Hari Tenang

189 22 0
                                    

Hari ini bisa di bilang sebagai hari tenang untuk warga penghuni rumah gedong Sekala, karena sejak pagi tadi tidak ada kejadian aneh yang mereka dengar atau mereka lihat, setidaknya belum. 

Setelah kedatangan Abell -- anak Johan -- rumah ini penuh dengan teriakan gemas dari para penghuninya, tentu saja di mulai dengan keposesifan Johan terhadap Abell. Abell tidak boleh dekat dengan Dika yang berisik, tidak boleh dekat degan Miko yang ceroboh, tidak boleh dekat dengan Sapta si sumbu pendek yang mudah meledak, tapi ijinkan dekat dengan Dito yang menurut Johan masih sama-sama kecil, dan Vincent yang tak banyak bicara.

Maka dari itu, selepas Abell selesai meyelesaikan sarapannya, barulah aksi dari merebut hati Abell di mulai oleh anak-anak penghuni rumah gedong Sekala.

Johan yang sudah siap dengan cemilan manis dan susu coklat di depan tv, bersama dengan Abell, Dito dan Vincent, mereka bertiga menggeleng pasrah melihat yang lainnya.

"Abell cantik ... kak Dika bawain mainan princess-princessan mau tidak? kak Dika punya yang satu set sama bajunya lho ... " bujuk Dika sembari memperlihatkan goddie bag yang ada di tangannya.

Abell si anak kecil manis itu, langsung saja menatap Dika dengan mata yang berbinar berharap hadiah tersebut segera beralih ke tangannya.

Tapi sebelum menghampiri Dika, Abell dengan pintarnya memeluk Johan sembari bergelayut manja di tangan Johan. "Papa boleh nggak aku maen sama kakak itu?"

Dika yang menunggu jawaban Johan, cemas jika Johan masih saja posesif tentang Abell.

"Boleh sayang, tapi mainnya di sini aja ya? jangan kemana-mana ok?" jawab Johan sembari melirik sinis menatap Dika, sedangkan yang di tatap sinis hanya tersenyum senang.

"Makasih papa, Abell sayang sama papa." setelah itu Abell menghampiri Dika, duduk beralaskan karpet meninggalkan Johan yang duduk dengan tangan yang mengusap dadanya sendiri.

'El ... anak lo udah sayang sama gue nih~' teriaknya dalam hati. 

Dito yang duduk di samping Johan, melihat dengan jelas bagaimana Johan sangat sayang dengan Abell. Perasaan haru pun menyelimutinya kali ini.

Mungkin ini adalah harapannya untuk masa yang akan datang, ia berharap jika ia mendapatkan pasangan kelak, ia akan bertanggung jawab seperti Sekala, setulus Johan menyayangi Abell dan selembut Joshua ketika berbicara dengan anak-anak. Setidaknya tiga orang tertua di rumah ini sudah bisa ia jadikan contoh untuk menjadi manusia yang baik. Dan dari kehidupannya selama ini, tinggal bersama dengan dua belas orang yang ada di sini, adalah hal yang sangat ia syukuri setiap harinya. 

"Kenapa ngelamun?" Vincent yang duduk di sebelah Dito menepuk bahunya perlahan.

"Nggak papa bang, lagi mensyukuri sesuatu aja." jawab Dito sembari tersenyum.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Family For The ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang