengan isi dari surat itu. Setelah itu semuanya terasa sunyi. Seolah ada beban berat yang menghantam bahuku.

Tiba-tiba saja mataku menggelap, dan aku merasa pindah tempat lagi. Seorang wanita berjalan dengan tergesa-gesa, tentu saja aku mengenali mimpi ini. Dia adalah aku. Kesibukannya membuatku menyadari sesuatu. Aku melihatnya berjalan menyebrangi jalanan, dokumennya terjatuh--seperti mimpi sebelumnya. 

Akan tetapi yang baru aku sadari bahwa dia sengaja menjatuhkan dokumen itu. Aku melihatnya secara langsung, itu bukan terjatuh karena sapuan angin. Dia yang menjatuhkannya sendiri. Tepat saat dia hendak mengambilnya, sebuah kendaraan menabraknya. Kejadian itu berakhir menewaskan diriku sendiri.

Aku melihatnya langsung.

Dia sengaja menjatuhkan dokumen itu.

Lalu saat aku hendak mengeluarkan sepatah kata, semuanya langsung berwarna hitam. Seperti sebelumnya aku melihat seorang pria dengan bahu bergetar di samping ranjang rumah sakit. Dia terlihat sangat rapuh melihatku terbaring tidak berdaya. Seolah setengah dari dunianya hilang begitu saja dari hidupnya.

Memang benar, setelah itu aku dihadapkan pemakaman yang dihadiri oleh banyak orang. Aku mengenali wajah itu satu persatu. Ada ayah, ibu dengan kursi rodanya, Artha yang memegang payung untuk ibu, Serena, Alaric, Ellie, Deren, dan teman-temanku lainnya termasuk Julia. Mereka terlihat sangat sedih dan sangat kehilangan. Terutama ibuku yang berteriak tidak terima saat aku di masukkan ke dalam liang untuk peristirahatan terakhir.

Aku melihat semua itu dengan jelas. Ini bukan mimpi, tapi masa lalu yang benar-benar aku alami. 

Hingga di ujung sana terdapat seorang pria yang sama setiap kali aku bermimpi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HiraethTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang