Melegakan setelah keluar dari tempat itu. Tidak bisa dibayangkan jika aku terus berada di sana dan tidak diperbolehkan pulang. Untung saja, Artha menelponku tepat pada waktunya. Jadi aku ada alasan untuk pulang, meskipun bukan pulang ke rumah.
Aku segera membersihkan diri sebelum tidur. Lalu lanjut memberi makan Hazel yang sudah mengeong sejak aku masuk apartemen. Cukup lelah setelah berdebat dengan Artha maupun Oliver. Jadi waktunya untuk memejamkan mata dan tidur sambil menunggu pagi.
Aku berbaring di ranjang dan mulai menutup mata. Merasakan kakiku ada hewan berbulu yang ingin ikut tidur. Aku tersenyum dan membiarkannya sibuk sendiri. Tanpa sadar jika aku sudah terlelap ke alam mimpi.
Ah mimpi ini lagi.
Mimpi yang sama berulang kali.
Aku melihat tanganku sendiri yang seperti hologram. Lalu di depan sana, aku melihat orang yang sama seperti aku. Entahlah, seperti kloningan, hampir filtur wajahku semuanya mirip dengannya.
Namun, aku tidak bisa menggerakkan kakiku untuk ke depan sana. Seolah aku memang untuk melihat saja apa yang akan dilakukan aku yang lain di sana. Kami sama-sama diam di tempat. Ruangan ini, juga terlihat kosong dan berdebu. Seperti rumah pada umumnya, tetapi banyak barang-barang aneh. Seperti bukan pada zamannya.
Kloninganku di depan sana masih menangis dan akhirnya menghilang digantikan debu yang mengepul tinggi. Lalu di sampingnya ada sesosok yang tidak aku ketahui wajahnya seperti apa. Pasalnya sosok ini selalu ada setelah kloninganku pergi. Sosok itu berlutut setelah debu dari kloninganku menghilang.
Aku masih berada di tempat, menyaksikan semuanya. Lalu muncul sebuah pedang dengan cahaya yang membungkusnya. Pedang itu berada tepat di depan sesosok hitam itu. Setelah itu, semuanya kabur, menghilang.
Tiba-tiba saja kloninganku muncul kembali. Namun, dia berada di depan wajahku. Masih tersisa air mata yang belum sempat kering di wajahnya. Aku hendak mundur, tetapi tidak bisa. Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?
Kemudian dia menepuk bahuku membawaku ke suatu tempat seperti sebelum-sebelumnya. Astaga. Aku harus menyaksikan lagi. Menyebalkan sekali mendapat mimpi ini berulang kali. Bergerak sedikit saja tidak mampu.
Seorang wanita, yang sialnya mirip aku lagi. Tengah berjalan membawa tumpukan dokumen. Dia terlihat terburu-buru dan tidak sengaja menjatuhkan dokumennya. Tepat saat dia mengambilnya, sebuah kendaraan menabraknya. Hingga kejadian itu menewaskan sang korban dengan luka parah. Aku menatap itu tanpa berkedip. Ini mimpi di dalam mimpi. Bagaimana bisa wajah mereka mirip denganku?
Lalu semuanya tinggal kabut hitam melingkupi sekitar. Kemudian aku melihat kloninganku yang lain terbaring kaku di ranjang. Namun, ada seorang pria di depanku, dengan bahu bergetar. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena posisiku berada di belakangnya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan sampai menangis seperti itu di samping kloninganku.
Tapi, ini mimpi baru. Pria itu, aku tidak tahu siapa dia. Ini scene baru yang belum ada sebelumnya. Lalu semuanya buram, menyisakan kabut tipis, dan ragaku terasa seperti di tarik dari alam mimpi.
Aku terbangun tepat tengah malam. Hazel berada di samping kakiku, tertidur pulas dengan dengkurannya. Aku segera bangkit dari tidur terlentang, dan meminum air yang ada di meja nakas.
"Mimpi menyebalkan. Dengar, siapapun yang membuatku memimpikan hal itu, aku harap kau tidak bisa makan enak!" ucapku menggebu-gebu.
Aku segera turun dari ranjang, dan mengambil jaketku. Lalu keluar dari apartemen pada waktu tengah malam. Seperti biasa, aku melewati setiap pintu dan menaiki lift. Memencet tombol dan akhirnya lift tertutup. Menunggu seorang diri di lift, hingga lift terbuka menampakkan seorang remaja yang mengenakan hoddie hitam terlihat terkejut saat melihatku.
"Kak Rain?" ucapnya sambil mengucek matanya.
Aku keluar dari lift dan menatapnya heran. "Kau kenapa keluar tengah malam begini?" tanyaku pada Rion.
Rion mengangkat barang belanjaannya. "Aku membeli makanan ringan." ucapnya.
"Kakakmu bisa marah kalau sampai tahu kau keluar tengah malam." ucapku.
"Kak Liver tidak akan marah." ucap Rion sambil tertawa kecil.
"Kalau begitu, aku laporkan kepada kakakmu!" ucapku mengancam sambil mengelurkan ponselku dari saku jaket.
Rion mengangkat bahu. "Silahkan saja."
Aku menekan nomor Oliver yang sempat dia berikan padaku sebelumnya. Menunggunya mengangkat sambil menatap tajam ke arah Rion. Terdengar suara panggilan yang di angkat di teleponku.
"Hmm? Ada apa Julia?" ucap Oliver di seberang telepon. Suaranya serak, seperti orang yang terganggu tidurnya. Aku membulatkan mata terkejut dengan kelakukanku sendiri.
Oliver angkat bicara lagi. "Kau berniat datang lagi sekarang? Besok pagi saja, malam ini tidak bisa."
"Ini aku..." ucapku pelan. Seketika panggilan telepon itu hening. Entah apa yang Oliver pikirkan setelah mendengar suaraku.
"Rain? Apakah ada masalah?" tanyanya setelah beberapa saat.
Aku tersenyum kecil. "Tidak ada, maaf mengganggu tidurmu." ucapku segera mematikan telepon dengan wajah merah padam.
Aku beralih menatap Rion yang sedang duduk sambil memakanan makanannya. Dia menatapku sambil nyengir lebar. Seolah rencanaku memang berakhir gagal.
"Baiklah, hari ini kau lolos dari kakakmu," ucapku galak, "Tapi kau tidak bisa lolos dariku begitu saja!" lanjutku.
Rion menyodorkan makanannya kepadaku. Aku menerimanya, dan duduk di sebelahnya sambil menatap depan. Lorong apartemen ini sepi saat tengah malam.
"Bagaimana? Kak Liver pasti sudah tidur." ucapnya santai.
"Diam!" aku menunjuk wajahnya.
"Kak Rain, jangan pernah putus dengan Kak Liver, ya?" ucapnya pelan.
Aku langsung tersedak makanan ringan. Rion segera membuka minuman kaleng dan menyerahkannya padaku. Lalu aku langsung meminumnya dengan tergesa-gesa.
"Maaf kak. Tapi aku berharap kalau kalian tetap bersama sampai seterusnya." lanjutnya.
Aku membuang minuman kaleng ke tempat sampah. "Kau ini bicara apa?"
"Kak Rain pacar Kak Liver. Jadi aku mengharapkan hubungan kalian tetap baik kedepannya." ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya.
Aku tertawa. "Terserah kau saja, Rion..."
"Tapi aku serius, kak. Jangan mencari laki-laki lain. Cukup Kak Liver saja, ya? Kak Liver sudah memenuhi standar kualitas menantu ibu Kak Rain, kok!" ucapnya mulai aneh.
Aku menepuk dahiku. "Kau sudah tidak terkondisikan. Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan istirahat." ucapku menariknya untuk kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth
Fantasy[sequel The Kingdom Of Destiny] The Kingdom Of Destiny2: Hiraeth Rainazela Rosaline adalah seorang pemilik kafe bernama Rose Cafe. Ia punya orang tua yang masih lengkap dan kakak laki-laki yang sangat dingin padanya. Sebelumnya, ia selalu bersikap s...
