12

907 114 51
                                        

Lenyap.

Hilang.

Hampa.

Kosong?

Dahinya berkerut lebih kuat dari hari biasanya. Jingga berani jamin, tanda-tanda penuaan dini bisa lebih cepat datang kalau begini terus kondisinya.

Di ruang kelas yang tak lagi berpenghuni selain mereka berdua, Jingga bahkan bisa mendengar suara gemertak rahang Shani mengerat baris gigi secara berulang, diakhiri dengan suara desisan nyaring bak tanboy kun yang menghabiskan rujak serut level seratus dalam waktu kurang dari satu menit.

Kalau saja ada kata yang bisa mendeskripsikan Shani, mungkin jawabannya...


Kalut.


Bagaimana tidak? Sudah hampir seminggu beliau seperti kehilangan radar. Secuil informasi pun tak masuk daun telinganya. Kita bahkan sudah tidak perlu menjelaskan lagi apa dan siapa obyek yang dimaksud,

Dari sudut mata Jingga yang melirik ponsel Shani dengan tampilan sosial media Gre saja kita tak perlu lagi berkomentar apa-apa. Hari-hari gamon cuuuy!

"Aneh ga sih, Jing? Udah hampir semingguan ini dia ga keliatan atau kedengeran beritanya. Sekedar posting selfie atau repost-repost kayak biasanya pun nggak."

"Bukannya harusnya lo bersyukur? Bagus dong?" Jingga berusaha tak masuk ke dalam jebakan betmen Shani untuk yang kesekian kalinya. Sekali saja Jingga masuk perangkap, maka rentetan 'Lo inget ga sih?' Shani akan mulai tak tahu diri membuka lembar kenangan bersama si mantan hingga lupa status.

Seakan-akan Gre memang mantan terindah yang disesali ribuan kali. Seakan keputusan Shani malam itu adalah hal terbodoh sepanjang hidupnya di dunia.

"Iya ya?" Hampir saja mengawang, sudah dihempaskan lagi pada kenyataan. Jika logika dipakai, benang merahnya kembali ditarik ke belakang, maka rasa sakitnya perlahan pasti akan mulai timbul.

Ah, senang rasanya memiliki orang seperti Jingga yang tak ikut larut saat ia mulai dihinggapi rindu.

"Tapi, Jingga..."

"Iye, nanti gue cari tau lewat temennya yang sering nebeng itu. Inget! Gue cuma kasih info kabarnya doang, yang penting orangnya sehat wal'afiat, masih napas, masih idup normal. Udah cukup 'kan?"




*****



"Greeee cepetaaaan!"

"Bentar-bentar-bentar, ini tinggal kunci. Mana, yah? Kok kunci motor nggak ada? Aduh..."

Brak!

Bruk!

Brak!

Bruk!

"Coba cek tas kamu deh."

"Udah, Nin. Nggak ada..."

"Sekali lagi?"

"Udah tiga kali!"

"Ck!" Decakan kecil Anin membawanya kembali ke dalam kamar kos yang lima puluh persen isinya sudah kembali berantakan, menarik tas yang sudah menggantung di sebelah pundak Gracia kemudian mulai merogoh setiap celah satu per satu, "Ini? Kunci 'kan?"

"Wuiihhhh kereeeeeen! Bisa sulaaaaap!" Oke, ini kalau kalian mau tahu, mata Gracia benar-benar berbinar-binar sambil bertepuk tangan riuh seolah takjub.

"Nanti malem bantuin aku beresin lagi loh, kamarnya berantakan lagi!"

"Astagaaaa... Kok bisa berantakan gini sih? Siapa yang berantakin coba?"

PUTUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang