Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di taman. Bersama seseorang yang tidak aku duga kehadirannya saat ini. Walaupun begitu, aku merasa aman berada di dekatnya. Entah sudah berapa lama aku menangis di pelukannya. Aku juga tidak tahu bagaimana reaksinya setelah aku menumpahkan semua air mataku di dadanya. Bahkan aku sempat mengusapkan ingusku di bajunya. Terlihat tidak sopan memang, tapi salahnya sendiri memberikan diri untuk di salahi.
"Sudah agak mendingan?" tanyanya mengusap punggungku dan sesekali menepuknya pelan.
"Ya, tapi aku tidak mau berterima kasih atas hal ini." aku menjauh dan mendorongnya dariku. Meskipun bergitu, wajahku terasa panas berada di dekatnya. Dia hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuanku.
"Sure, no problem." dia membenarkan jasnya yang semula berantakan karena ulahku.
"Aku tidak tahu kenapa kebahagiaanku selalu direnggut begitu saja. Sebenarnya apa salahku?" aku mulai berbicara tanpa sadar kepadanya.
"You're not wrong." jawabnya singkat.
Aku menatapnya sekilas. "Lalu kenapa semuanya hilang begitu saja? padahal aku sudah membangun kafe ini sejak lama." ujarku.
"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kau sama sekali tidak bersalah. Trust me." ucapnya menatapku serius.
"Meskipun kau bilang begitu, aku sudah tidak punya apapun lagi. Kafe itu sudah hancur lebur." aku membayangkan kafeku yang sudah menjadi abu. Kafe yang aku bangun dengan susah payah, lenyap dalam sekejap karena si jago merah. Kenangan yang ada di sana menghilang begitu saja.
Aku menatap ke depan, keramaian taman ini membuatku tetap merasa sendirian. Kesendirian itu membuatku berat sebelah, dan selalu menyalahkan diri sendiri atas hal yang telah terjadi. Semuanya seolah direnggut dengan mudah. Sampai aku tidak merasakan perasaan apapun lagi, selain perasaan kehilangan.
"Kau masih bisa membangunnya lagi." ujarnya menatapku serius.
Aku mengangguk singkat kepadanya. "Aku memang bisa membangunnya lagi, tapi kenangan di kafe itu..." mataku berkaca-kaca mengingat kenangan bersama teman-temanku di kafe itu. Awal aku memulai semuanya berada di sana. Kafe itu yang menjadi tempat semuanya bermula. Di mana aku menemukan orang-orang baru di hidupku, buka pertama kali, pelanggan pertama, dan menu-menu pertama yang ada di sana. Semuanya menyesakkan melihat kepulan asap yang melahap kafe tersebut.
"Dengar, teman-temanmu masih selamat. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu." dia memegang kedua bahuku dan dihadapkan ke arahnya.
"Tapi..." ucapanku terpotong karena dia menutup mulutku, menahanku agar tidak berbicara lagi.
"Apapun yang terjadi, kau bisa menanganinya. Masih ada orang-orang yang peduli padamu. Kau tidak sendirian, Raina." dia menatapku dengan tatapannya yang sedalam lautan itu.
Aku menarik diriku, merasa canggung berhadapan dengannya. Dia juga menyadarinya dan menatap ke arah lain. Aku tahu, dia tadi reflek mengatakan itu. Makanya dia juga terkejut dengan tindakannya. Apalagi aku yang menjadi sasarannya. Akan tetapi, detak jantungku semoga tidak terdengar. Aku menahan diri agar tidak berbicara. Beberapa saat kami saling diam menunggu salah satu berbicara.
"Mau makan sesuatu?" tanyanya. "Aku yang traktir." lanjutnya.
"Baiklah." aku mengangguk mengiyakan ajakannya yang lumayan menarik.
Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku memberikan balonku padanya. Tanpa aku duga dia tertawa geli, tapi tidak memberitahuku kenapa dia tertawa. Dia membawa balonku bersamanya. Kami berjalan bersisihan di sepanjang trotoar menuju ke sebuah restoran sederhana dekat taman tersebut. Gerimis mulai turun membasahi bumi.
Dia membukakan pintu untukku, dan aku masuk ke dalam yang disambut dengan bau daging yang dibakar. Ruangannya luas dan terasa nyaman. Aku berdiri di sebelahnya sambil melihat sekitar. Tidak banyak orang di sini, hanya beberapa saja yang bersantai menikmati restoran tersebut. Lantunan musik klasik melingkupi telingaku, menenangkan pikiranku yang sejak tadi berkecamuk.
"Kau mau pesan apa?" tanyanya menoleh ke arahku.
"Apa yang biasanya direkomendasikan di sini?" aku balas menatapnya, bingung mau pesan apa.
"Ramen di sini enak," ucapnya.
"Samakan saja." dia mengangguk dan menunjuk meja pojok ruangan restoran ini.
"Aku akan memesankannya untuk kita berdua." ucapnya dan langsung menuju meja kasir untuk memesan makanan.
Aku segera menuju meja yang dia arahkan. Menatap ke luar jendela yang mulai gerimis. Jalanan menjadi basah karena air hujan. Orang-orang berlarian menghindari basah karena hujan. Ada yang sudah membawa payung, ada yang berteduh di gedung sebelah daripada kehujanan.
Tiba-tiba air mataku meleleh lagi tanpa aba-aba. Aku segera mengusapnya menyadari jika Oliver kembali sambil membawa dua cangkir teh hangat. Dia sekilas menatapku. Kurasa dia menyadari jika aku baru saja menangis lagi.
"Ini teh hijau, bisa membuatmu sedikit tenang." ucapnya meletakkan cangkir itu di depanku dan kembali untuk mengambil makanan kami.
Aku menatap teh hijau itu. Kemudian aku memegang cangkir itu dan meniupnya pelan. Merasakan aroma teh hijau yang menenangkan sekali. Aku menyeruput sekilas dan merasakan kehangan yang ditimbulkan teh tersebut. Dia benar, aku merasa sedikit tenang.
Aku menatap punggung pria itu yang sedang mengobrol dengan kasir. Aku sering bertanya-tanya, kenapa dia bisa baik sekali padaku? Dia selalu ada saat aku membutuhkan bantuan ataupun dalam kesulitan. Seperti aku pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, meskipun benar begitu, aku juga tidak terlalu mempedulikan hal tersebut.
Dia kembali sambil membawa dua mangkuk berisi ramen yang masih hangat. Sebuah mangkuk dia letakkan di depanku dan mangkuk untuknya sendiri. Dia cekatan menyiapkan semuanya untukku. Aku menatapnya yang sangat cekatan. Kemudian dia duduk di depanku dan bersiap untuk memakan makanannya.
"Makan saja. Sudah aku bayar semuanya." ucapnya mulai menyendokkan ramen ke mulutnya.
"Kenapa?" tanyaku menatap matanya.
Dia menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa, apa?" tanyanya balik setelah menelan makanannya.
Aku melihat di sudut bibirnya terdapat noda dari ramen. "Kenapa kau peduli padaku?" tanyaku sambil mengulurkan tangan membersihkan sudut bibirnya.
Aku merasa dia agak menegang. Begitupun juga dengan aku. Bahkan aku tidak sadar jika sudah kelewatan seperti ini. Aku hendak menarik tanganku, tetapi dia menahannya. Dia meletakkan tanganku di pipinya yang hangat. Lalu dia memejamkan matanya menikmati tanganku di pipinya.
Jantungku rasanya mau jatuh ke tanah melihatnya seperti ini. Dia terlihat sangat berbeda dari yang biasanya aku lihat. Bahkan aku merasa dia saat ini seperti orang lain. Bukan seperti Oliver yang aku kenal. Dia mengusapkan tanganku beberapa kali dan mengecupnya pelan. Aku terbelalak kaget melihat tindakannya.
"Aku selalu peduli padamu, baik itu dulu ataupun sekarang." jawabnya menangkupkan kedua tanganku dengan tangan besarnya.
Aku masih terbelalak dengan tindakannya sampai otakku tidak bisa bekerja beberapa saat. Bahkan aku tidak bisa menghirup oksigen dengan benar.
"Kau..." aku tercekat.
"Remember me. I miss you so bad..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth
Fantasy[sequel The Kingdom Of Destiny] The Kingdom Of Destiny2: Hiraeth Rainazela Rosaline adalah seorang pemilik kafe bernama Rose Cafe. Ia punya orang tua yang masih lengkap dan kakak laki-laki yang sangat dingin padanya. Sebelumnya, ia selalu bersikap s...
