Gue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau.
Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati,"
Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Karena yang melepaskan secara paksa, belum benar-benar hilang rasa.” _Flora nesya safiqa.
“Om.” panggil Fabian begitu berdiri di hadapan Ferri.
Ferri menoleh. Wajahnya yang datar seketika berbinar begitu melihat Fabian yang selama ini ia harapkan kedatangannya kini berdiri di hadapannya. Setelah kakak kandung Ferri meninggal dunia, dua tahun yang lalu. Fabian seolah menganggap dirinya orang asing.
“Duduk Fabian,” pinta Ferri, namun Fabian hanya menatapnya datar.
“ Fabian gak mau basa basi,” ujar fabian masih setia berdiri di tempatnya.
"Stop ikut campur urusan Fabian,"
"Apalagi sampai ikut campur masalah kerjaan Fabian,"
" Om bukan siapa-siapa Fabian lagi.” tandas Fabian.
Ferri mendengus, sampai kapanpun ia tidak akan menyerah untuk meluluhkan hati keponakannya ini.
" kamu tau? Om cuma minta kamu kembali ke sekolah, tapi kamu terus nolak. Cuma ini jalan satu-satunya supaya kamu kembali sekolah," kata Ferri dengan suara datar, menghiraukan tatapan tajam keponakannya itu.
Kedua tangan Fabian mengepal kuat di sisi tubuhnya, urat-urat leher Fabian terlihat mengetat. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya pria paruh baya itu harapkan dari dirinya.
Hening seakan menyelimuti mereka. Kedua manusia berbeda usia itu hanya diam, membuat suasana semakin mencekam. Hingga akhirnya suara Ferri kembali terdengar di telinga Fabian.
“Om bakal berhenti ganggu kamu kalau kamu mau, sekolah.”
"Gak akan, pernah." balas Fabian dengan cepat.
Tangan Fabian naik, memasang kembali helm yang ia bawa ke dalam rumah. Kemudian berbalik meninggalkan pria paruh baya itu. Namun sebelum tangannya sempat bersentuhan dengan gagang pintu, suara sang paman membuat langkahnya terhenti.
"Om tau kamu lagi butuh uang, sekarang. Om janji bakal biayai hidup kamu seumur hidup, asal kamu mau sekolah lagi.”
Fabian benar-benar terdiam. Tak bisa dipungkiri ia sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Percuma juga ia bekerja jika ujung-ujungnya dipecat.
Fabian berbalik, mata teduhnya menatap dalam mata sang paman yang masih setia menatap dirinya.