Setelah kabar tentang masuknya Dito ke rumah sakit, satu persatu penghuni rumah Sekala sudah beringsut masuk ke dalam kamarnya masing-masing, mereka sudah sedikit tenang ketika mendengar bahwa Dito sudah baik-baik saja.
Saat ini yang tersisa di ruang tengah hanya Wisnu, Zidan dan Bintang, mereka terbuai oleh lamunan mereka masing-masing, menciptakan keheningan diantara mereka bertiga. Wisnu menghembuskan nafasnya kasar, membuat Zidan dan Bintang menoelh ke arah Wisnu dengan cemas.
"Masih sering di ganggu lo Nu?" Bintang hanya menebak apa yang terjadi pada Wisnu belakangan ini ada hubungannya dengan kamera di dalam boneka, tapi yang lebih mengejutkan adalah anggukan kepala dari Wisnu membuat Bintang dan Zidan saling menatap dengan raut wajah yang khawatir.
"Gue ngerasa akhir-akhir ini ada orang yang selalu ngikutin gue mulu, dari mulai berangkat dari rumah, di area kampus, perjalanan pulang, bahkan klo gue lagi di cafe bareng sama temen-temen juga ngerasa ada yang terus ngikutin, gue nggak tahu dia cewek apa cowok, tapi beneran ngerasa creepy banget gue akhir-akhir ini"
Zidan dan Bintang di buat ikut bergidig mendengar cerita Wisnu, " Nu kita perlu bilang sama parang orang tua deh kayaknya~" ucap Zidan kemudian.
"Orang tua siapa?" tanya Bintang heran sembari menatap Zidan.
"Orang tua tuh, bang Kala, bang Johan sama kak Jo bukan?" tanya Wisnu memastikan.
Zidan mengangguk dengan pasti, membuat Bintang tidak menyangka bahwa orang tua yang maksud Zidan adalah 3 tetua di rumah ini. "Sialan gue kira siapa!"
"Tapi jangan bilang sekarang~ semua pasti lagi khawatirin Dito karena lagi sakit kan, nanti aja klo udah tenang suasananya." pinta Wisnu pada Bintang dan Zidan.
Tak lama setelah mereka berbincang-bincang membicarakan banyak hal, pintu utama terbuka menampilkan Johan, Joshua dan juga Ajun yang baru tiba di rumah. Ajun tanpa banyak bicara segera masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Johan dan Joshua yang berjalan menghampiri Wisnu, Zidan dan Bintang.
"Mahesa nggak ikut pulang kak?" tanya Zidan pada Joshua yang duduk di sampingnya, Joshua hanya menggeleng perlahan kemudian bersandar pada bahu Zidan.
"Numpang ya Dan bentar, kepala gue agak pening dikit." ucapnya.
"Jo tidur kamar aja lo, males gue klo sampe lo sakit!" Johan dengan segera menarik perlahan lengan Joshua, sedangkan yang di tarik hanya menurut saja pada sepupunya, ia akan malas jika Johan sampai mengomel malam-malam.
"Udah ah gue ngantuk, besok gue kerja pagi~" ucap Bintang sembari meregangkan tangannya ke atas, meninggalkan Zidan dan Wisnu yang sepertinya masih enggan meninggalkan sofa ruang tengah.
"Dan ~" panggil Wisnu, Zidan hanya berdehem lirih sembari melihat pesan pada layar ponselnya. "Perasaan gue nggak enak banget kenapa ya?" Wisnu mengusap dadanya perlahan, mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Ada kaitannya sama lo yang di ikutin akhir-akhir ini?" Wisnu mengangguk dengan cepat. "Saran dari gue, lo kemana-mana jangan sampe sendirian Nu, takutnya orang itu ada niat jahat sama lo."
"Iya Dan, dari kemarin juga klo nggak ada kepentingan apapun gue mending balik aja."
"Semoga aja nggak ada apa-apa ya Nu."
"Iya Dan semoga aja~"
.
.
Suara tangisan membangunkan Mahesa yang baru saja terpejam beberapa menit yang lalu, membuatnya bangkit dari sofa sembari mencari sumber suara tangis tersebut, ia menatap Sekala yang tertidur di sofa lain, tenang dengan dengkuran halusnya, kemudian melihat Dito yang berada di ranjang pasien, tubuhnya yang terbalut selimut tampak bergetar perlahan menahan tangis.

KAMU SEDANG MEMBACA
Family For The Reason
General FictionLOCAL STORY This story is about sincerity, togetherness, love, and care within a family that was accidentally formed. If you don't like this story, you can find another story on this account Warning !! *All of this is fiction *Tidak untuk di bawa k...