Bandung, 1 Desember 2007
(04.00 WIB)
Tok tok tok
Ketukan di pintu itu membuat Marka terbangun dari tidurnya. Marka akhirnya duduk di ranjangnya, menggosok mata nya sebentar dan mengambil kacamata kesayangannya itu yang memang biasa ditaruh disamping ranjangnya.
Marka membiarkan kacamata kesayangannya itu bertengger di hidungnya. Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya. Marka dan langkah gontainya itu perlahan berjalan jauh dari ranjangnya, bergerak mendekat ke pintu untuk membuka nya.
Saat sudah sampai di depan pintu, Marka perlahan memutar kenop pintu itu searah dengan jarum jam. Menarik kenop pintu itu dan menampakkan seorang suster yang memang biasa mengetok pintu mereka di pagi hari.
"Ada apa sus?" tanya Marka dengan suara serak nya di pagi hari khas bangun tidur.
"Teman temannya tolong dibangunin ya dek, jam 05.00 nanti tolong buat Marka sama teman teman nanti buat ke lapangan tepat waktu. Soalnya kita ada agenda untuk jalan sehat bersama," jelas suster itu panjang lebar agar Marka mengerti. (Suster itu mengira bahwa Marka itu seperti pasien lainnya, alias gila akut.)
Marka hanya mengangguk mengerti pada suster itu, lalu hanya mengucap terima kasih pada suster itu lalu menutup pintu perlahan. Berjalan menjauh dari pintu dan mengarahkan dirinya sendiri ke kamar mandi lalu menggosok gigi dan mencuci wajahnya.
Setelah Marka selesai dengan kegiatan pagi nya, ia membuka pintu kamar mandi itu perlahan dan mendapati Raden yang sudah tak ada di ranjangnya. Ternyata Raden sedang menjelajahi sketchbook miliknya sendiri, dan sesekali tertawa karena ia pernah menggambar Haikal yang tak sengaja terpeleset di depan umum.
"Den? Udah bangun aja," ucap Marka membuka pembicaraan dengan Raden yang membelakanginya.
Raden lantas langsung menutup buku sketsa nya perlahan dan membalikkan badannya mengarah ke Marka.
"Kan gua kalau bangun selalu tepat waktu."
Marka hanya tertawa kecil karena perkataan Raden dan melepas kacamata nya karena kacamatanya tadi tak sengaja jatuh di lantai kamar mandi yang basah.
Marka lalu berjalan mendekat ke meja di depan Raden dan mencari kain khusus untuk membersihkan kacamata nya itu.
Tapi, Marka sama sekali tak menemukan pembersih kacamata nya itu. Padahal Marka selalu menaruhnya di atas meja, dan setiap pagi pembersih kacamata Marka itu akan selalu terbaring di atas meja.
"Den, lo ada liat pembersih kacamata gue gak? Perasaan kemarin gua ngeletakin disini deh," tanya Marka pada Raden yang sedang merapikan ranjangnya dan Marka.
Raden hanya menaikkan bahunya tanda ia tak tahu keberadaan pembersih kacamata Marka itu.
"Lo yakin kemarin ditaruh disitu?" tanya Raden balik pada Marka.
"Iya Den! Sebelum gue tidur pembersih itu gue lipat terus ditaruh di meja lu. Pas Cakra kebangun tengah malem itu gue juga masih ngeliat pembersih kacamata gue di meja lu kok."
"Kalau itu sih gue gatau. Dari kemarin aku juga sama sekali gak merhatiin itu sepeser pun."
"Yaudah, gini aja. Sementara, lu nge lap kacamata lu pakai yang lain aja. Misalnya pake baju lu atau apalah," sambung Raden lagi.
Marka hanya mengangguk mengerti dan segera membersihkan kacamata nya itu dengan baju nya sendiri.
Setelah selesai membersihkan kacamata nya sendiri, Marka baru saja teringat bahwa mereka harus berkumpul di lapangan pada jam 5 tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teriakan di Bandung
Mystery / Thriller"Kita bakal bertujuh terus, kan?" "Gue gatau pasti, tapi gue harap begitu." "Kita akan tetap 7, selalu lengkap."
