Aku sampai di Rose Cafe yang penuh dengan kerumunan orang. Mereka melihat kafeku yang terbakar si jago merah. Terlihat pemadam kebakaran berhasil memadamkan api yang membakar seisi kafe. Tidak tersisa lagi isi bangunan itu. Hanya ada puing-puing yang hangus terbakar. Di sisi jalan, aku melihat Deren yang sedang di tangani ahli medis. Tangannya terkena luka bakar. Di sampingnya aku melihat Ellie yang menangis menatap keadaan Deren. Rasanya aku sulit bergerak. Bahkan untuk menemui mereka aku tidak mampu. Seolah aku tidak bisa melakukan apapun selain memandang kafe yang sudah hangus terbakar.
"Rain! Akhirnya kau datang juga!" ucap Ryan sambil membantu Lyn berjalan. Rupanya kaki Lyn sedikit memar dan sekarang sudah ditangani.
"Rain, soal kafemu..." lanjutnya pelan.
"Kalian tidak ada yang terluka parah, kan?" tanyaku.
Mereka berdua menggeleng. Syukurlah. Setidaknya orang-orangku selamat. Tidak perlu khawatir berlebihan. Mereka semua selamat. Mereka benar-benar selamat dan masih di sini.
"Tapi Devila di bawa ke rumah sakit dekat sini karena banyak menghirup asap berlebihan." jelas Lyn.
"Aku akan menemuinya nanti. Istirahatkan diri kalian, kalau ada memar atau luka bisa langsung bilang ke tenaga medis." ujarku sebagai perintah yang harus mereka turuti. Mereka mengangguk mengerti.
Aku segera menanyakan kronologi kepada orang-orang yang ada di sana. Ada polisi juga yang meminta keterangan padaku. Aku menjelaskan semuanya dari awal aku mendapat telepon dari Ryan sampai aku berada di sini. Setelah mengecek kondisi kafe yang terbakar hangus aku segera beranjak dari sana. Kebakaran ini masih dalam tahap penyelidikan polisi. Masih dalam tahap praduga kalau ada yang sengaja membakar kafeku. Tapi belum ada bukti konkret yang membuktikan praduga itu.
Kakiku berjalan menuju rumah sakit terdekat, tempat Devila di rawat. Aku menanyakan kepada resepsionis ruangan Devila. Dia mengecek pasien atas nama Devila. Butuh waktu lama untuk menemukan namanya. Akan tetapi, setelah menunggu cukup lama nama Devila tidak ditemukan di catatan pasien rumah sakit. Aku mengernyitkan bingung, bukankah tadi Ryan bilang Devila di rawat di rumah sakit?
"Mungkin saja pasien bernama Devila langsung pergi setelah diobati. Jadi namanya belum terinput di sistem." ucap resepsionis tersebut sambil melihat nama-nama pasien di komputernya.
"Oh, baiklah. Terima kasih sudah membantu." aku berterima kasih kepada resepsionis yang telah membantu mengecekkan nama pasien. Resepsionis itu berkata kalau bisa saja Devila langsung pergi dari rumah sakit dan tidak ingin mengobati dirinya. Makanya namanya belum terinput di rumah sakit tersebut.
Aku keluar dari rumah sakit dan menatap dari kejauhan asap yang mengepul tipis. Di sana, tempat kafeku sudah terbakar habis. Tidak ada kafe yang biasanya menjadi tempat keduaku pulang setelah apartemenku. Semuanya sudah hangus terbakar, termasuk barang-barangku yang ada di sana. Meskipun barangku tidak terlalu penting, tapi kenangan di kafe itu yang sulit dilupakan.
Tanpa sadar air mataku jatuh di pipiku. Aku mendongakkan wajahku ke atas, mencoba menahan air mata lainnya yang akan jatuh tanpa aba-aba. Setidaknya untuk saat ini jangan memperlihatkan kerapuhan. Aku segera mengusap air mataku dan mencoba menenangkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Lemah sekali kau, Rain. Ini hanya masalah kecil, kau sudah biasa menghadapinya sendirian..." ucapku kepada diriku sendiri, mencoba menguatkan diri.
Kakiku melangkah tanpa arah. Aku tidak tahu ke mana aku ingin pergi selanjutnya. Seperti hilang arah. Namun, bukan sepenuhnya kehilangan. Ada sesuatu yang terasa berat dan membuatku ingin menghabisi siapapun yang berani menggangguku saat ini.
Tibalah aku di taman seorang diri. Aku duduk di kursi taman tersebut. Menatap anak-anak yang sedang bermain balon dengan tatapan kosong. Seolah duniaku hilang begitu saja. Tidak ada perasaan apapun saat ini. Hanya perasaan hampa, di ruang kosong tanpa ada apapun.
Aku menatap seorang anak yang senang sekali dibelikan balon oleh ibunya. Dia bermain seorang diri tetapi senang karena hadiah dari ibunya. Bahkan anak itu senang tertawa dan tawanya begitu lepas. Kapan terakhir kali aku merasakan hal itu? Sudah lama sekali aku tidak merasakan perasaan seperti itu lagi sejak masalah berlalu-lalang dalam hidupku.
"Kapan aku merasakan hal itu? Mungkin... sewaktu aku masih kecil?" monologku.
Meskipun aku sering mencoba semuanya sendiri, aku merasa bahwa aku juga butuh orang lain. Aku butuh sandaran yang bisa menguatkanku bahwa aku tidak sendirian. Untuk saat ini aku hanya mengharapkan hal itu. Tidak tahu apakah harapanku itu akan berakhir bagaimana nantinya. Setidaknya aku punya angan-angan kecil.
Memang benar, jangan terlalu menjadikan orang lain sandaran. Jika sandaran itu pergi, aku akan sendiri di sini. Tanpa ditemani, tanpa menemani. Hanya aku dan bayanganku saat ini yang setia. Lebih tepatnya, bayanganku juga ada saat ada cahaya saja. Saat aku berada di kegelapan, bayangan itu juga akan hilang. Digantikan dengan kegelapan yang amat pekat dan mencoba mengambil alih seluruh hidupku.
Aku menunduk dan menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku menangis dalam diam. Selama beberapa saat aku hanya menangis dan akhirnya membuka penutup wajahku karena merasakan seseorang berada di hadapanku.
Aku melihat sepatu mengkilap yang pastinya sering dibersihkan. Lalu pandanganku langsung naik dan bersitatap dengan Oliver. Dia menatapku datar, tapi ada tatapan lain di balik tatapan itu.
Di tangannya ada tali tipis yang mengarah ke balon yang berbentuk hati. Aku menatapnya dalam diam. Entah apa yang ingin dia lakukan kali ini.
"Kurasa kau juga butuh balon." ucapnya memberikan balon itu ke tanganku. Aku menerimanya sambil tersenyum tipis. Dia memang aneh, tiba-tiba datang dan membawakan balon. Pemikirannya tidak bisa aku tebak sama sekali.
"Aku bukan anak kecil yang butuh balon." ucapku lalu tersenyum tipis.
"Tapi kau sekarang membutuhkannya." ujarnya lalu duduk di sampingku.
Aku memegangnya dengan kencang, agar balon itu tidak terbang. Lalu, aku melihat balon itu yang sesekali di terpa oleh angin. Setidaknya masih ada yang peduli dengan kesejahteraanku.
"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanyaku padanya yang sibuk memandangiku.
"Expecially? Of course i do, because you're my girlfriend."
"No, i don't talk about it. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau memilih berada di sini?" aku menatapnya menunggu jawaban.
Dia tersenyum tipis. "Because i know you in the point of sadness. Actually i'm here for you." jawabnya yang membuat jantungku serasa ingin jatuh ke lambung.
"You're jokingly..." ucapku menatapnya mengintimidasi.
Sedangkan dia tersenyum manis, sampai aku merasa dia adalah dua orang yang berbeda dari yang biasanya bersamaku. "Wanna hug?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth
Fantasi[sequel The Kingdom Of Destiny] The Kingdom Of Destiny2: Hiraeth Rainazela Rosaline adalah seorang pemilik kafe bernama Rose Cafe. Ia punya orang tua yang masih lengkap dan kakak laki-laki yang sangat dingin padanya. Sebelumnya, ia selalu bersikap s...
