Happy reading
and enjoy the story.
•
•
•
•
“terlalu bodoh mengharapkan cinta dari seseorang yang tidak tahu hatinya untuk siapa”
__________
Riuh di kelas perlahan meredup. Setelah bel pertanda jam istirahat berbunyi, para siswa-siswi berhamburan keluar kelas, bak burung-burung yang lepas dari sangkarnya, seolah takut jajanan di kantin akan dihabiskan oleh para manusia kelaparan.
Flora dan kedua sahabatnya juga kini berada di kantin yang terlihat sangat ramai. Setelah dirinya ditinggalkan oleh Marsha, hanya Olla dan Oniel yang masih setia bersamanya.
Olla adalah adik dari Ollan, sahabat Aldo. Sedangkan oniel merupakan sepupunya sendiri.
Olla yang baru saja duduk di kursi kantin langsung memusatkan perhatiannya pada flora yang tampak diam sejak mereka keluar kelas.
Olla menyangka, Zean lah penyebab diamnya gadis itu. Karena tadi pagi, Olla sempat melihat laki-laki itu berdiri di depan kelas mereka.
“Kenapa lagi, Lo?” tanya Olla seraya mengernyitkan keningnya, ia benci ketika melihat wajah murung Flora.
Flora yang sedari tadi menenggelamkan kepalanya di meja kantin, perlahan mengangkat kepalanya, menatap Olla yang masih setia menatap dirinya.
"Gue kenapa?" tanya Flora, terlihat biasa-biasa saja.
" Gue gak kenapa-napa," lanjutnya dengan suara pelan.
Olla mendengus, sampai kapanpun sahabat yang ada di depannya ini tak akan pernah dapat membohonginya.
Tiba-tiba saja, tatapan Flora tak sengaja menangkap sepasang kekasih yang berjalan masuk kedalam kantin. Gadis itu langsung membuang pandangannya ke arah lain, saat dirasa Zean juga sedang menatapnya. Berbeda dengan Olla yang menatap tajam sepasang kekasih itu, sampai keduanya benar-benar duduk di kursi kantin.
"La, jangan natap orang kayak gitu," tegur oniel, begitu melihat tatapan tajam Olla.
Tatapan Olla, seperti seseorang yang siap memakan dua manusia itu kapanpun.
Zean dan Marsha memilih duduk di meja yang bersebelahan dengan meja flora. Sepertinya mereka sengaja, hanya untuk memanas-manasi flora.
Olla kembali menatap Flora.
"Gara-gara dia," tunjuk Olla dengan mulutnya, pada sepasang kekasih yang duduk bersebelahan dengan meja mereka.
Flora menghela nafas pelan. Ia tahu, Olla tak akan berhenti bertanya sebelum dirinya menceritakan semuanya. Berbeda dengan oniel yang tak akan pernah bertanya tentang keadaannya, sebelum ia sendiri yang bercerita.
“Apa Sih, la. Gue baik-baik aja,” Flora memaksa kedua sudut bibirnya untuk tersenyum tipis, berusaha agar gadis itu percaya dengan ucapannya. Namun sepertinya tidak semudah itu.
“Gue gak suka Lo bohong,” kata Olla dengan suara dingin. Itu mampu membuat jantung flora ciut, ia takut dengan kemarahan Olla.
“Nih,” Flora memperlihatkan lukisan yang tadi pagi di kembalikan oleh Zean.
Lukisan itu sudah terlihat tak berbentuk. Bingkainya sudah ditanggalkan dan kertasnya sudah kelihatan remuk karena Flora menyimpannya di dalam saku rok nya.
Olla mengernyit. Awalnya ia merasa tak ada yang salah dengan lukisan itu, sebelum akhirnya ia sadar lukisan itu adalah lukisan paling berharga di hidup Flora.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
Novela JuvenilGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
