024

306 23 2
                                        

Aku melangkahkan kaki mengikuti Oliver menuju kediamannya. Bahkan aku baru sadar jika rumahnya memang sebesar itu dan penghuninya hanya dia dan pelayannya. Dia ini kelewat kaya sepertinya. Kenapa juga tidak membeli rumah kecil agar tidak kesulitan membersihkan rumah sebesar ini. Benar juga, dia kan kaya, tidak peduli uang yang dikeluarkan untuk membeli semuanya. Tanpa sadar jika aku menabrak punggungnya karena berhenti mendadak. Aku mengaduh pelan sambil mengusap dahiku, menatapnya kesal. Dia terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang aku tebak adalah pengawalnya. Aku melirik pin yang tertempel pada jasnya: Ein.

"Tuan dan Nyonya besar sudah sejak tadi menunggu kepulangan anda." Ein memberitahukan perihal ayah dan ibu Oliver. Aku menunggu mereka selesai berbicara.

"Tidak masalah, Ein. Aku akan mengurus mereka." Setelah Oliver mengatakan hal itu, Ein langsung undur diri. Oliver kembali berjalan hendak masuk ke dalam rumahnya.

Aku menarik jasnya. "Kau serius membiarkanku berpakaian seperti ini?" tanyaku padanya.

Dia melirik pakaian yang aku kenakan. "Apa yang salah dengan yang kau kenakan?"

"Aku terlihat seperti pemulung." kataku sambil membiarkan dia berpikir sesaat.

"Kau tidak terlihat seperti itu," ucapnya menepuk kepalaku pelan. "Kau cantik." lanjutnya.

Aku melebarkan mata terkejut mendengar ucapannya. Dia langsung menarik tangannya dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Mereka sudah menunggu kita," ucapnya berjalan meninggalkanku yang masih terkejut dengan ucapannya tadi.

"Tunggu," cicitku mencoba berjalan berdampingan dengannya. Aku menarik lengannya, sesaat dia terlihat terkejut dengan tindakanku. Akan tetepi, setelah itu kami berjalan bersama memasuki ruang tamu rumahnya.

Di sana aku melihat orang tuanya duduk di sofa sambil mengobrol satu sama lain. Aku berdiri kikuk di samping Oliver. Sejujurnya, aku tidak tahu harus berbuat apa. Maka, lebih baik aku menunggu arahannya saja. Aku melihat ayahnya yang masih berpakaian rapi mengenakan jasnya, terlihat sangat berwibawa. Pantas saja Oliver tampangnya seperti ini, ternyata menurun dari ayahnya. Seperti pinang dibelah dua. Sedangkan ibunya terlihat sangat anggun meskipun sudah berumur. Pakaiannya menandakan jika itu semua adalah barang mahal dan gajiku tidak akan cukup untuk membelinya. Akan tetapi, yang membuatku keringat dingin karena mereka menatap ke arahku yang berdiri di samping anak mereka.

"Kau membawa siapa, nak?" tanya ibunya menatap ke mataku. Mencoba menilai diriku yang mengenakan pakaian kumal, tidak cocok berada di rumah besar mereka.

"Dia Raina, kekasihku." jawab Oliver singkat.

Suasana kemudian langsung senyap. Aku merasa kehabisan oksigen di sini. Lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Seolah ada perang dingin di antara mereka. Ayahnya mendekati Oliver dan mengajak untuk berbicara, sedangkan aku ditinggal bersama ibunya. Awalnya Oliver tidak mau, tapi ayahnya meyakinkannya bahwa hanya bicara sebentar saja. Jadi, begitulah sampai aku berada berdua dengan ibunya. Tatapan itu seolah menusukku bak belati tajam yang tak kasat mata.

"Kau bisa memasak?" tanya ibu Oliver tiba-tiba.

Aku mengangguk ragu. "Bisa, tapi saya tidak yakin dengan rasanya." jawabku.

Ibu Oliver menatapku bingung. Kemudian dia mengajakku ke dapur rumah tersebut. Aku mengekor di belakangnya. Menatap setiap detail rumah ini. Seolah tersihir dengan aksitekturnya. Meskipun aku pernah ke sini, tapi rasanya tidak akan pernah bosan memandang desain arsitekturnya.

Sesampainya di dapur, ibu Oliver menyiapkan bahan-bahan mentah. Aku menatapnya bingung, apalagi yang akan dia lakukan? Apakah aku akan membantunya memasak atau ada hal lain?

"Kau bisa membuat masakan, bukan? Coba buat makanan yang kau bisa dengan bahan-bahan ini." ujarnya menunjuk bahan makanan mentah itu.

Aku melongo mendengar pernyataan ibu Oliver. Meskipun aku bisa sedikit memasak, tapi aku harus berpikir ekstra jika bahan yang disajikan hanya beberapa saja. Aku mengangguk mulai menyiapkan diriku untuk memasak. Setidaknya di kepalaku muncul satu masakan sederhana. Nasi goreng.

Aku mulai memasak, sedangkan ibu Oliver menatapku memasak. Sambil sesekali mengomentari kegiatanku yang salah langkah. Dia membenarkan caraku memotong, meracik bumbu, dan sebagainya. Beberapa menit berlalu hanya suara sepatula dan bau nasi goreng yang menguap di dapur. Akhirnya aku menyelesaikan masakanku dan menghidangkan di meja. Aku melihat Oliver kembali, tetapi hanya sendirian. Dia nampak terkejut karena aku yang menghidangkan nasi goreng di meja. Sedangkan ibunya sudah bersiap untuk mencicipi masakanku.

"Rain? Apa yang kau lakukan?" tanya Oliver heran, menarik kursi samping ibunya, "Mama menyuruh Rain memasak?" tanyanya kepada ibunya.

Ibu Oliver tidak menjawab, hanya menatap tampilan nasi goreng buatanku. Aku meneguk ludah merasa gugup. Seolah masakanku sedang dinilai.

"Kau boleh pergi," ucap Ibu Oliver menatapku dingin.

Aku menegang di tempat, "Eh? Tapi..."

"Rain ke sini bersamaku, Ma. Dia juga harus pulang bersamaku." ucap Oliver tajam.

"Mama ingin bicara denganmu, Oliver. Ini penting." ucap Ibunya.

Aku merasa bahwa posisiku tidak dibutuhkan lagi di sini. Maka aku pamot undur diri karena tidak ingin mengganggu waktu ibu dan anak tersebut. Oliver hendak mencegahku, tetapi ibunya lebih dulu menghentikannya. 

"Pikirkan kembali tawaran Fedrick mengenai putrinya. Akan lebih bagus jika kau menerima tawarannya." ucap ibu Oliver yang samar-samar aku dengar dari kejauhan.

"Sudah aku bilang berapa kali, kalau aku tidak tertarik, Ma?"

"Itu karena kau belum mencoba berkenalan secara langsung dengannya."

Aku meninggalkan mereka dan berjalan keluar dari rumah itu, tetapi aku berpapasan dengan Ein, asisten Oliver. Dia menatapku hormat, hendak berbicara denganku sepertinya. Aku menghentikan langkahku, menunggunya berbicara.

"Nona sudah mau berpulang?" tanyanya.

"Iya, terima kasih karena sudah menyambutku." aku menunduk singkat, berterima kasih dengan tulus.

"Perlu saya antar?" tawarnya.

Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak perlu, aku bisa mencari taksi atau bus saja." jawabku sopan.

"Tuan Oliver akan marah kalau saya tidak melaksanakan tugas dengan baik. Maka, biarkan saya mengantarkan nona pulang." ucapnya.

"Tidak perlu, aku baik-baik saja."

"Kalau begitu, izinkan saya mengantarkan nona ke depan untuk mencari taksi." ucapnya menunjukkan jalan tanpa menunggu jawabanku.

Meskipun begitu, aku tetap mengikutinya yang mencoba mencarikan taksi untukku pulang. Ternyata benar, dia menghadang taksi dan berbicara sebentar dengan supirnya. Aku menunggu dalam diam hingga dia selesai.

"Taksinya sudah siap, silahkan nona bisa pulang dengan aman." ucapnya mempersilahkan aku masuk.

"Terima kasih sekali lagi, Ein. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini." ucapku masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi penumpang belakang.

Ein mengangguk singkat, "Nona, bolehkah saya bertanya satu hal sebelum nona pergi?" tanya Ein.

"Tentu."

"Apakah... Tuan Artha baik-baik saja?"

Aku membulatkan mataku terkejut. Bagaimana dia tahu nama kakakku? Lebih tepatnya, bagaimana dia bisa tahu aku punya kakak?

"Ya, dia baik. Bagaimana kau bisa tahu nama kakakku?" tanyaku bingung sekaligus meminta kejelasan.

"Syukurlah. Baiklah hati-hati di jalan nona Raina." dia tidak menjawab pertanyaanku dan taksi langsung melaju meninggalkan kawasan rumah elit tersebut.

Aku menatap keluar kaca taksi yang aku tumpangi. Terlihat pemandangan pohon-pohon lebat dan banyaknya semak belukar. Tiba-tiba saja ponselku berdering, menandakan ada yang meneleponku. Aku melihat nama yang terpampang di sana, Ryan. Aku segera mengangkat panggilan telepon darinya. Tanpa aba-aba Ryan langsung mengatakan hal yang membuatku terguncang.

"RAIN! CAFENYA TERBAKAR! CEPATLAH KE SINI!"

HiraethTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang