Jaemin keluar dari ruang kerjanya menuju lift di lantai itu, dia baru akan pulang saat bulan perlihatkan eksistensi. Sekarang tepat pukul 10. Sepi, hanya ada beberapa karyawan yang ikut lembur hari ini.
Lalu ketika tubuhnya sampai tujuan, tombol lift ditekan, menunggu kotak persegi panjang itu berhenti di hadapan setelah mengangkut penumpang di lantai atas. Jaemin menunggu sebentar, hingga matanya tangkap sosok yang sudah lebih dulu berada di dalam sana begitu pintu lift terbuka. Oh~~, rupanya si papa lembur juga.
Mendadak hawa kecanggungan menyisip di sela-sela angin di sekitar mereka, terlebih setelah keributan yang tadi pagi tercipta. Sungguh, romannya lebih terasa kurang nyaman sekarang. Namun Jaemin tetap ambil langkah maju, masuk ke dalam ruang elevator. Tangannya lantas tekan tombol dengan tujuan turun ke basement, lalu pintu lift tertutup kemudian.
Ada udara yang jadi jarak, ada canggung yang jadi sekat.
Seharusnya tidak begini. Sedarah, tapi seolah tak saling kenal.
Siwon diam, pun Jaemin sama. Anak itu jelas tak mau keluarkan energi cuma-cuma hanya untuk buka suara duluan. Anggap dia anak durhaka, tetap tak akan mempan.
"Tolong jangan menyiksa Haechan." Satu kalimat akhirnya mengudara, mengisi ruang kosong di sekitar mereka. Berhasil masuk dalam telinga lawan bicara tanpa hambatan, sukses undang tolehan wajah dari si tampan. Tapi hanya sebentar, karena si tunggal kembali tatap pantulan dirinya di depan sana.
Dan Siwon tak mau ambil pusing akan tingkah anaknya yang terkesan tak ingin peduli. "Kamu boleh gak dengerin papa, tapi tolong inget mama kamu. Dia gak ngajarin kamu buat jadi orang jahat, Jaemin." Karena sejatinya, Jaemin pasti dengar apa yang dia utarakan.
Atau setidaknya, Jaemin kembali ingat ucapan sang ibu di detik-detik terakhirnya waktu itu.
"Jangan bawa-bawa orang yang udah nggak ada." Ketus Jaemin. Sesungguhnya, dia tak suka akan sang papa yang menyebut sosok itu.
Keinginannya sekarang hanya ingin sampai lantai tujuan. Bukan untuk mendengar sepatah dua patah kata dari pria di sampingnya. Jaemin tak butuh tuturan nasehat atau apapun itu dari sang ayah. Tapi anehnya, dari lantai 11 menuju basement jadi terasa lebih lama, dan sialnya hanya ada mereka berdua sepanjang elevator itu turun membawa penumpang.
"Papa tau kamu masih begitu sayang sama mama kamu, jadi tolong ingat pesan beliau sebagai bentuk dan bukti kalo kamu benar sayang sama mama." Sang papa masih tak mau berhenti bicara. Mengundang desah napas Jaemin yang malas mendengarkan.
"Nggak, aku nggak inget."
Bukan, Jaemin bukan membenci sang mama. Melainkan dia yang masih belum berpindah tempat dari duka 13 tahun silam. Susah payah dia melupakan, tapi sang ayah seolah sengaja. Menggunakan Mama menjadi senjata untuk luluhkan hatinya.
Kenyataannya memang benar. Siwon sengaja. Hanya dengan begitu dia bisa menahan Jaemin agar tidak bertindak lebih jauh. Untuk cegah rencana buruk Jaemin --yang entah itu apa,-- pada si manis yang sekarang ditawan di rumahnya.
"Jaem," Sejenak Siwon menoleh, hanya untuk dapati raut tanpa ekspresi dari sang anak.
"--Haechan anak baik. Terserah mau kamu tahan selama apapun di sana, tapi tolong, jangan berlaku kejam."
"...."
"Seenggaknya, tetap jadi anak baik buat mama kamu. Karena kamu juga pasti tau, kalo mama gak pernah benar-benar ninggalin kamu, dan selalu merhatiin apa yang anak kesayangannya lakuin. Jangan kecewain beliau meskipun dia udah nggak ada di dunia."
Tepat setelah itu, pintu lift terbuka. Selesai mengantar mereka sampai pada basement di mana kendaraan keduanya terparkir di sana. Lantas tanpa pamit yang terucap, ayah dan anak itu berpencar. Siwon masih sempatkan balik badan, perhatikan punggung belakang si tunggal kesayangan. Ada miris di sana. Ketika yang seharusnya mereka bisa pulang bersama, namun kenyataan tak sesuai yang 'seharusnya'. Ayah dan anak itu menuju kendaraan masing-masing, berjalan berlawanan arah.
KAMU SEDANG MEMBACA
When the day comes | NAHYUCK (ON HOLD)
FanfictionAnd he became the obsessed one. bxb
