Sekala Dan Harta pak Budi

556 28 0
                                    

"Kal, gimana kerjaan mu?" Tanya pria tua yang duduk di kursi tengah meja makan.

"Nggak gimana-gimana pa, masih aman." Jawabnya sambil terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya.

"Lusa ada acara?" Tanya pria itu lagi.

"Papa to the point aja deh, sebenarnya papa mau ngomong apa?" Sekala jelas tahu ada yang ingin ayahnya katakan ketika pria itu mulai berbicara di tengah-tengah kegiatan santapan mereka.

"Hahaha kamu udah hafal aja sama kode dari papa, jadi gini kal lusa kamu ikut papa ya ke Bandung. Papa mau ngasih lihat kamu sesuatu." ucap ayah dari Sekala.

"Ngapain pa? aku banyak kerjaan."

"Sebentar aja ya?"

"Iya deh gimana papa aja."

Senyum dari ayah Sekala terpatri jelas di wajahnya ketika anaknya menyetujui ajakannya, memang ada maksud tersendiri dari tujuannya mengajak Sekala berkunjung ke Bandung, semoga saja Sekala tidak berubah pikiran.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, Sekala dengan pakaian santainya sudah menunggu kedatangan ayahnya di ruang tengah, pagi-pagi sekali ketika ia akan bersiap menuju kantor, pesan singkat dari assistennya, Johan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, Sekala dengan pakaian santainya sudah menunggu kedatangan ayahnya di ruang tengah, pagi-pagi sekali ketika ia akan bersiap menuju kantor, pesan singkat dari assistennya, Johan. Menyadarkannya bahwa ia mau tak mau harus mengikuti keinginannya.

"Ayo kal!" ajak Budi, ayahnya.

"Kamu nggak usah bawa mobil ya, bareng aja sama papa. Nanti biar si Heri yang nyupir."

"Iya terserah papa aja."

Akhirnya Sekala dan Budi berangkat menuju Bandung, entah apa yang ingin ayahnya perlihatkan padanya, ia akan pasrah.

Setelah melakukan perjalan selama hampir 4 jam lamanya, tibalah mereka di sebuah rumah besar bernuansa serba putih, Sekala sudah tidak merasa aneh jika tiba-tiba saja ayahnya akan menunjukannya sebuah properti yang baru saja di belinya.

Sambil meregangkan tangannya ke atas karena kelelahan, Sekala pun mengikuti sang ayah menuju pintu besar rumah tersebut.

Sang penjaga rumah, mang Ujang sudah siap menyambut kedatangan mereka berdua.

Family For The ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang