Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Huuuuuhhh..." Seiring dengan helaan napas kuat yang berbondong-bondong keluar dari tubuh, air mata yang tertahan itu pun lolos dari pelupuk. Perih hati yang dipendam sejak tadi sore seakan ikut mereda sejenak.
Telapak tangan yang mengepal di dadanya ditepuk-tepuk perlahan, matanya kuat-kuat terpejam, seolah ia sedang menenangkan dirinya sendiri dari semua kegaduhan yang sedang terjadi.
Pada intinya, Anin sudah mendengar semua ceritanya dari Sisca.
Itu sebabnya pesan-pesan dari Gracia tak kunjung dibalas. Itu sebabnya Anin betah menatap ponsel dengan latar chatnya bersama Gre meski puluhan kali telepon dan pesan masuk lain mengganggu.
Kepalanya terus memikirkan segala sesuatu yang bisa saja terjadi saat ini antara Gracia dan Shani.
Sedang apa mereka? Apa Shani memutuskan untuk pulang? Atau justru menginap?
Seandainya pulang, apakah Gracia menawarkan diri untuk mengantar? Apakah Shani memeluk Gracia seperti yang Anin lakukan di beberapa hari terakhir ini di atas motor? Apakah Gracia melontarkan candaan-candaan receh seperti yang dilakukan padanya? Apakah Gracia menarik lengan Shani untuk melingkari penuh perutnya yang gampang masuk angin itu? Apakah Shani membenarkan rambut poni Gre yang kerap kali selalu berantakan saat mengenakan helm? Kancing flannelnya yang bahkan tak selalu benar jika tak dibantu.
Lalu bagaimana kalau menginap? Apa yang mereka lakukan saat ini? Apa saja yang mereka bicarakan? Apa Gre sedang mati-matian meminta Shani untuk kembali? Apakah sekarang mereka sedang tidur di satu ruas yang sama? Apakah Gre memeluknya sehangat seperti saat Anin terjebak dalam panic attack di waktu-waktu tak terduga?
Atau... Astaga... Anin bahkan tak mau membayangkan sejauh itu.
Loh? Tapi tunggu sebentar. Lantas kalaupun terjadi sesuatu di antara mereka berdua,
Lalu apa?
Untuk marah dan melarang pun tak pantas rasanya. Sejak awal pun Anin sadar, bahwa di sini, orang yang membuat mereka tercerai berai, adalah dirinya sendiri.
"Hot chocolate, kesukaannya Gre kalo lagi main ke tempat gue. Minum dulu biar perasaan lo agak tenang dikit," Sisca kembali, dengan dua cangkir minuman yang berbeda di atas meja.
Sisca punya batasan waktu untuk menghentikan asupan gula. Maksimal jam delapan malam, sisanya hanya air putih atau teh hangat sebagai penenang usai seharian harus menghadapi manusia macam Gracia misalnya.
"Thanks."
Anin mengangguk sekenanya. Memasang peran kembali menjadi perempuan tegar meski dalamnya perang batin masih tak mau berdamai dengan isi kepala.
"Mantan lo masih hubungin?"
"Masih." Bahkan hingga detik ini, ponselnya tak dibiarkan redup.
Sudah dalam mode silent, namun tetap cukup bisa membuat Anin merasa terganggu. Jadi tak usah tanya sudah kali keberapa ia mengganti nomer ponsel, semakin menghindar, laki-laki itu selalu bisa menemukannya kembali dengan mudah.