Aku menatap wanita paruh baya yang terkulai lemas di ranjang. Di sebelahnya ada banyak selang-selang untuk membantunya tetap hidup. Aku menatap di sebelahnya lagi, seorang pria yang sangat aku kenali seumur hidupku. Dia hanya bisa duduk termenung di sebelah ibu. Dia ayahku, Orlan. Aku mendekat padanya dan menepuk pundaknya pelan. Awalnya dia terkejut dengan keberadaanku yang mendadak ini, tetapi dia langsung sadar bahwa aku benar-benar kembali. Kemudian ayah memelukku erat, seolah aku sudah pergi lama sekali. Padahal aku hanya sedang mengasingkan diri. Tatapannya beralih ke ranjang dengan ibu yang terkulai lemas menatap kami bergantian.
Ibu mengulurkan tangan kepadaku ingin memeluk anak perempuannya. Ayah yang menyadari hal itu langsung meninggalkan kami berdua. Memberi waktu kepada Ibu dan aku saling reuni setelah sekian lama perang dingin terjadi. Aku duduk di pinggir ranjang ibu dan memeluknya. Merasakan kehangatan di balik tubuhnya yang sedang saat ini.
"Ibu sangat rindu, Ra. Kenapa kau tidak pernah menjenguk ibu?" ibu melepaskan pelukan kami dan menanyakan hal itu kepadaku.
Aku tersenyum tipis, "Maaf bu, Ra terlalu egois selama ini," jawabku.
Ibu kembali membaringkan kepalanya di ranjang sambil terus menatapku, "Maafkan ibu juga ya, Ra? Karena selama ini tidak pernah memperbaiki komunikasi di antara kita," ucap ibu membelai wajahku lembut.
Aku mengangguk dan memegang tangan hangatnya itu, "Ibu harus sembuh nanti Ra akan mengajak ibu jalan-jalan," ucapku sambil menahan tangis.
Ibu hanya bisa tersenyum, "Iya, ibu pasti akan sembuh." ucapnya lalu menatap pintu keluar, "Apakah tadi kau bertemu dengan Oliver?" tanya ibu yang sukses membuatku membulatkan mata terkejut.
"Ibu tahu dari siapa kalau itu Oliver?" tanyaku balik.
Reaksi ibu hanyalah tertawa, "Oliver dulunya adalah temanmu juga. Meskipun dia teman bermainnya Artha, tapi kalian juga sering bermain bertiga di taman," jawab ibu.
Ternyata selama ini Oliver Ravegan yang kukenal sudah lama bersinggungan denganku, terutama keluargaku. Akan tetapi aku tidak menyadarinya sejak awal jika dia adalah orang yang sama. "Kenapa dia tadi ke sini, bu?" Aku menahan napas saat mendengar jawaban dari ibu.
"Dia datang menjenguk ibu dan juga ingin bertemu denganmu." Ibu menjelaskan sambil meneliti reaksiku sedemikian rupa. "Dia pria yang baik, Ra. Dia pasti mampu menjagamu," lanjutnya.
Wajahku memerah karena malu dengan lontaran ibu. Aku langsung memalingkan muka menghadap ke arah lain. Sedangkan ibu yang melihat hal tersebut langsung tersenyum kecil menyadari perubahanku.
"Ibu..." ucapku menatap ibu kesal.
"Baiklah, Ra. Tapi ibu serius soal Oliver. Dia benar-benar bisa menghargai orang lain bahkan dengan orang yang lebih tua."
"Orang lain juga bisa melakukan itu, ibu." Aku memegang tangan ibu yang terdapat infus.
"Baiklah-baiklah, ibu tidak akan memaksa." Ibu tersenyum tipis walaupun sedang menahan rasa sakit akibat digerogoti oleh penyakitnya.
Aku mengusap-usap tangan ibu yang juga menggegam erat tanganku. "Ibu bertahan ya? Ra sekarang sudah di sini. Jadi ibu tidak akan kesulitan mencari lagi," ucapku sambil mencium punggung tangan ibu yang mulai bergetar.
Sejak itu aku memutuskan untuk mengikhlaskan semua masa lalu yang terjadi pada keluargaku. Tidak peduli jika kisah lama terlanjur rumit dan merugikan banyak pihak. Akan tetapi, benang merah yang melilit harus segera diatasi agar tidak terjadi lagi masalah yang serupa. Meskipun di masa lalu ibu memiliki memori kelam, tidak ada salahnya untuk memperbaiki di masa depan. Memperbaiki yang sudah ada saat ini menjadi lebih baik lagi. Itulah yang dinamakan keluarga sejati, datang dari hati nurani dan ikatan emosional.
Setelah mengobrol dengan ibu sampai sore hingga ketiduran, aku segera menuju ke bawah untuk menemui yang lainnya. Pasti ayah masih menungguku selesai dengan ibu. Begitu juga dengan Alaric, dia pasti juga menungguku sejak tadi. Aku berpamitan kepada ibu untuk menuju ke bawah. Menutup pintu pelan agar tidak mengganggu ketenangan ibu, dan aku segera menuruni tangga menuju lantai bawah.
Mataku mengerjap beberapa detik saat melihat orang yang tadi aku sebutkan sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka sepertinya terlibat percakapan yang serius. Aku sudah menduga sebelumnya. Aku bersitatap dengan Alaric yang hanya menatapku sekilas. Setelah itu dia lanjut berbicara dengan ayahku. Aku tidak berani mendekat karena mungkin akan mengganggu pembicaraan mereka.
Tanpa diduga sebelumnya, Oliver berada di sampingku yang sedang menatap pembicaraan kedua orang tersebut. Dia masih menenteng jas kerjanya, seolah enggan meletakkannya walau sebentar saja. Aku menatapnya heran, kenapa juga dia masih di sini. Padahal jika sudah bertemu dengan ibuku dia bisa langsung pergi dan tidak perlu menungguku lebih lama lagi.
"Kau masih di sini?" tanyaku kepadanya yang berdiri tepat di sampingku.
Dia menatapku datar, "Tentu saja," jawabnya singkat.
"Kenapa?" tanyaku memastikan.
"Menunggumu selesai." Kemudian dia menarikku keluar dari dalam rumah. Bahkan dia tidak memedulikan tatapan heran Alaric yang menatap kami lewat begitu saja. Aku tahu Alaric hendak mencegah Oliver, tetapi tertahan dengan ayah yang masih berbicara serius dengannya.
"Kau ini kenapa, sih?" tanyaku melepaskan cekalan tangannya saat sudah di luar rumah.
"Ada ayah dan ibuku di rumah." Dia mengenakan jas kerjanya dan bersiap-siap seperti hendak pergi. Aku memerhatikannya sedemikian rupa, hingga dia menyadarinya.
"Oh, kau mau pulang. Baiklah, selamat tinggal," ucapku memutuskan pembicaraan kami.
Tanpa diduga sebelumnya, dia menarikku ke mobilnya. Aku yang terkejut hendak menendangnya sampai terjungkal. Akan tetapi melihat wajahnya yang serius membuatku mengurungkan niat untuk melakukan hal memalukan tersebut. Sebaliknya, aku menunggu dia mengatakan hal lain setelah tindakannya beberapa saat yang lalu.
"Aku membutuhkanmu untuk berpura-pura lagi." Dia mengatakan hal ini tanpa ekspresi yang jelas. Bahkan jika ada hal lucu, kurasa dia akan tetap memasang wajah datarnya itu di depanku. Ternyata alasannya bertindak tidak jelas adalah hal ini. Aku juga belum pernah bertemu ayah dan ibunya.
"Oh, baiklah. Hanya bertemu mereka, kan?" tanyaku menatapnya santai. Entah apakah ucapanku membuatnya terkejut, tetapi aku melihat perubahan ekspresi yang hanya sesaat darinya. Kemudian dia mengangguk singkat. "Tapi antarkan aku pulang ke apartemenku setelah selesai dari sana," lanjutku yang masuk ke dalam mobilnya.
Selama perjalanan kami hanya diam. Suara radio memenuhi indera pendengaranku. Dia fokus menyetir sambil memakai kaca mata hitamnya itu. Bahkan menatapku saja tidak. Aku menatap keluar jendela, mencoba mengalihkan pikiranku darinya.
"Jadi sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Julia?" tanyaku memecah keheningan.
Dari sudut mataku, aku melihatnya menoleh sekilas kepadaku hingga kembali fokus menatap ke depan lagi. "Aku tidak menjalin hubungan dengannya," jawabnya datar.
Aku beralih fokus menatapnya, tidak percaya dengan yang keluar dari mulutnya. "Tapi waktu itu Julia ke rumahmu sambil membawa kotak hadiah?" tanyaku lagi.
Mobil berhenti karena lampu merah. Dia melepas kaca matanya dan beralih menatapku serius. Jantungku rasanya mau loncat keluar mendapatkan tatapan mautnya. Aku tidak biasa mendapatkan tatapan mengintimidasi seperti ini sebelumnya. Jadi wajar saja jantungku rasanya mau loncat ke lambung.
"My only girlfriend is you."
Serius, saat ini aku hanya ingin menghilang dari hadapannya. Bahkan menatap matanya aku tidak mampu. Kenapa juga aku menerima tawaran mautnya. Bukan, tapi lebih termasuk paksaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth
Fantasy[sequel The Kingdom Of Destiny] The Kingdom Of Destiny2: Hiraeth Rainazela Rosaline adalah seorang pemilik kafe bernama Rose Cafe. Ia punya orang tua yang masih lengkap dan kakak laki-laki yang sangat dingin padanya. Sebelumnya, ia selalu bersikap s...
