Para Penyewa kamar Yang Aneh

239 19 1
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Arggg kepala gue pusing banget anjir!" Joshua menggerutu di hadapan kedua temannya, Sekala dan Johan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Arggg kepala gue pusing banget anjir!" Joshua menggerutu di hadapan kedua temannya, Sekala dan Johan. Sejak pagi tadi Dm twitternya penuh dengan manusia-manusia yang mau menyewa salah satu kamar di rumah Sekala.

"Udah gue bilang jangan sok-sokan ikhlas nerima DM dari penyewa kamar, malah gas aja. Keteter kan lo, kayak pengangguran aja deh." Johan sudah muak dengan gerutuan Joshua sejak pagi tadi, tapi ketika Joshua kembali menggerutu ia tidak segan-segan mengeomelinya lagi, kali ini Sekala cukup angkat tangan dengan mereka berdua.

"Eh Jos, kan untuk 10 orang tercepat aja kan? kenapa nggak lo ambil dari Dm terbawah aja dah." perkataan Sekala menarik perhatian Joshua dan Johan, seperti mendapatkan sebuah wangsit, Joshua langsung mengechek kembali twitter untuk menentukan siapa manusia terpilih yang bisa menemaninya di rumah Sekala yang besar itu.

"Punya sepupu goblok di retur aja bisa nggak sih?" ucap Johan menatap sinis ke arah Joshua. Sekala dan Joshua sudah malas menanggapi ucapan sumpah serapah Johan yang biasa mereka dengan sehari-hari, seperti sekarang keduanya memilih kembali mengabaikannya lagi.

"Wahhh Kal, ada anak sekolah mau ikut nyewa nih, gimana?" tanya Joshua ketika membaca kegiatan sehari-hari dari para calon penyewa kamar.

"klo SD jangan di terima!"

"Ya kali anak SD Kal, ehh kabur apa ya dia?" tanya Johan ikut penasaran.

"Bentar gue tanyain dulu." Johsua kembali sibuk membalas pesan, membuat Johan dan Sekala sedikit penasaran dengan para calon penyewa kamar.

"Ehhh buset!" seru Joshua ketika pesannya sudah terbalas. "Dia selama ini tinggal di panti asuhan si anak sekolah ini, nggak tahu kenapa tiba-tiba mutusin buat pindah, hmmm gue jadi sedih deh~" raut wajah Joshua berubah sendu ketika mengetahui latar belakang kehidupan salah satu calon penyewa kamar.

"Gimana Kal?" tanya Johan pada Kala, sejujurnya hatinya merasa iba dengan anak-anak yang tidak seberuntung dirinya.

"Boleh aja, oya untuk bayaran sewa kamar jangan di patok Jos semampunya mereka aja, lagipula niat awal kita kan bukan untuk meraup keuntungan dari fasilitas kamar kan, anggap aja cari orang yang bisa bikin suasana rumah nggak sepi."

Family For The ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang